Melihat Situs Kekejaman PKI di Monumen Kresek

SENIN, 20 JUNI 2016

Liputan Khusus — Monumen Kresek, yang berada di bagian timur Kota Madiun, merupakan salah satu situs yang menggambarkan bagaimana kekejaman PKI kepada para Kyai,  anggota TNI, Pamong Desa maupun Warga sipil. Di Monument ini bisa dijadikan salah satu lokasi wisata Kebangsaan, untuk mengingatkan kembali Peristiwa Madiun berdarah di awal-awal Kemerdekaan RI.

Di Monument Kresek yang berdiri di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, terdapat adegan bagaimana kejamnya Tokoh PKI, Muso memenggal kepala Kiai Zuber yang diabadikan melalui patung besar di bagian paling atas  Monumen. Jika menyusuri Monumen dari depan, di pintu masuk dihadapkan dengan relief lengkap dengan papan nama 17 korban keganasan PKI di Kresek. Di bawah Relief tersebut sebenarnya terdapat sumur yang dijadikan lokasi pembuangan  korban dari keganasan PKI, sedangkan gambar relief yang bertumpuk-tumpuk menggambarkan 17 korban yang diangkat dari sumur tersebut.
Adapun 17 daftar korban yang dibantai di Kresek ini  diantaranya Kolonel Marhadi, Letkol Wiyono, May Istiklah, R.M. Sardjono (Patih Madiun), Kyai Husen (Anggota DPRD Kabupaten Madiun), Mohamad (Pegawai Dinas Kesehatan), Abdul Rohman (Assisten Wedono Jiwan), Sosro Diprojdo (Staf PG Rejo Agung), Suharto (Guru Sekolah Pertama Madiun), Sapirin (Guru Sekolah Budi Utomo), Supardi (Wartawan Free Lance Madiun), Sukadi (Tokoh Masyarakat), K.H Sidiq, R. Charis Bagio (Wedono Kanigoro), K.H. Barokah Fachrudin (Ulama), Maidi Marto Disomo (Agen Polisi).
Monumen sejarah pemberontakan PKI pada awal kemerdekaan RI ini masih terawat dengan baik. Namun dari sejumlah penuturan warga sekitar, korban yang ada di Kresek ini tidak hanya 17 yang terdiri dari anggota TNI, Pamong Desa, Kyai, maupun warga biasa. Di luar dari yang diinformasikan Monument dan buku sejarah, masih banyak cerita warga yang menyakini jika korban di Kresek ini jauh lebih banyak. 
“Kalau menurut cerita Mbah saya, dulu pendopo itu tidak hanya satu, tetapi tiga. Di Pendopo itu tempat menyekap tawanan yang diculik PKI. Menurut cerita, sebenarnya tawanan yang ada di tiga pendopo itu akan dibunuh satu persatu, karena keburu diserbu tentara Siliwangi, akhirnya langsung diberondong dengan senapan semuanya,” ujar Ahmadi Bambang kepada Cendana News, Minggu (19/6/16).
Disebutkan Ahmadi, sejak dibangun pada 1990, Monument Kresek mulai banyak dikunjungi. Sejumlah relief dan patung yang ada di Monument tersebut juga menarik pengunjung karena menggambarkan bagaimana kejamnya PKI pada 1948. Menurutnya patung-patung yang ada di Monumen ini mempunyai informasi tersendiri. Seperti adanya patung anak-anak yang menggambarkan anak-anak korban PKI yang menuntut bela kepada pemerintah RI agar menumpas habis kegiatan PKI di Kota Madiun.
“Jadi Monumen Kresek merupakan kenangan pahit yang ditimbulkan keganasan PKI di Madiun. Ini yang tidak boleh dilupakan generasi bangsa dalam memperjuangkan Pancasilan dan Kesatuan Indonesia,” terang Ahmadi.
Disamping sebagai pengenalan sejarah kelam bangsa Indonesia diawal-awal kemerdekaan, Monumen Kresek ini sebagai pembelajaran anak sekolah untuk mengenang peristiwa Madiun Berdarah, yang saat ini juga dijadikan sebagai objek wisata edukatif serta nasionalis. Namun di sisi lain, adanya Monumen Keganasan PKI ini juga menjadi nilai miring yang menimpa warga Desa Kresek.
“Sebenarnya agak gimana juga, karena banyak yang menganggap Desa Kresek sebagai basisnya PKI, karena ada Monumen Kresek. Padahal itu tidak benar, Desa Kresek ini hanya dijadikan salah satu lokasi untuk pembantaian korban PKI. Semoga penilaian miring ini dapat diluruskan,” pungkasnya. (Harun Alrosid)
Lihat juga...