Dianggap Hina Pahlawan, Gerakan Rakyat Kebhinnekaan Laporkan Dwi Estiningsih ke Polda DIY

KAMIS, 29 DESEMBER 2016
YOGYAKARTA — Sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Kebhinnekaan melaporkan Dwi Estiningsih, kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ke POLDA DIY, terkait dengan pernyataannya di media sosial yang dianggap berbau SARA dan menghina pahlawan, Kamis (28/12/2016). Laporan ini sekaligus menjadi laporan yang kedua kalinya dilakukan sejumlah elemen masyarakat setelah sebelumnya,  yang bersangkutan juga dilaporkan oleh Forum Komunikasi Anak Pejuang Republik Indonesia, ke pihak Kepolisian Daerah Metro Jaya, Jakarta, pada Rabu (21/12/2016), lalu.

Sejumlah elemen masyarakat yang mengatasnamakan Gerakan Rakyat Kebhinnekaan saat melaporkan Dwi Estiningsih Ke Polda DIY.

Koordinator Gerakan Rakyat Kebhinnekaan, Lestanto Budiman, menyatakan, pihaknya melaporkan Dwi Estiningsih ke POLDA DIY, karena yang bersangkutan dianggap telah menghina para pahlawan yang sejumlah gambarnya ditampilkan dalam lembaran mata uang baru rupiah belum lama ini. Pernyataan Dwi Estiningsih yang menyebut 5 dari 11 pahlawan adalah kafir, juga dianggap telah menimbulkan rasa tidak nyaman di kalangan masyarakat, sekaligus berpotensi memecah belah bangsa.

“Ini menjadi masalah besar bagi kami sebagian masyarakat. Kami sangat-sangat keberatan dan merasa ujaran itu menimbulkan rasa tidak nyaman. Kami juga merasa tidak simpatik. Karena ini sudah merupakan penghinaan kepada para pahlawan yang telah berjuang demi bangsa dan negara. Kita juga menilai ujaran itu akan menjadi bibit atau embrio yang pada akhirnya akan mecah belah bangsa ini. Karena itu kami hari ini melaporkannya ke Polda DIY, ” ujarnya.

Lestanto, mewakili Gerakan Rakyat Kebhinnekaan, mengaku melaporkan Dwi Estiningsih, guna menuntut yang bersangkutan agar menjelaskan pernyataannya di media sosial tersebut. Tak hanya itu, Gerakan Rakyat Kebhinnekaan juga menuntut agar Dwi Estiningsih meminta maaf pada masyarakat serta menghentikan pernyataan-pernyataan di mesia sosial yang tidak bermanfaat. Baik itu melalui Twitter, Facebook, ataupun media sosial lainnya.

“Dia harus menjelaskan pernyataanya, apa yang dimaksud dengan pahlawan kafir itu. Karena untuk mendapat gelar pahlawan itu butuh perjuangan panjang dan tidak main-main. Sehingga kalau dia mengatakan ada pahlawan kafir, itu apa hubungannya. Lalu bagaimana perjuangan dia untuk bangsa dan negara? Apakah dia sendiri sudah berkontribusi dan berjasa bagi bangsa dan negara?” ujarnya.

“Dia, ” lanjut Lestanto, “Juga harus menghentikan ucapan-ucapannya di media sosial yang semakin gencar tidak terarah, tidak jelas, dan saling bertentangan, karena dapat menjadi potensi memecah belah bangsa. Terlebih sekarang UU ITE diberlakukan. Mari kita taati dan kita tegakkan bersama. Jangan lalu semena-mena dan memanfaatkan kebebasan, dengan mengungkapkan hal-hal yang kurang bisa dipertanggungjawabkan,” tuturnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...