hut

Kiat Stef Bogar dalam Menjadi Pengusaha Sukses di Maumere

JUMAT, 17 JUNI 2016

MAUMERE — Bagi warga kabupaten Sikka dan NTT, nama Stefanus Bogar tentu tak asing di telinga. Selama 60 tahun dirinya bergelut dengan bisnis hingga menempanya menjadi seorang pengusaha pribumi yang sukses.
Pria kelahiran kampung Kimang Buleng tahun 1936, memulai kiprahnya di dunia kewirausahaan sejak menamatkan pendidikannya di Seminari. Tahun 1960-an ketika dirinya melihat PNS di kampung Kabor setiap pagi membeli pisang goreng. Lelaki asal kampung Rotat kecamatan Nita ini pun memberanikan diri membuka warung menjual pisang goreng dan kopi.
“Saya saban pagi samapai malam menjual pisang goreng. Awal tahun 1970-an baru mulai membuka kios kecil di kompleks pasar tingkat Maumere sekarang ini,” sebutnya memulai cerita saat dijumpai Cendana News, Jumat (17/6/2016).
Saat  sistem pemerintahan Kerajaan Sikka beralih ke sistem swapraja, ia diminta untuk bekerja di bagian keimigrasian berkat keahlian berbahasa asing. Pak Stef yang disegani pengusaha di Sikka ini tertegun saat menerima gaji 300 rupiah per bulan.
Uang gaji ini diakui Stef jauh dari penghasilannya menjual pisang goreng dimana dalam sebualn dirinya bisa mengantongi uang 6 ribu rupiah. Hal ini yang kemudian membuatnya bertekad untuk fokus di dunia wirausaha hingga memiliki 12 buah kios di Pasar Tingkat Maumere.
“Saya selalu bersyukur karena terlahir dari keluarga miskin sehingga membuat saya untuk selalu bekerja keras mencapai kesuksesan .Saya membangun bisnis dengan tekun, sabar dan kerja keras,” ungkapnya seraya menerawang.
Berbekal ilmu yang didapat dan hasil tukar pikiran bersama salah seorang pebisnis keturunan Tionghoa di kota Maumere, pria 80 tahun ini mulai menyisihkan 20 persen keuntungan usahanya setiap bulan selama 20 tahun untuk dijadikan modal usaha nantinya.
Awal tahun 1980-an, ia memutuskan mengambil simpanannya dan membeli sebuah bangunan yang dilelang oleh BRI Maumere. Di atas tanah di jalan raja Centis ini, pak Stef kemudian mendirikan toko dua lantai yang diberi nama Bogadharma.
“Saya harus berjuang dan menjadikan usaha saya bisa seperti sekarang, berjuang dari hari ke hari dan tahun ke tahun kerja keras dan hidup sederhana,”katanya bersemangat.
Bogadharma Swalayan nama toko itu diambil dari kata Bogar dari marganya sementara Dharma artinya amal. Bila manusia bekerja keras tutur putra dari (Alm) Moang Ignatius Wisang dan Du’a Me’ang ini,Tuhan akan memberikan kita jalan.
Saingan adalah tantangan
Stef melihat masuknya pengusaha dari luar Sikka bukan sebagai penghalang namun tantangan. Dalam berdagang, yang namanya persaingan itu biasa dan sehat. Semuanya sebut ayah 4 anak ini tergantung pribadi, apakah bisa tahan atau tidak mengahdapi persaingan.
“Saya sendiri bukan mempunyai rencana dan ilmu, tapi Tuhan yang menuntun saya. Kita dilahirkan sebagai orang miskin dan kaya, saya lahir dari orang miskin sehingga saya harus bekerja keras dan hidup sederhana,” tuturnya sarat makna.
Kerja keras dimiliki masyarakat Sikka dan NTT namun namun budaya membuat masyarakat kita tidak bisa menabung. Bukannya masyarakat tidak mau menabung, uangnya ada tapi banyak dipakai untuk urusan adat dan budaya.
Sampai sekarang ini urusan adat dan budaya kata salah satu pendiri Kopdit Pintu Air ini, menyebakan masyarakat tidak bisa menabung sebab uang terpakai untuk urusan adat dan budaya.
“Namun semuanya berpulang kepada pribadi, apakah orang tersebut tahan atau tidak. Kalau sudah mulai membangun usaha, tekunlah,”sebutnya.
Opa Bogar berpendapat adat budaya itu baik, tetapi masyarakat harus kritis, membedakan sebuah kebiasaan. Ikatan kekeluargaan tidak berarti hidup bergantung terus dengan orang. Kalau mau keluar dari kemiskinan, harus lawan pola-pola hidup yang konsumtif itu,
Menularkan Ilmu
Stef juga tertarik dan terpanggil untuk mendidik dan membantu orang lain untuk nbisa sukses menjadi wirausahawan seperti dirinya. Apa yang  sudah diraihnya harus ditularkan kepada orang lain, masyarakat Sikka belum memiliki mental wirausahawan, untuk itu harus dibangun kehidupan ke arah sana.
“Kerja keras, hidup hemat, dan tidak lupa Tuhan, itu inti sebuah kesuksesan,” tukasnya.
Guna mengejahwantakan keinginan berbagi ilmu, Opa Bogar menjadikan setiap orang yang bekerja di swalayannya sebagai anak didik. Dirinya berusaha membagikan ilmunya dan memberi modal bagi mereka untuk mendirikan usaha mereka sendiri. Tidak sedikit dari orang-orang yang pernah bekerja bersama Opa Bogar kini hidup dengan usaha mereka sendiri.
“Sekolah berfungsi membangun potensi diri, jadi selesai sekolah harus berani buka lapangan kerja, jangan cari kerja,” lecutnya kepada anak-anaknya yang kini menjadi wirausaha.
Jangan sampai ilmu yang dimiliki akhirnya tidak terpakai karena tidak sesuai pekerjaan yang diperoleh. Cara jitu dalam membantu masyarakat untuk keluar dari realitas kemiskinan adalah memberdayakan mereka.
 “Jadi wirausahawan itu membuat kita lebih bebas dan tidak tergantung dari orang yang menyediakan lapangan kerja bagi kita,’ ucap Stef mengakhiri obrolan di teriknya Maumere.
[Ebed De Rosary]
Lihat juga...