Ribuan Warga Hadiri Ritual Adat Koke Bale di Lewokluok

SABTU, 18 JUNI 2016

LARANTUKA — Ribuan warga asal kecamatan Demon Pagong baik yang berdiam di kabupaten Flores Timur maupun yang ada di seantero wilayah provinsi NTT  membanjiri desa Lewokluok guna mengahadiri ritual adat tahunan Koke Bale.
Rangkaian ritual adat sudah dimulai dari hari Jumat (17/6/2016) dengan menggelar ritual Tuhuk Klewo, pemasangan atap bubungan rumah adat (Koke atau Korke).Pada Sabtu (18/06/2016) dilanjutkan dengan menggelar ritual adat Belo Howok.
“Suku Kablen merangkul suku-suku lain untuk bersatu membangun Koke. Setahun sekali kami harus mengganti atap dan bubungannya,” jelas Linus Kabelen ketua Lembaga Masyarakat Adat Demon Pagong saat ditemui Cendana News, (Sabtu (18/6/2016).
Ditambahkan Linus, ritual adat koke Bale diadakan setahun sekali agar mengumpukan kembali semua masyarakat suku Demon Pagong dan untuk mewariskan kepada generasi muda sehingga ritual ini tidak punah.
Ketua Lembaga Pemangku Adat desa  Lewokluok ini  juga menambahkan ritual Belo Howok di hari kedua bermakna, kampung ini bernama Lewokluol, Lewo artinya kampung sementara Kluok artinya basi. Artinya daging yang disembelih akan dimasak esoknya dan biasanya sudah basi.
“Makna dari nama kampung Lewokluok juga bisa berarti makanan yang dimakan berkelebihan. Setiap makanan yang dikonsumsi disimpan juga untuk dimakan keesokan harinya,” terangnya.
Defiana guru SM3T di Flores Timur yang ditemui Cendana News di sele-sela ritual ini mengaku dberitahu teman guru dan kami juga coba mencari tahu dari internet. Ritual adat ini sebut alumni Universitas Negeri Jakarta ini sudah terkenal apalagi ini kan ciri khas daerah.
“Luar biasa Indonesia itu kaya adat dan budaya. Kehidupan budaya disini berbeda dengan yang ada di tempat kami di Jawa,kami seperti menemui hal baru,” sebut ibu guru di desa Lewolaga ini.
Hal senada juga disampaikan Ronald guru SM3T lainnya asal jakarta mengatakan mengikuti ritual adat di Flores merupakan pengalaman pertama. Kebudayaan di Indonesia harus dilestarikan dan ritual ini sebut guru di Tanjung Bunga tersebut sangat unik.
“Ini sebuah pengalaman berharga bagi kami untuk belajar mengenal adat dan budaya di wilayah lainnya di Indonesia dimana kebetulan kami ditempatkan sementara di tempat ini,” tutur Ronald.
[Ebed De Rosary]
Lihat juga...