Menyalakan Padu dan Makna Menerangi Kampung

SABTU, 18 JUNI 2016

LARANTUKA — Komunitas adat Demon Pagong di tiga desa yakni Lewokluok, Blepanawa dan Bama kembali mendatangi Koke Bale (rumah adat) di Lewokluok, Sabtu (18/6/2016). Rangkaian ritual adat di Koke Bale kembali dilanjutkan sekitar pukul 06.00 WITA.
Ritual diawali dengan membawakan Maran (mantra adat) di rumah suku Kabelen. Setelah mantra pembukaan dilanjutkan dengan mantra Mani Moe, Demon Pagong, Raya Tuan, Ile Wokak, Ai Watan, Persatuan, Blepeknei atau perlindungan dan Lapit Loma.
Susudahnya para kepala suku beranjak ke Korke meminta penyerahan Tali Kora (tali untuk mengikat binatang saat disembelih) dari leluhur yang pertama kepada penerusnya .Usai ritual, semua kembali ke rumah suku masing–masing.
Suku Nedabang menggelar ritual Pau Suri Kada, memotong binatang pertama untuk memberi makan (memberi sesajen atau persembahan) kepada Namang (tempat ritual),Juga suku Kabelen memberi makan Tale Kora (Pau Tale Kora) dan suku Lein Mudapukang menggelar Pau Laba Dolu, memberi makan alat pertukangan yang pertama dipakai membuat Koke Bale.
Selain itu, suku Beribe memberi makan Bala (gading) sementara suku Goran memberi makan Sisir peninggalan leluhur. Pau Bala Lodan, rantai emas dan Bala (Gading ) yang merupakan warisan di rumah adat suku Lein tak luput diberi sesajen pula.
Sementara itu suku lainnya memberi makan gading dan benda pusaka peninggalan masing–masing suku.Usai itu, digelar  ritual memberi makan Damar ( Padu ), di rumah suku Lein.usai ritual semua suku bergerak dari rumah masing–masing menuju ke Korke.
Frans Keliwu Lein, salah seorang tokoh adat desa Lewokluok yang ditemui Cendana News, Sabtu (18/6/2016) mengatakan, ritaul adat memberi sesajen ini dilakaukan sebelum di hari kedua rangkaian ritual adat Koke Bale sebagai penghargaan kepada leluhur dan benda peninggalannya.
“Ritual ini sebagai bukti penghormatan dan penghargaan kepada para leluhur, pendahulu kita yang berjasa membangun kampung ini,” sebutnya.
Sesudah dilakukan pembacaan mantra adat di rumah ada suku Lein tetua adat bergegas ke rumah besar (rumah induk) suku Lein.Padu atau damar menyerupai obor dinyalakan. Nasi dan daging disediakan di meja di depan kepala suku Lein.
“Semua anak suku diperkenankan menyantap makanan ini walau sedikit saja setelah sebelumnya didoakan, ini bermakna berbagi rejeki dan lambang persaudaraan,” terang Frans.
Padu tersebut dihantar ke Koke Bale (rumah adat) yang terletak sekitar 10 meter arah utara rumah induk suku Lein. Di saat bersamaan, tetua adat suku Lein lainnya dan suku Kabelen keluar bersama dari dua rumah adat di sebelah timur.
Suku Kabelen membawa sebatang gading berukuran panjang sekitar 30 sentimeter dan diletakan di Namang, lokasi tanah dan sebongkah batu yang akan dipakai sebagai altar persembahan.
“Sebelum acara penyembelian hewan kurban,gading harus diletakan di tempat ini guna meminta restu leluhur sehingga ritual adat berjalan sukses. Gading juga simbol penghargaan kepada leluhur,” jelas Theodorus Lein, tetua adat suku Lein lainnya.
Suku Kabelen dan Lein sambung pensiunan guru ini berjalan bersamaan saat Padu tiba di Koke Bale, padu dibawa keliling Koke sebagai makna menerangi kampung. Sebelumnya, semua suku sudah berkumpul dan duduk di atas Koke.Kelapa muda Terlihat bebrapa ranting kelapa muda diletakan di atas Koke.
“Kelapa ini yang nantinya dibagikan kepada setiap warga suku dan wisatawan yang diyakini bisa membawa rejeki dan menolak bala,”pungkas Theodorus.
[Ebed De Rosary]
Lihat juga...