Belum Terima Ganti Rugi Warga Tanam Pohon Pisang di Lahan Tol

KAMIS 8 DESEMBER 2016

LAMPUNG—Puluhan masyarakat warga Kampung Jering Desa Bakauheni melakukan aksi penanaman puluhan pohon pisang di lahan yang sedang dikerjakan untuk proses pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) paket 1 Bakauheni-Sidomulyo ruas Bakauheni-Terbanggibesar Lampung. Sejak pagi masyarakat yang sebagian mengklaim lahan seluas dua hektar tersebut di antaranya Marjaya dan Mukhlas pun ikut melakukan penanaman pohon pisang di STA 05 Bakauheni tersebut.
Penanaman pisang di lahan tol
Aksi penanaman pohon sekaligus blokade titik lahan yang belum diganti rugi tersebut merupakan puncak kekecewaan masyarakat yang hingga kini belum menerima uang ganti rugi lahan. Menurut Mukhlas warga setempat dirinya dan warga merasa kecewa akibat proses ganti rugi untuk pembebasan lahan tol belum ada titik terang sementara lahan yang diklaim milik warga diakui oleh pihak lain bernama Gatot dan Sriwati. Tumpang tindih status kepemilikan tersebut berujung pembekuan uang di dalam rekening yang seharusnya sudah bisa dicairkan meski lahan sudah dilakukan proses pembersihan (land clearing).
“Kami sudah lakukan berbagai langkah termasuk meminta pendampingan dari lembaga bantuan hukum,pengacara namun proses pencairan belum ada titik terang bahkan sudah menyampaikan persoalan ini ke berbagai instansi terkait termasuk ke pelaksana tol namun belum menemukan titik terang,”ungkap Mukhlas didampingi Marjaya yang merupakan warga Kampung Jering pemilik lahan yang terimbas Tol Trans Sumatera saat ditemui Cendana News di lokasi penanaman pohon pisang,Kamis (8/12/2016).
Aksi penanaman puluhan pohon pisang  juga diikuti dengan aksi pemagaran dan pemblokiran pada lahan yang diklaim warga masih belum dibayar terkait uang ganti rugi pembebasan lahan tol. Pemagaran dilakukan menggunakan tali rafia,pagar bambu dan sebagian menggunakan dahan singkong. Aksi warga yang dilakukan tersebut menurut Sugiyono selaku koordinator aksi tidak akan mengganggu aktivitas pengangkutan material Tol Sumatera karena diberi jalan khusus bagi truk dan alat berat selebar 10 meter.
Sugiyono mengaku aksi kesepuluh kalinya yang dilakukan bersama dengan masyarakat terdampak tol dibantu oleh Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (LSM-GMBI) distrik Lampung Selatan sekaligus menuntut agar penyelesaian ganti rugi lahan bisa segera direalisasikan. Sugiyono bahkan meminta pihak terkait jangan hanya menebar janji sementara proses pembersihan lahan dengan cara penggusuran di lahan milik warga sudah berlangsung selama hampir setahun.
“Kami tidak akan mengganggu pekerjaan tol hanya menagih janji kami dan aksi dilakukan di lahan milik kami yang belum dibayar”terang Sugiyono.
Aksi warga tersebut mendapat pengawalan ketat dari personil gabungan Polres Lampung Selatan yang mengamankan sekitar lokasi unjuk rasa sekaligus aksi penanaman singkong dan blokade jalan tersebut. Sementara itu puluhan anggota LSM GMBI juga ikut melakukan proses penanaman pohon pisang di lokasi lahan milik warga.
Meski aksi tengah berlangsung namun pekerjaan alat berat dan pengangkutan material tanah untuk timbunan tol oleh ratusan kendaraan sub kontraktor PT LMA masih terus beroperasi. Aksi tersebut sekaligus menuntut pihak terkait memperhatikan nasib warga yang terdampak Tol Trans Sumatera yang belum menerima uang ganti rugi lahan khususnya di wilayah Bakauheni.
Heri Prasojo selaku ketua LSM GMBI distrik Lampung Selatan mengaku sengaja ikut mendampingi masyarakat dengan memberikan dukungan moral. Selain itu LSM GMBI melalui lembaga bantuan hukum juga telah melakukan pendampingan masyarakat terkait Tol Trans Sumatera yang telah sampai ke meja Pengadilan Negeri Kalianda.
Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Lihat juga...