Akademisi: Hilangnya Semangat Kebhinekaan Sababkan Masyarakat Mudah Membenci

KAMIS, 29 DESEMBER 2016

MALANG — Hilangnya semangat kebhinekaan serta kesantunan menjadi salah satu penyebab mudahnya masyarakat Indonesia dipantik rasa amarah dan kebencian. Hal tersebut disampaikan salah satu dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), Sony Sukmawan saat menjadi pembicara dalam acara Rembug Budaya Menemukan kembali Indonesia, Kamis (29/12/2016).
Sony Sukmawan saat jadi pembicara dalam rembug budaya
Menurutnya, sebenarnya semangat kebhinekaan itu sudah digagas dan ditanamkan oleh para pendiri bangsa sejak awal yang dibuktikan dengan diambilnya semboyan Bhineka Tunggal Ika dari buku yang dikarang Mpu Tantular.
“Kita ini memang Bhineka tapi tunggal. Semangat itu yang harus saat ini kita junjung tinggi bukan justru di hilangkan,”ujarnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, selain sudah mulai hilangnya semangat kebhinekaan, ternyata saat ini masyarakatnya banyak yang mudah melupakan masa lalu.
“Padahal jika kita pahami betul, bahwa masa lalu adalah tonggak untuk memahami masa kini dan memandang masa depan,” tuturnya.
Sementara itu hal yang sama juga di sampaikan Trie Utami yang merupakan seorang penyanyi sekaligus penggiat budaya. Menurutnya, saat ini di Indonesia sudah kehilangan semangat gotong royong dan rasa kebersamaan yang pada zaman dulu masih ada.
“Saya masih ingat waktu kecil di depan rumah saya itu ada gentong air minum yang bisa diminum oleh siapapun. Bahkan dulu tidak ada yang namanya maling itu dipukuli, mereka justru ditanyai, dikasih makanan dan dikembalikan ke tempat asalnya,” jelasnya menceritakan. 
Hal tersebut menunjukkan bahwa pada masa itu kesantunan dan keberadaban serta budi pekerti masih di junjung tinggi, berbeda dengan sekarang.
“Kalau sekarang saya justru mengunci rumah dan memenjarakan diri dalam bangunan pagar yang tinggi dan ini menunjukkan bahwa sebenarnya dibawah alam sadar saya mengatakan bahwa hidup di Indonesia tidak lagi merasa aman,” ucapnya.
Trie Utami
Menurutnya, terjadinya perubahan-perubahan tersebut pasti ada tahapannya mulai dari yang awalnya perubahan dianggap biasa, kemudian menjadi kebiasaan. Lantas setelah menjadi kebiasaan kemudian dianggap tidak apa-apa.
“Dan kalau sekarang ingin menemukan Indonesia adanya di brankas Nusantara,” pungkasnya.

Jurnalis : Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Agus Nurchaliq

Lihat juga...