Kebun Gizi Posdaya Soka, Antisipasi Asupan Gizi dan Kemiskinan Baru

RABU, 28 DESEMBER 2016

JAKARTA – Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Ketika Posdaya Soka di Jatayu Raya, Kampung Duku, Jalan Al-Barokah, RW012, Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mulai bisa mengikis kemiskinan anggotanya, muncul ide baru bagaimana cara menghadapi kemiskinan baru. Salah satu cara adalah memberdayakan semua anggota Posdaya Soka untuk memiliki kebun gizi di pekarangan rumah maupun memanfaatkan lahan sempit lainnya. Contoh awal adalah Kebun Gizi Posdaya Soka RW012 yang digagas Ngasimun.

Kebun Gizi Posdaya Soka. Ngasimun sedang di dekat
penampungan lele (tong oranye).

Filosofi dari pengadaan kebun gizi adalah jika kebun gizi bisa dimiliki setiap warga atau anggota Posdaya, ke depannya masing-masing keluarga bisa memiliki tanaman-tanaman yang berdaya asupan gizi tinggi. Disamping itu, jika keluarga tingkat sejahtera 1 dan sejahtera 2 atau boleh dikatakan mereka yang sudah keluar dari tingkat pra-sejahtera (miskin), entah karena sesuatu hal harus menerima kenyataan berada kembali di tingkat pra-sejahtera, minimal sebagai antisipasi bertahan hidup keluarganya sambil menunggu datangnya bantuan atau solusi dari Posdaya maupun warga setempat.

“Artinya bukan sekadar asupan gizi dari makanan saja, akan tetapi kebun gizi ini punya nilai tambah lain yakni bisa menjadi sandaran hidup sementara jika keadaan ekonomi sedang sulit,” demikian Ngasimun mengawali pemaparannya.

Tanaman untuk kebun gizi awalnya didapatkan dari program-program Kementerian Pertanian atau program lain untuk penghijauan lingkungan baik dari Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, sampai Kodya Jakarta Selatan. Oleh karena itu, dalam perjalanan kebun gizi hingga saat ini terdapat beragam tanaman yang bisa dikonsumsi warga, sebut saja bayam, tebu, terong, kangkung, lidah buaya, pisang, dan lain sebagainya. Bahkan, Posdaya Soka menerapkan sistem tumpang sari antara tanaman perkebunan tersebut dengan budidaya ikan lele dan nila. Media tanam menggunakan paralon maupun botol bekas minuman ringan menggunakan sistem yang dinamakan aquaponic dan hidroponik. Sistem tersebut intinya adalah bagaimana menghidupi tanaman dengan menggunakan sumber air bernutrisi dari kolam ikan. Begitu seterusnya air berputar dengan menggunakan pompa air.

“Untuk tanaman lain yang langsung ditanam di atas tanah, kami harus rajin memupuk, menyiram, serta menggemburkan tanah agar tanaman terawat dan tumbuh dengan baik. Biasanya, saya dan ibu-ibu PKK RW012 yang tergabung dalam Posdaya Soka yang melakukannya. Karena jika tanaman atau ikan-ikan ini sudah layak konsumsi akan digunakan sepenuhnya untuk kepentingan warga, tidak untuk dijual,” lanjut Ngasimun.

Sejauh ini sudah pernah dilakukan panen ikan nila dan lele. Hasil panen digunakan untuk konsumsi para tamu yang mengunjungi Posdaya maupun RW012. Ada juga yang diambil warga untuk dikonsumsi sendiri di rumah masing-masing. Hasil panen cukup bagus karena satu ekor ikan bisa mencapai ukuran timbang sebesar dua kilogram. Keunikan dari kebun gizi ini adalah dikombinasikan penanamannya dengan tumbuhan  khas apotik hidup, yakni lempuyang, jahe, kemangi, jinten, temu ireng, dan lain sebagainya. Pupuk juga menggunakan pupuk sederhana, yaitu pupuk kompos buatan sendiri dengan memanfaatkan tanah serta sampah-sampah rumah tangga maupun pekarangan rumah. Seperti daun-daun dan sisa sayuran maupun kulit buah yang dicampur menjadi satu untuk digemburkan.

“Inspirasinya adalah apotik hidup di era Pemerintahan Pak Harto. Pengembangannya adalah kebun gizi. Wajar saya terinspirasi program beliau, lha wong Indonesia pernah jadi lumbung pangan nasional karena jasa beliau,” pungkas pria asal Bantul, Yogyakarta itu.

Kebun Gizi Posdaya Soka dengan kolam ikan nila di dalamnya (bak biru).

Kegunaan kebun gizi juga sudah bisa dirasakan warga, baik sebagai pesona lingkungan hijau juga sebagai tempat mengambil kebutuhan memasak untuk kebutuhan mendesak seperti jahe, jinten, seledri, bahkan terong juga pernah diambil warga untuk dikonsumsi. Semua dibebaskan memanfaatkan kebun gizi karena Kebun Gizi Posdaya Soka adalah milik bersama. Termasuk warga yang belum menjadi anggota Posdaya Soka juga bebas mendayagunakan hasil-hasil Kebun Gizi Posdaya Soka. Belum ada data penggunaan kebun gizi sebagai sumber pangan bagi keluarga pra-sejahtera, namun sejauh ini, kehadiran kebun gizi sudah  mengarah ke sana. Untuk antisipasi darurat jika dibutuhkan keluarga miskin sebagai sandaran hidup pangan sementara.

Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...