Tari Periuk, Pesan Sejarah Berbalut Emansipasi Modern

JUMAT, 21 OKTOBER 2016

JAKARTA — Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI bekerjasama dengan Pro Fajar Eksibit Internasional mengadakan perhelatan bertajuk ” Pekan Produk Budaya Indonesia 2016 (PPBI 2016) ” dengan mengangkat tema ; ” Yang Mandiri, Yang Berbudaya “. Acara diadakan 19 hingga 23 Oktober 2016 bertempat di Parkir selatan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Persiapan Penari terdepan sebelum tim tari tradisional SMAN 92 Jakarta utara menaiki panggung

Salah satu bagian dari perhelatan tingkat nasional tersebut adalah acara ” Unjuk Rasa Kesenian Tradisional ” dengan mengambil bentuk Kompetisi Nasional Tari Tradisional Tingkat SMA dan SMK Tahun 2016. Dan salah satu sekolah yang berpartisipasi dalam kompetisi ini adalah SMA Negeri 92 (SMAN 92) Semper Barat, Jakarta Utara.

Dalam ajang Kompetisi Nasional Tari Tradisional Tingkat SMA dan SMK 2016 ini SMAN 92 Jakarta Utara membawakan sebuah tari kreasi yang berjudul Tari Periuk. Sebelum membahas makna dan pesan yang tersimpan dibalik tarian ini maka terlebih dahulu harus mengetahui apa yang melatarbelakangi terciptanya Tari Periuk.
Sejak dahulu kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara adalah sebuah Pelabuhan prasejarah sejak jaman penyebaran agama Hindu di nusantara. Lalu pemerintah kolonial Belanda benar-benar mengembangkan kawasan ini menjadi pelabuhan laut komersil yang cukup besar demi kepentingan perdagangan dan kolonialisme Belanda di Indonesia sejak abad ke-18.
Kata Tanjung priok itu sendiri berasal dari kata ‘tanjung’ yang artinya daratan yang menjorok ke laut serta kata ‘periuk’ yakni sebuah panci masak tanah liat milik masyarakat lokal dan menjadi salah satu komoditas perdagangan di zaman prasejarah.

Salah satu aksi tim tari tradisional SMAN 92 Jakarta utara dalam Tari Periuk

Untuk menceritakan sejarah nama Tanjung Priok itulah maka pada tahun 2013, seorang Guru Seni Tari di SMAN 92 bernama Pemila Sari Meilani menciptakan sebuah tari kreasi betawi dengan judul Tari Periuk. Bukan itu saja, namun ternyata Tari Periuk juga coba menceritakan keadaan sebenarnya dari para wanita penduduk asli kawasan tersebut di jaman dahulu. 
Kaum wanita Tanjung Priok jaman dahulu turut digambarkan bukan hanya sebatas pandai memasak sambil menunggu jodoh untuk dinikahi akan tetapi mereka juga membekali diri dengan ilmu olah kanuragan atau Pencak silat untuk menjaga diri mereka masing-masing.
” Itulah sebabnya dalam tarian ini ada adegan pencak silat, namun intinya tarian ini adalah tari keakraban remaja dengan latar belakang kisah sejarah yang coba diungkapkan dalam bentuk gerak,” jelas Ayunda Putri, alumni SMAN 92 sekaligus pelatih Tari periuk kepada Cendana News di TMII.
Tarian ini dilakukan dalam durasi lebih kurang lima menit oleh sembilan orang penari dengan busana tradisional wanita Betawi. Jumlah penari dengan angka ganjil (sembilan) tidak memiliki arti akan tetapi memang sejak awal diciptakannya tarian ini sudah menggunakan sembilan penari wanita.
Makna dan pesan yang tersimpan didalam Tari Periuk adalah, bahwa keakraban harus selalu dijalin oleh siapapun di dunia ini. Keakraban dan persaudaraan dalam arti luas yang tidak mengenal perbedaan baik itu derajat sosial atau apapun. Dan pesan emansipasi juga menjadi hal penting dalam tarian ini.
Bahwa tidak selamanya wanita identik dengan kelemahlembutan dan terbatas hanya bisa melakukan kegiatan layaknya seorang wanita saja, namun lebih dari itu seorang wanita juga bisa melakukan hal lainnya walaupun hal itu adalah yang dilakukan seorang pria pada umumnya.

Kiri atas : Ayunda Putri, Pelatih Tari Tradisional SMAN 92 Jakarta utara;Kanan atas : Tim Tari Periuk dari SMAN 92 Jakarta utara; Kiri bawah : Atraksi penutup dalam Tari periuk dari SMAN 92 Jakarta utara; Kanan bawah : Atraksi gerak Pencak silat dalam Tari Periuk dari SMAN 92 Jakarta utara

Dalam ajang Kompetisi Tarian Tradisional yang diadakan di TMII tidak ada keharusan untuk menang bagi tim tari tradisional SMAN 92 Jakarta utara, namun bagaimana para penari dapat menjaga kekompakan walau ditonton oleh ratusan bahkan sampai ribuan orang. Dengan kata lain para penari dilatih untuk tampil lepas tanpa beban agar terbiasa tampil dalam event baik itu event kecil maupun besar.
” Penampilan tadi sudah bagus, tapi tetap ada yang harus diperbaiki dalam sesi-sesi latihan di sekolah nanti. Untuk kedepannya belum ada rencana apa-apa, hanya saja sekarang tim ini harus terus fokus berlatih agar bisa berkembang mempelajari beberapa tarian lagi,” pungkas Ayunda Putri.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...