Bubur Bayi Tepung Jalejo Ada di Posdaya Soka Jakarta Selatan

JUMAT, 30 DESEMBER 2016

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Jagung, kedelai, dan kacang hijau (kacang ijo) atau disingkat Jalejo adalah hasil bumi Indonesia yang tidak kalah asupan gizinya dibanding beras atau nasi (beras yang sudah ditanak). Sejatinya, bangsa Indonesia menjadikan nasi sebagai makanan pokok, namun juga punya pengganti atau alternatif yaitu Jalejo. Tak hanya kaya akan kandungan serat, jagung juga adalah sumber karbohidrat kompleks dan sejumlah zat gizi lain seperti vitamin B dan C, karoten, kalium, zat besi, magnesium, fosfor, omega 6 serta lemak tak jenuh yang berkhasiat menurunkan kadar kolesterol. Untuk Kacang hijau, kandungan di dalamnya adalah kalsium, fosfor, zat besi serta golongan vitamin B kompleks seperti vitamin B1 (tiamin) dan B2 (riboflavin), niacin dan asam amino yang berkhasiat sebagai obat beri-beri, demam nifas, memperlancar air seni dan kekurangan darah. Sedangkan kedelai, selain memiliki kesamaan dengan jagung sebagai sumber serat yang baik, juga sebagai sumber protein nabati dan lesitin. Kedelai mengandung zat gizi di antaranya vitamin A, B Kompleks dan vitamin E, serta kalsium, fosfor, magnesium dan zat besi.

Proses pembuatan Tepung Jalejo oleh ibu-ibu Posdaya Soka.

“Penggabungan ketiganya bisa menghasilkan beragam manfaat  jika dikonsumsi secara baik dan teratur. Contohnya untuk mencegah kanker, osteoporosis, anemia, diabetes, penuaan dini, melancarkan pencernaan, mengontrol kolesterol, kesehatan ibu hamil dan janin, kecantikan wajah, kesehatan jantung, keluhan menopause, pendamping ASI (Air Susu Ibu), perawatan mata, melancarkan ASI serta kesehatan gigi,” jelas Sudarni Adi, anggota Posdaya Soka Jakarta Selatan kepada Cendana News.

Melihat kandungan gizi dari Jalejo dan beragam manfaat ketiganya dimana manfaat bagi ibu hamil dan janin juga termasuk di dalamnya, akhirnya Posdaya Soka RW012 Kelurahan Kebayoran Baru Selatan, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, coba mengembangkan Jalejo menjadi bahan makanan pengganti nasi berbentuk bubuk atau tepung dengan nama Tepung Jalejo.

Dinas Kelautan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan (DKPKP) Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan sebelumnya sudah mengkoordinasikan sekaligus melakukan edukasi kepada warga RW012 maupun anggota-anggota Posdaya Soka di RW012 mengenai Jalejo. Bantuan dan dukungan dilakukan instansi terkait untuk mengembangkan Jalejo di wilayah kerja Posdaya Soka. Sampai saat ini, Posdaya Soka sudah memiliki satu buah mesin giling untuk keperluan pembuatan Jalejo.

“Dari edukasi dan dukungan tersebut, memang mengarah pada makanan nutrisi pengganti nasi serta pembuatan kue atau kuliner lain. Tapi kami coba godok lebih jauh mengenai kepada siapa Tepung Jalejo itu nanti bisa bermanfaat. Dan kami pun coba sebuah inovasi untuk konsentrasi membuat Tepung Jalejo untuk Bubur Bayi,” lanjut Sudarni Adi.

Cara pembuatan Tepung Jalejo masih tradisional walau sudah menggunakan mesin giling modern. Bahan-bahan seperti jagung, kedelai dan kacang hijau terlebih dahulu dipisahkan untuk dicuci bersih. Kemudian dikeringkan dengan cara dijemur di bawah terik matahari selama satu hari. Selanjutnya, ketiga bahan utama Jalejo masing-masing disangrai, disatukan lalu digiling menjadi tepung. Tepung Jalejo yang sudah jadi nantinya bisa berguna untuk membuat kue, sebagai bahan inovasi kuliner Nusantara dan yang terutama adalah sebagai bubur bayi pemberi asupan gizi tambahan untuk mendukung pertumbuhan bayi. Bahkan bagi ibu hamil dan menyusui, Tepung Jalejo bisa dikonsumsi secara rutin. Konsentrasi untuk pemenuhan asupan gizi balita dan ibu menyusui mengemuka karena bagi remaja sampai dewasa bisa mengkonsumsi. Contohnya jagung secara utuh untuk kebutuhan serat begitu pula kedelai maupun kacang hijau yang tentunya diolah terlebih dahulu menjadi makanan-makanan pada umumnya. Bagi warga usia indah, Tepung Jalejo juga sebenarnya bisa menjadi alternatif makanan untuk asupan gizi di usianya, akan tetapi untuk saat ini pengembangan masih untuk bubur bayi.

Hasil inovasi Tepung Jalejo sudah dibagikan kepada warga maupun anggota Posdaya Soka secara rutin. Perkembangan maupun dampak dari bayi maupun ibu hamil serta menyusui yang mengkonsumsi bubur Tepung Jalejo masih dalam tahap pembelajaran dari tim bidang kesehatan Posdaya Soka.

“Khusus untuk bubur bayi atau balita, memang dampaknya belum terlihat langsung akan tetapi untuk jangka panjang. Inti sebenarnya dari pengembangan Jalejo adalah untuk membudayakan Jalejo sebagai bahan makanan pengganti nasi, akan tetapi pengembangan maupun inovasinya bisa juga berbentuk bubur bayi,” pungkas Sudarni.

Kiri atas: sosialisasi Tepung Jalejo. Kanan atas: bahan Tepung Jalejo yakni jagung, kedelai dan kacang ijo.
Kiri bawah: bahan sudah digabung siap digiling. Kanan bawah: Tepung Jalejo.

Untuk saat ini, pengadaan bahan-bahan Tepung Jalejo memang masih membeli dari pasar tradisional maupun sejenisnya. Akan tetapi, ada impian selanjutnya untuk mengembangkan komoditas tanaman Jalejo di wilayah kerja Posdaya Soka. Keinginan ini juga masih dalam penggodokan serius bersinergi dengan Kelompok Tani (Poktan) RW012 maupun Posdaya Soka.

Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...