Rumpun Masih Andalan Nelayan Sumenep Menangkap Ikan

RABU, 26 OKTOBER 2016

SUMENEP — Kebanyakan nelayan di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, dalam melakukan penangkapan ikan masih menggunakan cara tradisional, salah satunya dengan menggunakan rumpun sebagai tempah singgah ikan. Dimana hal tersebut merupakan satu-satunya cara yang diandalkan sampai sekarang agar bisa mendapatkan ikan yang lebih banyak, sehingga nantinya saat pulang dari menangkap ikan dapat memperoleh hasil yang melimpah.
Selama ini rata-rata para nelayan yang melakukan penangkapan ikan di perairan daerah ujung timur Pulau Madura ini belum memiliki cara lain yang lebih untuk bisa menangkap ikan dengan volume banyak. Sehingga mereka masih tetap bertahan dengan cara tradisional yang sudah berjalan sejak turun temurun dari nenek moyang terdahulu.
“Kalau disini mayoritas nelayan yang melakukan penangkapan ikan masih mengandalkan rumpun atau yang disebut Onjem, karena dengan cara itu kami bisa mendapatkan ikan melimpah. Sebab sampai sekarang masih belum ada cara lain untuk beralih selain menggunakan rumpun,” kata Molyadi (35), salah seorang nelayan di Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep, Rabu  (26/10/2016).
Disebutkan, bahwa dengan menggunakan rumpun bukanlah hal mudah, selain membutuhkan biaya yang lumayan besar, tempat persinggahan ikan itu juga membutuhkan perawatan agar ikan tidak mudah pindah ke rumpun milik nelayan lain. Karena jika dibiarkan begitu saja rumput terbuat dari janur kelapa akan semakin berkurang, akibatnya ikan yang singgah merasa tidak kerasan.
“Walaupun ada rumpun terkadang nelayan belum menghasilkan tangkapan ikan yang melimpah, apalagi rumpun tersebut tidak lagi dirawat oleh pemiliknya, makanya jangan harap ada ikan yang singgah di rumpun tersebut. Jadi sesekali rumpun yang ada itu dikontrol agar dapat dipastikan dalam kondisi utuh, supaya ikan yang singgah tetap merasa nyaman,” jelasnya.
Menggunakan rumpun rupanya belum sepenuhnya mempengaruhi terhadap hasil tangkapan ikan yang mereka peroleh, karena terkadang alat tangkap ikan atau jaring yang dilepas ke rumpun milikinya tidak berhasil memperoleh ikan sama sekali. Sehingga mereka harus pulang dengan tanpa membawa satupun ikan dari hasil melaut yang sudah menginap selama satu hingga dua malam di tengah laut.
“Apabila sedang tidak beruntung, meski sudah ada rumpun kami tidak mendapatkan ikan sama sekali. Padahal pada saat melepas jaring ke rumpun terlihat kerumunan ikan, tetapi ketika jaring diangkat ternyata tidak ada ikan sama sekali,” paparnya.
Bagi nelayan yang ada di daerah ini masih belum bisa beralih ke cara yang lebih modern, sebab selain belum memiliki pengetahuan mengnai alat-alat modern, mereka juga merasa kesulitan soal biaya. Karena selama ini hasil tangkapan yang diperoleh belum menjanjikan, sehingga terkadang tidak sesuai modal yang dikeluarkan dengan hasil tangkapan ikan yang diperolehnya.
“Kita kalau sekali berangkat biayanya sekitar Rp. 1.000.000, itu untuk keperluan keseluruhan dari yang dibutuhkan saat berada ditengah laut, seperti solar, beras, air minum dan lain-lain. Namun ketika sedang tidak beruntung, kami mendapatkan ikan sama sekali, jadi itu jelas rugi. Bayangkan kalau sampai lima kali tidak mendapatkan ikan, bisa Rp. 5.000.000 kerugian yang harus kami tanggung,” terangnya.
Pihaknya berharap pemerintah segera memberikan solusi bagi nelayan yang masih menggunakan cara tradisional ini, sehingga ke depan mereka bisa melakukan penangkapan yang lebih modern dan mendapatkan hasil menjanjikan.

Jurnalis:  M. Fahrul / Editor : Irvan Sjafari / Foto : M. Fahrul 

Lihat juga...