Filosofi Tukang Sayur Keliling, Kesahajaan Berpadu Kejujuran

KAMIS, 29 DESEMBER 2016 
Oleh Henk Widi

CATATAN KHUSUS — Ekonomi kreatif yang berkembang hingga saat ini membuat orang berlomba-lomba berkreasi untuk melakukan pemasaran produk, salah satunya dalam bidang penjualan keperluan ibu rumah tangga (IRT) yakni sayur mayur. Semula penjualan sayur mayur hanya dilakukan di pasar, warung menetap sehingga pembeli yang sebagian besar kaum ibu harus mendatangi pasar atau warung tersebut bahkan harus pagi-pagi buta untuk membeli sayuran. Seiring perkembangan zaman, kini proses penjualan sayuran di perkotaan dan pedesaan bahkan sudah mulai bergeser dengan pola penjualan keliling yang banyak dilakukan oleh kaum ibu atau bahkan laki-laki menggunakan kendaraan. Baik sepeda, kendaraan roda dua, maupun kendaraan roda empat. Penjual akan berkeliling dari satu perumahan ke perumahan lain dan juga ke beberapa kampung untuk menawarkan barang-barang dagangannya.

Suhadi (kanan) bersama ibu-ibu yang berbelanja barang dagangannya.

Bagi penjual sayur keliling, kegiatan menjajakan sayur setiap hari merupakan aktivitas yang dilakukan sebagai sebuah pekerjaan, mata pencaharian dengan mencoba mencari peruntungan penjualan sayuran berbagai jenis yang dijajakan. Salah satu penjual sayur keliling yang ada, di antaranya, Suhadi (27), yang sempat berbincang dengan Cendana News. Ia merupakan warga Desa Tanjungsari Kecamatan Palas. Tinggal di sebuah rumah geribik, bermodalkan sebuah sepeda motor yang dibelinya dengan harga murah ia memiliki niat untuk menghidupi buah hatinya yang masih berumur sekitar 1 tahun dan bagi sang istri yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan pembuatan sepatu di Serang Banten.

Berangkat pukul 04:00 WIB pagi, setiap hari Suhadi akan menuju ke sejumlah pasar yang ada di wilayah Palas yang memiliki sejumlah pasar tradisional di antaranya Pasar Sukaraja, Pasar Palas Bangunan, Pasar Simpang Kenaat, Pasar Blangah yang masih bisa dijangkau untuk kulakan atau membeli barang belanjaan. Beberapa barang yang rutin dibeli untuk dibeli kembali di antaranya sayur, lauk, yang disukai oleh kaum ibu rumah tangga mulai dari sayuran hijau siap masak, ikan laut, kerupuk, bahkan sebagian membawa jajanan pasar. Setidaknya, Winarso mengaku, menjual lebih dari 30 item barang dagangan yang akan dibawanya keliling. Sebagian dibungkus dalam plastik-plastik yang siap dijual. Seusai membeli barang tersebut, ia akan kembali ke rumah untuk meletakkan sayur yang siap jual tersebut di dalam rombong (wadah kanan kiri terbuat dari bambu yang diletakkan di kendaraan roda dua). Dibantu sang ibu, ia mulai menata semua barang dagangan yang ia jual untuk berkeliling ke sejumlah pelanggan di desa-desa yang dilaluinya.

Pekerjaan sederhana berjualan sayur yang dilakukannya bukan tanpa hambatan. Menggunakan kendaraan roda dua yang terkadang pecah ban, masalah mesin dengan kondisi kendaraan yang tidak prima terkadang membuatnya harus memperbaiki kendaraan yang berarti akan mengurangi waktu untuk berkeliling. Ia sengaja berangkat sekitar pukul 05:30 WIB untuk menyisir beberapa kampung sebagai penjual sayur keliling yang sudah ditunggu oleh kaum ibu yang hendak memasak untuk keluarganya. Berangkat pagi juga menjadi harapan baginya untuk bisa menghabiskan dagangannya sehingga bisa pulang lebih cepat dengan kondisi barang dagangan terjual habis maksimal sekitar pukul 10:00 WIB atau paling lambat pukul 11:00 dirinya kembali pulang ke rumah.

Setidaknya ada sekitar 5 desa yang dikelilingi, namun dalam perjalanan tersebut ia juga harus berkejaran dengan penjual sayur keliling lain yang bisa jadi lebih pagi darinya apalagi saat kendaraannya bermasalah. Meski demikian ia mengaku tak pernah menganggap setiap pedagang sayur yang lain merupakan saingan tetapi sebagai rekan yang sama-sama mengais rejeki di bidang yang sama; penjual sayur! Rasa senasib sepenanggungan dengan rata-rata keuntungan per item barang yang dijual di kisaran Rp 1.000 hingga Rp 3.000 bahkan tidak membuat sesama penjual sayur saling sikut atau bersaingan tidak sehat. Saling tolong menolong bahkan merupakan kewajiban bagi sesama penjual sayur.

Suhadi mengaku pernah mengalami masalah pada kendaraan roda dua miliknya, malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Kemunculan pedagang sayur lain adalah harapan, kesepakatan diambil dengan adanya pengalihan beberapa barang dagangan nyaris separuh barang dagangan yang tak dijual pedagang lain. Beralih barang dagangan dengan harga dasar atau harga dari pasar untuk menghindari kerugian lebih banyak dibandingkan dengan jika dibawa pulang seluruhnya. Salah satu pedagang yang berada dalam satu jalur penjualan sayur keliling di antaranya Winarso yang menekuni usaha yang sama.

Menunggu memperbaiki kendaraan, sebagian barang sudah dibeli Winarso untuk kembali dijual setidaknya bisa meringankan beban. Tolong menolong dan gotong royong sesama pedagang sayur dalam kesahajaan. Bantuan tersebut akan berbalik jika Winarso juga mengalami masalah yang sama dan Suhadi akan menolong sang kawan untuk membeli barang dagangan yang belum terjual. Imbal balik yang masih terjaga tersebut menjadi sebuah kesepakatan tak tertulis yang selalu terjadi dalam dunia penjualan sayur yang dialami oleh Suhadi.

Tolong menolong hanyalah sebagian dari jiwa sosial para pedagang sayur tanpa memandang rivalitas atau persaingan. Dalam beberapa kasus, Suhadi bahkan mengaku, pedagang lain yang terlebih dahulu berangkat saat di jalan mengalami insiden barang dagangan jatuh secara tak sengaja atau karena kondisi jalan tidak bagus barang dagangan tercecer. Bukannya membuang atau mengambil untuk dijual kembali, Suhadi atau pedagang lain akan memungut barang dagangan yang jatuh dan memberikannya kepada pedagang lain yang merasa kehilangan barang dagangan tersebut. Meski penemuan tersebut akan menjadi keuntungan baginya namun ia masih mengingat keuntungan tak seberapa dari berjualan sayur yang dijalani para penjual sayur tersebut.

Meski keuntungan sedikit dan lama-lama ditabungnya untuk membeli kendaraan roda dua yang akan digunakan sebagai sarana berjualan sayur, keuntungan semat- mata bukan jadi tujuan. Rasa gotong royong dan masih mempertahankan kejujuran sesama pedagang sayur keliling masih dipegang. Bahkan rasa tepo seliro tenggang rasa diberikan kepada ibu rumah tangga langganan yang belum bisa membayar sayur yang dijajakan karena belum memiliki uang dan baru bisa dibayar pada hari berikutnya. Sistem bon atau hutang masih lazim dilakukan dan kondisi tersebut tidak membuatnya menggerutu. Selain sebagian kaum ibu masih ada yang berhutang terkadang ibu-ibu yang cerewet karena kenaikan harga sejumlah sayuran yang naik sekitar Rp 1.000 bisa menjadi perdebatan karena sudah dinaikkan dari pasar. Harga yang naik tersebut harus disampaikan dengan sabar agar kaum ibu yang berbelanja menerima.

Kehidupan tukang sayur keliling yang bersahaja setidaknya menjadi sebuah pekerjaan yang ditekuni Suhadi hingga kini. Memberi nafkah bagi anak dan isterinya dan menjadi jalan untuk melatih kejujuran dan kesabaran, mengenal banyak pembeli dengan berbagai karakter. Selain itu mata pencaharian yang dijalani tersebut bisa dijalankan setengah hari dan dirinya bisa melakukan pekerjaan lain setelah proses berjualan selesai. Sebagian barang yang tak habis terjual sebagian dijual di warung yang dikelola sang ibu dan ia melanjutkan pekerjaannya dengan memelihara kambing. Kesahajaan tukang sayur yang masih ada dan filosofi kejujuran dan kesederhanaan yang mulai pudar dalam kehidupan sehari hari.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Lihat juga...