Meski Hanya 65 Hektar, Lahan Sawah di Kota Yogyakarta Mampu Beri Kontribusi Nasional

MINGGU, 31 JULI 2016

YOGYAKARTA — Seiring pesatnya pertumbuhan Kota Yogyakarta dengan pembangunan gedung, hotel, pertokoan dan pemukiman, keberadaan lahan sawah di Kota Budaya tersebut kian menyempit. Lahan sawah di Kota Yogyakarta kini hanya tersisa 65 Hektar tersebar di lima kecamatan. Namun demikian, komoditi pertanian khususnya padi di Kota Yogyakarta mampu memberi kontribusi besar bagi pertanian nasional.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pertanian Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi Dan Pertanian DI Yogyakarta, Benni Nurhantoro, di sela gelar syawalan dan temu tani Forum Petani Kota Yogyakarta bersama jajaran dan dinas terkait lainnya, yang dihadiri Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Hediati Soeharto, Sabtu (30/7/2016).
Benni menuturkan, sempitnya lahan padi di Kota Yogyakarta bukan berarti tak memiliki peran penting bagi pertanian di Indonesia. Diakuinya, dengan total luas lahan sawah padi yang hanya 65 Hektar, memang tidak bisa memberikan hasil panen padi berupa gabah kering panen yang melimpah. Namun, dengan hasil panen padi yang diperuntukan bagi pemenuhan kebutuhan benih padi, hasil panen padi dari lahan yang hanya seluas 65 Hektar tersebut mampu memberi kontribusi yang besar bagi daerah lain di luar Kota Yogyakarta dan bahkan nasional. 
“Dengan membuatnya sebagai benih itulah, lahan sawah padi di Kota Yogyakarta yang sempit ini tetap bisa berkontribusi besar”, ungkapnya.
Dengan tingkat produktifitas padi sebesar 6 Ton Per Hektar yang diperuntukkan bagi pemenuhan benih padi, lanjut Benni, maka Kota Yogyakarta mengalami surplus benih padi. Pasalnya, dari 1 Hektar lahan itu hanya membutuhkan 25 Kilogram benih. 
“Selain itu, dengan menjadikan hasil panen padi sebagai benih, nilai jualnya juga menjadi lebih tinggi”, jelasnya.
Tetapi di sisi lain, sempitnya lahan sawah di Kota Yogyakarta juga menjadi permasalahan tersendiri bagi para petani. Di antaranya sulitnya mendapatkan berbagai bantuan baik berupa alat mesin pertanian (alsintan), maupun bantuan lain. Sejumlah petani mengaku pengajuan bantuan yang diajukannya sering tak dipercaya, hanya karena kelompok taninya berada di kawasan perkotaan. Kecuali itu, juga minimnya tenaga pendamping sehingga para petani kesulitan mengembangkan hasil pertaniannya.
Menanggapi berbagai keluhan para petani di Kota Yogyakarta, Titiek Soeharto menjelaskan, jika memang ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh petani untuk bisa mengakses berbagai bantuan pertanian. Dicontohkan, bantuan alat mesin pertanian berupa traktor roda dua sebanyak 50 Unit itu juga diperuntukkan bagi petani sekabupaten. Juga beberapa persyaratan lain seperti keaktifan kegiatan kelompok tani dan luas lahan yang dikelola. Namun, melihat kontribusi pertanian di Kota Yogyakarta yang ternyata mampu memberi kontribusi besar di bidang pemenuhan kebutuhan bibit, Titiek Soeharto menyatakan, jika pihaknya akan mencarikan solusinya, karena mungkin saja permasalahan itu juga dialami oleh petani di kota-kota lain di Indonesia. (koko).
Lihat juga...