Bupati Sebut Perekonomian Barito Kuala Kalsel Tumbuh Positif

KAMIS, 29 DESEMBER 2016

MARABAHAN — Perekonomian Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan diprediksi tumbuh positif di tengah pelemahan ekonomi regional dan nasional pada 2016. Menjelang tutup buku, Bupati Hasanuddin Murad menyatakan indikasi utama membaiknya kinerja ekonomi tercermin dari pertumbuhan ekonomi lokal yang melonjak rata-rata 4,87 persen (year on year).
Jumpa pers dalam peringatan Hari Jadi ke-57 Kabupaten Barito Kuala
Disebutkan, aktivitas berbasis pertanian masih menjadi struktur utama penopang perekonomian di tengah melemahnya harga komoditas batubara dan minyak sawit mentah pada 2016. Di Kalimantan Selatan, Barito Kuala kebetulan salah satu kabupaten yang tidak menyimpan cadangan batubara.
Pertumbuhan ekonomi lokal yang positif pararel terhadap realisasi PDRB tahun 2016 sebesar Rp 4,95 triliun, melonjak ketimbang tahun 2015 sebanyak Rp 4,72 triliun. Sektor pertanian berkontribusi 30 persen terhadap struktur PDRB Barito Kuala.
Adapun PDRB per kapita tercatat Rp 20,7 juta pada tahun 2016. Angka itu melonjak ketimbang realisasi tahun 2015 sebesar Rp 17,6 juta. 
“Kondisi perekonomian seperti itu bisa menekan kesenjangan tingkat pendapatan masyarakat yang ditunjukkan oleh angka Gini Rasio mencapai 0,38 persen,” ujar Hasanuddin Murad saat paparan kinerja di Aula Bahalap, Kamis (29/12/2016).
Arus investasi pun terus mengalir ke Barito Kuala. Menurut Hasanuddin, angka kumulatif realisasi investasi periode 2012-2016 tercatat sebanyak Rp 4,63 triliun dengan menyerap 10 ribu tenaga kerja. Ia mengatakan, meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan arus investasi bisa mereduksi angka kemiskinan.
“Mengurangi pengangguran terbuka dan menekan kemiskinan. Angka kemiskinan tahun 2016 jadi 4,75 persen, turun dibanding tahun 2015 sebanyak 4,85 persen,” sebutnya sembari menambahkan pihaknya terus menggencarkan usaha sektor pertanian seraya menggarap potensi sektor perikanan budidaya, perdagangan, dan pariwisata.
Selain bertumpu pada pertanian padi, Hasanuddin mendorong diversifikasi komoditas pertanian, seperti jeruk, bawang merah, dan cabai rawit. Ia pun intens mengajak petani lebih kreatif menghasilkan produk turunan yang punya nilai tambah sambil memperbaiki pola pemasaran demi mendongkrak kesejahteraan petani. 
“Tidak hanya dijual bahan mentah saja, tapi dipasarkan dalam produk yang sudah diproses dan ada nilai tambahnya,” ujarnya.
“Hasil kerja pemerintah dan pembangunan ini cukup memberi manfaat bagi masyarakat, ini dibuktikan dengan indeks kepuasan masyarakat di angka 80,25 persen,”tambahnya.
Selain paparan kinerja ekonomi, Hasanuddin menjelaskan realisasi pembangunan infrastruktur pendidikan dan kesehatan. Di bidang pendidikan, ia mengklaim penduduk usia 15 tahun ke atas yang melek huruf mencapai 105,47 persen dari target 97 persen. Adapun persentase kelulusan tingkat SD/MI, SMP/Mts, dan SMA/SMK/MA mencapai angka sempurna. “Lulus 100 persen,” ujarnya.
Menurut Hasanuddin, perbaikan saran pendidikan dan layanan kesehatan membuat Indeks Pembangunan Manusia di Barito Kuala merangkak ke level 63,53. “Sebelumnya 62,56, dan menambah panjang umur harapan hidup, dari 64,66 tahun menjadi 64,92 tahun,” ujar bekas anggota DPR RI tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Barito Kuala, Muhammad Hasbi mengakui masyarakat pelosok Barito Kuala masih bertumpu pada usaha pertanian, peternakan, perkebunan, dan perikanan budidaya. Perdagangan hasil komoditas pertanian lebih mendominasi ketimbang sektor usaha lain. 
“Masyarakatnya agraris, dan ini kunci utama penopang ekonomi kerakyatan di Barito Kuala,” kata Hasbi.

Jurnalis : Diananta P Sumedi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Diananta P Sumedi

Lihat juga...