Libur Sekolah, Anak-anak Manfaatkan Waktu Cari Kepah di Sungai Way Asahan

MINGGU, 19 JUNI 2016

LAMPUNG — Berbagai aktifitas anak anak di Desa Klaten, Desa Pasuruan dalam mengisi liburan sekolah. Tidak hanya menjalankan ibadah puasa selama bulan suci ramadhan tahun ini, mereka juga melakukan aktifitas di Sungai Way Asahan. Sungai besar yang sebagian dialirkan ke ledeng atau saluran aluran air di wilayah tersebut selain memberikan mata pencaharian tambahan bagi warga juga menjadi sumber lauk pauk bagi warga.
Sumber mata pencaharian yang masih ditekuni oleh warga diantaranya mencari pasir kali dengan menggunakan keranjang bambu dan mengumpulkannya di pinggir sungai untuk selanjutnya dijual sebagai bahan bangunan. Sungai tersebut juga masih memiliki sumber ikan sungai yang ditangkap warga menggunakan pancing, jaring, bubu dan berbagai jenis ikan diperoleh diantaranya wader, lele, emas serta nila. Sementara anak anak lebih menyukai memanfaatkan waktu di sepanjang saluran ledeng yang dibangun dengan semen dan memiliki kedalaman setinggi lutut. Aktifitas mencari kepah atau kerang dilakukan setelah tengah hari menjelang sore.
“Kami biasanya membawa wadah berupa plastik, ember serta irig terbuat dari bambu untuk mengayak pasir yang ada di dasar ledeng dan membawanya ke pinggir ledeng untuk dipilih kepah yang sudah bisa dimakan,”ungkap Sela bersama beberapa kawannya saat mencari kepah di ledeng sungai Way Asahan, Minggu (19/6/2016)
Proses pencarian kepah juga dilakukan anak anak tersebut disela-sela waktu mencuci sebagian peralatan rumah tangga serta pakaian yang belum tercuci. Setelah proses mencuci dan pakaian di jemur di pinggir sungai, mereka mulai berendam di sepanjang saluran ledeng untuk mencari kepah. Proses mencari kepah membutuhkan fisik yang kuat dan ketelitian karena harus memilih diantara pasir pasir dan batu sungai.
Sela dan kawan kawanya yangs udah akrab dengan aktifitas di sungai mulai dari mandi,mencuci, tidak mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan air karena proses pencarian kepah bisa memakan waktu berjam jam hingga menjelang sore. Proses pencarian kepah tersebut selain digunakan untuk dikonsumsi oleh keluarganya terkadang ada beberapa warga yang bersedia membeli kepah tersebut untuk dimasak dengan harga Rp5ribu hingga Rp10ribu satu plastik berukuran setengah kilogram.
Selain terkadang dijual, kepah tersebut diolah oleh anak anak tersebut dengan cara dimasak menggunakan bermacam bumbu rempah rempah yang biasanya digunakan untuk menu berbuka puasa. Proses memasak kepah menurut Sela biasanya dilakukan sehari setelah proses pencarian, sementara kepah yang baru dicari akan didiamkan terlebih dahulu di dalam ember yang akan didiamkan terlebih dahulu untuk proses pembersihan.
“Kami tidak dilarang mencari kepah asal segera pulang setelah mencari kepah lalu dikumpulkan di rumah, nanti kalau sudah dapat satu ember kami masak dan dimakan bersama kawan kawan di rumah,”ungkap Sela yang duduk di sekolah dasar kelas 5 tersebut.
Aktifitas mencari kepah menurut Sela dilakukan selama bulan ramadhan dan mengisi waktu liburan sekolah. Lokasi yang berada dekat dengan rumah dan ledeng yang tak terlalu dalam dengan arus yang sudah dibendung membuat ledeng tersebut menjadi sarana bermain anak anak tersebut selain digunakan sebagai tempat mencari kerang sungai. Selain mendapatkan kepah kepah seukuran ibu jari, terkadang anak anak tersebut membawa serokan kecil yang digunakan untuk mencari ikan dan udang yang masih banyak berada di lokasi tersebut.
Salah seorang warga di Desa Pasuruan, Ahmad (34) mengungkapkan proses pencarian kepah di ledeng sepanjang sekitar 6 kilometer dari bendungan Way Asahan bahkan biasanya dilakukan oleh sekitar puluhan orang. Puluhan pencari kepah tersebut biasanya datang dari wilayah desa lain yang menyukai mencatri kepah di ledeng tersebut. Selain lokasinya mudah dijangkau, ledeng tersebut berada di dekat sungai yang sebelumnya telah dipelihara ikan.
Ribuan bibit ikan berbagai jenis sebelumnya telah ditebar oleh instansi terkait agar masyarakat bisa melakukan proses pencarian ikan dengan cara cara tradisional diantaranya memancing, menjala. Mencari ikan menggunakan racun ikan yang mematikan serta meracuni sungai sudah dilarang dengan adanya peraturan desa dan dilarang. Akibatnya jumlah ikan yang masih bisa dipancing cukup berlimpah dan menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk mencari ikan dengan memancing terutama saat musim liburan sekolah dan selama ramadhan.
[Henk Widi]
Lihat juga...