Saksi Sejarah : 30 Korban Kebengisan PKI Diangkat dari Sumur Cigrok Madiun

SENIN, 20 JUNI 2016

Liputan Khusus — Jejak kebiadaban PKI pada 1948 yang membantai para Kyai dan Alim Ulama di Madiun dan Magetan masih banyak cerita pilu. Dari sekian banyak cerita dibalik korban 1948, ada beberapa jejak yang menjadi lokasi hingga saat ini masih bisa dijumpai. 

Muhammad Said
Monumen Cigrok, yang berada di Desa Cigrok, Kecamatan Takeran, Magetan, Jawa Timur, menjadi satu dari sekian banyak lokasi pembantaian terhadap para Kyai, santri dan warga sipil yang diabadikan menjadi Monumen.

“Ada sekitar 30 tengkorak yang diangkat dari sumur ini. Saya sendiri juga ikut membantu mengangkat korban yang disembelih PKI dan dimasukkan ke dalam sumur itu,” begitu pemaparan Muhammad Said, salah satu saksi sejarah keganasan PKI kepada Cendana News, Minggu siang (19/6/16). 

Diceritakan lebih lanjut, perlu dua hari untuk mengangkat korban yang dimasukkan dalam sumur Cigrok tersebut. Sebab, untuk bisa mengangkat para Kiai korban Kebengisan PKI karena dalamnya sumur tersebut harus digali dari jauh. Tak hanya itu, untuk mengakat tengkorak yang telah dibantai PKI ini harus menyingkirkan bongkahan batu-batu besar di atasnya. 
“Para Kyai korban pembantaian 1948 ini seperti Kyai Zuber dari Selopuro beserta anaknya Kyai Dawani, Camat Takeran, Upas Takeran dan masih banyak yang lainnya,” tuturnya. 
Menurut Said, pada saat pembongkaran sumur-sumur yang dijadikan tempat pembuangan para Kyai menjelang 1965, di Sumur Cigrok ditemukan 30 tengkorak yang masih utuh. Meski sempat ditimpa dengan batu-batu besar, tengkorak para korban PKI masih bisa dikenali. Seperti kondisi Upas (perangkat ditingkat kecamatan) Takeran, Kiyai Zuber dan anaknya. 
“Saya tau kalau itu kerangka Upas Sumingan karena sepatu warna putihnya masih utuh, sabuknya warna putih serta bolpain warna  kuning yang di saku dada juga masih utuh. Saya tau karna saat diculik Upas Takeran itu masih kondisi tugas,” ungkapnya. 
Di Magetan dan Madiun sendiri masih banyak jejak-jejak korban dari keganasan PKI. Seperti Monumen Suco, dan Monumen Kresek. Dengan adanya monumen sejarah PKI di Indonesia, generasi bangsa saat ini banyak belajar dengan sejarah. Apa yang tengah dicoba untuk memutarbalikkan sejarah, generasi bangsa ke depan diharapkan dapat lebih berhati-hati akan bahaya Komunis Gaya Baru. 
“Pesan yang ingin saya sampaikan, jangan sampai generasi bangsa lupa akan sejarah. Telah banyak korban, harta bahkan jiwa untuk mempertahankan NKRI. Penguatan akidah sangat penting agar generasi mendatang tidak muda terpecah belahkan oleh hal-hal yang tidak penting,” pungkasnya. (Harun Alrosid)
Lihat juga...