Jelang Tahun Baru, Penjual Ketupat Musiman Serbu Pasar Alok Maumere

SABTU, 31 DESEMBER 2016

MAUMERE — Menjelang Tahun Baru 2017, puluhan pedagang janur dan ketupat mulai memadati Pasar Alok, Maumere. Sejak pukul 05.00 WITA, para pedagang yang berasal dari Kecamatan Kangae yang berjarak sekitar 15 kilometer dari Kota Maumere, maupun dari beberapa Kecamatan di sekitar Kota Maumere mulai mendatangi Pasar Alok yang merupakan pasar tersebar di Kabupaten Sikka tersebut.
Pedagang ketupat dan janur memadati Pasar Alok. 
“Sejak subuh kami sudah datang ke sini membawa daun kelapa muda berwarna hijau yang sudah dipotong-potong, dan ada beberapa yang sudah kami buat ketupat, “ tutur Brigita Sinu, salah-satu pedagang ketupat di Pasar Alok, Sabtu (31/12/2016).
Sejak datang sekitar pukul 06.30 WITA, Brigita mengaku sudah mendapatkan uang sebanyak Rp. 100.000 dari hasil menjual ketupat. Brigita yang datang bersama tiga orang saudaranya, mengaku sehari sebelum Natal, yakni pada 24 Desember dan jelang tahun baru ini, 31 Desember, memang selalu menjual ketupat di Pasar Alok.
“Kemarin saat Natal, penjualan tidak terlalu banyak dibandingkan sekarang menjelang Tahun Baru. Ini baru 2 jam berjualan, saya sudah mendapat uang seratus ribu rupiah,” akunya.
Brigita menjelaskan, untuk jenis ketupat Sate dan ketupat Bawang berukuran kecil, dijual seharga Rp. 5.000 untuk 3 ikat yang berjumlah masih-masing ikat sebanyak 3 ketupat. Sementara untuk ukuran besar, dijual seharga Rp. 5.000 per 4 buah ketupat serta Rp. 10.000 untuk jumlah ketupat sebanyak 10 buah. “Kami jual ada yang sudah jadi, namun ada juga yang masih belum dianyam  dan saat pembeli meminta dibuatkan sesuai ukuran baru kami mulai menganyamnya,” jelasnya.
Barbara Senda, pedagang lainnya asal Mego mengaku, ia bersama 10 orang perempuan sekampungnya sengaja datang ke Pasar Alok untuk menjual ketupat. Mereka juga menjual Lepet atau ketupat berukuran panjang. “Kalau Lepet harganya lebih mahal, sebab agak sedikit sulit dibentuk, karena lebih panjang dan ukurannya kecil, sehingga kami menjualnya satu buah seribu rupiah,” terangnya.
Selain ketupat, juga di pasar tersebut juga dijual daun kelapa muda berwana hijau dan kuning yang dipakai sebagai bahan membuat ketupat seharga Rp. 10-20.000 setangkai, tergantung besar kecilnya tangkai dan lebar daun kelapa. Namun demikian, banyak pembeli yang lebih memilih membeli ketupat yang sudah dianyam, ketimbang membeli daun kelapa muda dan menganyamnya sendiri di rumah.
“Di rumah tidak ada yang bisa anyam, jadi kami beli yang sudah jadi saja. Lagi pula, tidak membuang waktu dan tenaga untuk menganyamnya lagi,” tutur Veronika Deta, salah seorang pembeli.
Penjual ketupat dan daun kelapa memenuhi halaman Pasar Alok di bagian timur dekat Los Sembako. Para penjual ketupat rata-rata didominasi perempuan renta dan juga ibu-ibu yang sudah menikah. Dengan cekatan, mereka menganyam ketupat dan lepet sesuai ukuran yang dipesan pembeli. Beralaskan terpal bekas, kertas semen maupun koran, mereka meletakan dagangan di tanah dan duduk bersila sambil menganyam ketupat.
Para perempuan dari desa ini pun menjual hasil panen kebun mereka seperti singkong, daun singkong, daun pepaya, bunga pepaya, nanas, pisang Kepok dan juga kelapa.

Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Koko Triarko / Foto : Ebed De Rosary

Lihat juga...