Cuaca Buruk Nelayan Pinggirkan Bagan Apung ke Pantai

SELASA 27 DESEMBER 2017

LAMPUNG—Puluhan nelayan di wilayah Perairan Kabupaten Lampung Selatan mengeluhkan kondisi cuaca buruk yang terjadi hampir selama satu pekan terakhir mengakibatkan sejumlah nelayan tidak melakukan aktivitas melaut. Cuaca buruk disertai gelombang tinggi bahkan berakibat nelayan di Dermaga Bom Kalianda memilih menyandarkan perahu yang mereka miliki.
Suasana Dermaga Bom Kalianda.
Mereka menunggu cuaca kembali membaik sehingga aktivitas melaut kembali bisa dilakukan. Selain nelayan dengan perahu perahu berukuran kecil jenis ketinting dan perahu di atas 30 GT juga terlihat disandarkan sejak sepekan terakhir.
Salah satu nelayan pesisir Kalianda,Usman (40) mengungkapkan sudah berhenti melaut semenjak sepekan lalu akibat kondisi cuaca yang masih bergelombang tinggi disertai angin kencang yang berimbas pada menurunnya jumlah penangkapan dan pendapatan para nelayan. Meski demikian selama istirahat ia mengaku beberapa kegiatan dilakukan oleh sejumlah nelayan di antaranya memperbaiki bagian bagian kapal yang perlu dibenahi,memperbaiki alat tangkap serta kesempatan berkumpul bersama keluarga.
Kondisi cuaca buruk dan gelombang tinggi bahkan mengakibatkan sejumlah nelayan pemilik bagan apung di wilayah perairan Lampung Selatan meminggirkan bagan apung yang selama ini berada di perairan Kalianda. Upaya meminggirkan dan menarik bagan apung tersebut dilakukan untuk mencegah bagan yang ditambatkan terbawa arus dan mengakibatkan kerugian cukup besar bagi para nelayan pemilik bagan apung salah satunya Joni (40) pemilik bagan Lampung.
“Kami sudah meminggirkan bagan apung sejak sepekan lalu karena sebagian tali tambat bagan yang kami miliki putus jika tidak dipinggirkan berakibat kerusakan pada bagan di tengah laut dan bisa terbawa arus bahkan hilang ke perairan lain,” ungkap Joni salah satu nelayan di Pesisir Kalianda Lampung Selatan saat dikonfirmasi Cendana News,Selasa (27/12/2016)
Proses penarikan dan meminggirkan bagan apung tersebut diakui Joni bahkan terbilang sulit akibat kondisi gelombang tinggi dan angin kencang sehingga membutuhkan dua buah perahu untuk menarik bagan apung tersebut. Joni yang memiliki tiga unit bagan apung bahkan mengeluarkan
biaya sekitar Rp2 juta hanya untuk meminggirkan bagan apung yang dimilikinya sementara pemilik bagan apung lainnya juga tengah melakukan proses meminggirkan bagan apung yang ada di sekitar Pulau sang tiga dan perairan Pulau Sebuku.
Ia menegaskan upaya meminggirkan bagan apung tersebut dilakukan sebab pembuatan sebuah bagan apung membutuhkan biaya cukup besar mencapai puluhan juta rupiah dan biaya operasional yang cukup besar.
Sebagai langkah antisipasi agar tidak terbawa arus bagan apung yang sudah berada di perairan sejak delapan bulan tersebut terpaksa dipinggirkan hingga cuaca kembali membaik.
“Selama ini bagan mampu menarik ikan jenis teri serta ikan ikan lain yang bergerombol dengan omzet bisa mencapai jutaan rupiah perhari tapi karena cuaca buruk pasti kami merugi,” ungkapnya.
Kerugian puluhan juta rupiah bahkan omzet jutaan rupiah perhari dari hasil beberapa kuintal ikan teri dipastikan dialami Joni hingga sepekan ke depan dan hingga tahun baru 2017. Dampak dari tidak beroperasinya bagan apung mengakibatkan ikan teri yang semula seharga Rp150.000 per keranjang dengan berat 20 kilogram naik menjadi Rp225.000.
“Semoga cuaca segera membaik karena selain saya sebagai pemilik bagan banyak yang dirugikan terutama pembuat teri kering,” ungkap Joni.
Dampak berkurangnya pasokan teri basah jenis jengki dan teri nasi dari bagan apung tersebut bahkan berimbas pengrajin teri kering kekurangan pasokan bahan baku. Sebagian pembuat teri bahkan memilih tidak membuat teri kering selama pasokan berkurang.
Perahu-perahu yang disadarkan.
Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Lihat juga...