Intip Museum PETA: Menyelami Perjuangan Kemerdekaan Bangsa Indonesia

SELASA 27 DESEMBER 2016

BOGOR—Sebuah bangunan tua berdiri kokoh di Jalan Sudirman, Bogor Jawa Barat. Bangunan ini berdiri di antara KODIM 0606 dan Pusat Pendidikan Zeni Angkatan Darat. Memang bangunan ini bukanlah bangunan biasa, terlihat satu kekuatan yang cukup besar ketika melihat patung dua pahlawan Indonesia di teras gedung itu.

Bagian muka Museum PETA Bogor: bersih dan apik.

Kedua patung itu yang pertama patung Shodanco Supriyadi yang seolah siap memberi perintah untuk menyerang musuh. Supriyadi adalah pahlawan Pemberontakan PETA di Blitar. Dan yang satu lagi patung Jenderal Besar Soedirman yang siap untuk melawan pengganggu Negara Kesatuan Republik  Indonesia. Sepintas terlihat seperti pusat komando tentara pada zamannya, namun ternyata bangunan itu adalah museum Pembela Tanah Air (PETA) yang kini dikelola oleh Angkatan Darat.

Cendana News mencoba untuk menggali lebih dalam mengenai museum yang terletak di jantung  kota Bogor itu (Selasa 27/12). “Museum ini adalah gedung peninggalan pemerintah Belanda yang dibangun pada 1745, namun untuk mengenang jasa para pahlawan PETA, gedung ini dialihfungsikan menjadi museum” tutur Yulis Patimah Staf Museum PETA bersama Cucu Nuris Arianto mendampingi Cendana News
Peletakan batu pertama museum  ini dilakukan oleh Wakil Presiden Umar Wirahadi Kusumah pada 14 November 1993, dua tahun kemudian pada 18 Desember 1995 museum ini disahkan oleh Presiden RI Soeharto. Awalnya museum ini dikelola oleh Yayasan Pembela Tanah Air (YAPETA) hingga 2010, kemudian dikelola oleh Dinas Sejarah (Disjarah) Angkatan Darat.
Museum ini buka setiap hari kerja dari jam delapan pagi hingga jam lima sore. Museum ini berada di kompleks Pusat Pendidikan Zeni Angkatan Darat, Bogor Jawa Barat.  Museum  memiliki daya tarik yang tak kalah dengan museum lainnya. “Pengunjungnya kebanyakan anak sekolah, tingkat TK hingga SD. Ada juga berapa mahasiswa yang menyusun skripsi berkaitan dengan PETA.  Turis dari negeri Belanda dan Jepang juga kerap berkunjung untuk mengetahui sejarah negeri mereka,” sambung Cucu Nuris.
Menurut cerita kedua pemandu ini bangunan museum ini terdiri dari dua tipe, yaitu bangunan yang dibuat Belanda dan tambahan yang dibuat Jepang. Pihak tentara penududkan Jepang tidak merusak bangunan. “Nah bangunan tambahan ini menjadi barak Pudikzi,” ujar Cucu.

Koleksi museum yang paling menarik di antaranya ratusan senjata api yang pernah digunakan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.Senapan ini buatan berbagai negara, seperti Austria, Jerman dan Amerika. Terdapat juga koleksi senjata berat, seperti mortir. Dari senjata ini saja pengunjung museum bisa membayangkan  seperti apa pertempuran masa itu, bisa meraba sendiri bagaimana rupa senjata itu yang tentunya lebih dari buku-buku. 

Koleksi senjata yang pernah digunakan masa Perang Kemerdekaan.

Terdapat  empat belas koleksi diorama, dan yang paling unik  museum ini mengoleksi   Diorama yang ada di museum ini adalah diorama mengenai sejarah pembentukan Pembela Tanah Air (1943) dari awal hingga akhir.  Misalnya saja diorama tentang kegiatan latihan di Pusat Pendidikan Perwira Pembela Tanah Air Bogor (1943), pembentukan batalyon-batalyon PETA di daerah Jawa, Madura dan Bali (1944), Pemberontakan PETA di Blitar (14 Februari 1945), Tipu muslihat Katagiri Butaicho (Jepang) terhadap Syodancho Muradi (15 Februari 1945), Peristiwa 16 Agustus 1945 di kompi Pembela Tanah Air (PETA) Rengasdengklok.

Tak lupa ada diorama Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, kemudian diikuti  Badan Keamanan Rakyat (BKR) cikal bakal TNI (22 Agustus 1945), Peristiwa rapat raksasa 19 September 1945 di lapangan IKADA, Jakarta, Peristiwa serbuan Osha Butai Kota Baru oleh Pasukan BKR Yogyakarta (Oktober 1945), BKR Malang merintis matra kedirgantaraan dalam pembentukan kekuatan bersenjata Indonesia (Oktober 1945), Pemindahan markas angkatan darat Jepang di Jawa Timur ke tangan Bangsa Indonesia (Oktober 1945),  Ambarawa dan lahirnya hari infantri TNI-AD (Angkatan Darat) (15 Desember 1945), Pemilihan panglima besar Tentara Keamanan Rakyat (12 November 1945).

Dari urutan-urutan diorama, pengunjung museum terutama yang berminat sejarah bisa mendalami bagaimana perjalanan  PETA sebagai bagian dari sejarah TNI.  Keberadaan museum ini melengkapi Museum Satria Mandala di Jakarta. 
Museum ini pernah menjadi pusat pendidikan dan pelatihan tentara PETA. Jenderal Besar Soedirman, Jenderal Abdul Harris Nasution, bahkan mantan Presiden Soeharto, dan Danjen Kopassus Kolonel Sarwo Edhie Wibowo adalah petinggi militer yang pernah di didik dan dilatih di Bogor, Jawa Barat.

Jurnalis: Yohannes Krishna Fajar Nugroho/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Yohannes Krishna Fajar Nugroho
Lihat juga...