Belajar Cinta Tanah Air di Museum PETA

RABU 28 DESEMBER 2016

BOGOR—Tak banyak yang tahu bahwa bangunan yang kini menjadi museum PETA di Jalan Sudirman Bogor adalah tempat kediaman  pengawal dan pegawai Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Von Imhoff yang berkediaman di Istana Bogor.    Bangunan itu berdiri pada 1745 bersamaan ketika Van Imhoff menyatukan perkampungan di kawasan yang setahun kemudian dinamakan Buitenzorg. Itu sebabnya ruangan-ruangan yang ada di museum ini mirip barak tentara. 

Foto-foto pendidikan tentara PETA.
Kesan barak tentara KNIL itu sudah tampak dari eksterior bangunan yang megah. Masuk akal kalau Jepang menggunakannya  untuk pelatihan Tentara PETA. Menurut cerita Yulis Patimah  staf musuem yang menamani Cendana News pihak Indonesia memandang pembentukan PETA merupakan upaya baik dari Jepang untuk membantu Indonesia bebas dari perbudakan Belanda. namun bagi Jepang, PETA disiapkan untuk melawan kekuatan Sekutu. 
 “Pada 3 Oktober 1943 Jepang membentuk Pembela Tanah Air, dan melihat bahwa Bogor adalah tempat yang paling tepat untuk dijadikan tempat pelatihan militer. Jepang membangun barak-barak kecil di sekelilng gedung, sampai saat ini barak-barak itu masih digunakan oleh siswa Pusat Pendidikan Zeni Angkatan Darat”  tutur Yulis. 
Beberapa figur yang pernah dididik di tempat ini nama-nama besar seperti Jenderal Soedirman, Presiden Soeharto, Jenderal Achmad Yani, dan Sarwo Edhie Wibowo. Tokoh-tokoh para jenderal yang pernah dididik dipajang dalam foto-foto yang menjadi koleksi museum.  Namun rasa cinta tanah air akan timbul melihat dioramanya.  Terutama diorama pemberontakan Supriyadi yang benar-benar demi rakyat Indonesia.

Tokoh militer yang pernah dididik PETA.

Lanjut Yulis pendudukan Jepang memang mempunyai nilai negatif  banyak rakyat Indonesia yang menderita akibat kerja paska Romusha.  Namun di sisi lain Jepang menanamkan rasa cinta tanah air kepada bangsa  Indonesia. “Namun justru karena cinta tanah airnya meletus Pemberontakan PETA di Blitar. Orang-orang PETA melihat kesewenang-wenangan Jepang kepada rakyat Indonesia. Mendidik rasa cinta tanah air ibarat senjata makan tuan bagi Jepang.,” komentar Yulis.

Di depan diorama Pemberontakan Shodanco Supriyadi terdapat baju seragam pelatih dan tentara PETA komplit dengan pedang samurainya (katana). Penampilannya begitu sederhana. Tetapi begitulah sebagian tentara Indonesia dahulu belajar militer.

Pada  1945, Amerika membombardir Hiroshima dan Nagasaki yang membuat kekalahan besar di pihak Jepang. Atas perintah sekutu, Jepang membubarkan PETA. Semua aset yang dimiliki Jepang diambil alih oleh Belanda, termasuk bangunan tempat pendidikan PETA. Bangunan itu kembali dikuasai oleh pasukan Genie KNIL Troopen, sampai pada 29 Desember 1949 Belanda mengakui kedaulatan NKRI. 
“Kemudian pasukan Belanda meninggalkan semua aset termasuk gedung yang sebelumnya menjadi pusat pendidikan PETA. Kemudian pada 1950, bangunan dengan luas tanah sekitar 13 Hektar itu dikelola oleh Pusat Pendidikan Zeni Angkatan Darat,” imbuh Yulis.  
Cendana News mengunjungi musuem ketika keadaan sepi pengunjung. Namun karena kesenyapan itu rasa cinta tanah air diresapi.

Jurnalis: Yohannes Krishna Fajar Nugroho/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Yohannes Krishna Fajar Nugroho

Lihat juga...