Kenalkan Teknologi Transplanter, Mentan Turun ke Sawah di Lampung Selatan

KAMIS, 29 DESEMBER 2016

LAMPUNG — Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, yang selesai memberikan bantuan sebanyak puluhan unit alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada 25 kelompok tani (poktan) di Kabupaten Lampung Selatan, mengharapkan, penggunaan alat pertanian bisa membantu petani dalam gerakan percepatan tanam padi pada masa rendeng. Ia bahkan mengungkapkan, penggunaan alat-alat dan mesin pertanian yang dibantu oleh Kementerian Pertanian tersebut, harus digunakan dan dijaga para petani. Teknologi tepat guna dalam bidang pertanian tersebut, diharapkan mampu meningkatkan produktivitas tanaman padi sawah yang ada di Lampung Selatan yang dikenal sebagai lumpung padi di Lampung dan juga penyumbang beras di tingkat nasional. Tak ingin hanya berwacana soal penggunaan teknologi pertanian, ia bahkan rela berbasah-basah dan terkena kotoran lumpur sawah di Desa Bakti Rasa, Kecamatan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan.

Mentan Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman (paling kiri) dan Bupati Lampung Selatan Zainudin Hasan mencoba penggunaan rice transplanter.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, turun ke sawah yang dicanangkan dalam Masa Tanam (MT) Oktober-Maret 2016-2017 tersebut bersama dengan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Bupati Lampung Selatan Zainudin Hasan, dan Dandim 0421/LS Letkol Arm Untoro Hariyono, yang langsung menguji coba penggunaan alat penanam padi (rice transplanter) yang bisa dijalankan oleh petani untuk proses efisiensi waktu penanaman. Berdasarkan uji coba yang dilakukan bagi lahan pertanian seluas sekitar satu hektar dari luasan total panen serentak sebanyak 250 hektar di kawasan Kecamatan Sragi, proses penanaman berlangsung cepat dan bisa menghemat biaya tanam hingga 40 persen dibandingkan menggunakan tenaga kerja.

“Saya ingin mengajak petani di Lampung untuk melakukan alih teknologi tentunya untuk pencapaian swasembada pangan dari mulai proses pengolahan lahan, pemeliharaan hingga masa panen menggunakan alat pertanian modern. Hari ini saya langsung praktikkan di Lampung Selatan,” terang Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, didampingi Ketua MPR RI Zulkfili Hasan di Desa Bakti Rasa, Kecamatan Sragi, Kamis siang (29/12/2016).

Pemberian bantuan kepada sejumlah kelompok tani tersebut, menurut Andi Andi Amran, akan membantu petani mempercepat proses masa tanam yang selama ini terhambat akibat penggunaan alat yang masih tradisional. Selain lebih efisien dalam hal waktu dan biaya, ia mengakui, penggunaan alat tersebut bisa mempermudah pekerjaan bagi petani dan meningkatkan kualitas pertanian di Kabupaten Lampung Selatan. Ini menjadi sebuah perkembangan berarti bagi petani yang tinggal di kawasan eks rawa Sragi yang dibangun pada era Presiden Soeharto tersebut.

Alat penanam padi tersebut, ungkap Andi Amran, merupakan alat yang bisa membantu petani karena hanya dioperasikan menggunakan satu tenaga operator dan satu asisten. Selain itu, mesin tanam tersebut mampu menanam padi di areal persawahan seluas 1 hektar hanya dalam waktu sekitar 2-3 jam. Hasilnya pun bisa menghemat waktu dan tenaga serta pola penanaman bisa diatur lebih rapi.

“Bandingkan dengan menanam cara tradisional banyak membutuhkan tenaga dan waktu mesin rice transplanter ini menggunakan mesin jauh lebih efisien dibandingkan tenaga manusia,” ungkap Andi Amran Sulaiman.

Penggunaan alat rice transplanter yang efisien tersebut dibenarkan Suhadi (34), salah satu petani di Kecamatan Sragi yang telah memiliki alat tersebut sejak musim tanam sebelumnya. Ia mengaku, menanam dengan cara tradisional atau persemaian butuh waktu sekitar 30 hari bibit baru bisa ditanam. Bibit padi yang menggunakan alat penanam padi bermesin, diakuinya, bisa ditanam pada usia 20-25 hari dan kualitasnya tidak kalah dengan penanaman padi secara tradisional.

Ia bahkan mengaku, waktu yang dibutuhkan untuk menanam padi dengan rice transplanter lebih cepat dan cukup menggunakan benih sekitar 10 kilogram bibit untuk satu patok sawah. Ia juga mengungkapkan menggunakan mesin tersebut dirinya hanya membutuhkan waktu menanam bibit sekitar dua jam untuk menanam bibit padi di tanah seluas 5.000 meter persegi. Selain mendapat bantuan alsintan petani di wilayah Kecamatan Sragi yang didukung dengan saluran primer dan tersier dari Sungai Way Sekampung dan Way Pisang berharap, adanya bantuan alat dan mesin sedot. Alat dan mesin sedot tersebut digunakan selama musim kemarau sebab pola penanaman saat ini lebih mudah karena sedang masa rendengan. Sementara saat musim kemarau petani setempat kesulitan air dan disiasati dengan membuat sumur bor.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

 

Lihat juga...