Kisah Penjual Terompet Asal Wonogiri Tidur Beralas Tikar Bersama Istrinya

SABTU 31 DESEMBER 2016

YOGYAKARTA—Selain kembang api, terompet merupakan salah satu pernak-pernik yang selalu identik dengan perayaan malam pergantian tahun baru. Tak heran, setiap menjelang pergantian tahun seperti saat ini, banyak pedagang terompet musiman bermunculan di berbagai kota, termasuk juga kota  Yogyakarta, yang menjadi salah satu destinasi tujuan wisata.

Mulyanto sedang melayani pelanggannya.

Hampir di setiap sudut jalanan kota Gudek, para penjual terompet musiman bisa ditemui. Uniknya, mayoritas mereka justru berasal dari luar daerah. Salah satunya adalah Kabupaten Wonogiri yang terletak sekitar 100 kilometer sebelah timur Kota Yogyakarta. Mulyono adalah salah satu di antaranya.

Lelaki berusia 37 tahun ini merupakan salah seorang penjual terompet musiman asal dusun Ngaglik Bulukerto Wonogiri, Jawa Tengah. Sudah sejak sekitar seminggu terakhir ini, ia berjualan terompet bersama istrinya di Yogyakarta. Ia mengaku memang selalu rutin berjualan terompet setiap tahun baru guna menambah penghasilannya.

“Saya sudah puluhan tahun berjualan terompet. Namun memang hanya saat menjelang tahun baru seperti ini saja, ” ujar lelaki yang sehari-hari berprofesi sebagai petani dan buruh lepas ini saat ditemui Cendana News, Sabtu (31/12/2016).

Mulyanto bersama istrinya mengaku membawa sedikitnya 700 buah terompet untuk ia jual dan pasarkan di Kota Yogyakarta. Istri Mulyanto berjualan di sekitar Pasar Terban Yogyakarta, sementra Mulyanto sendiri berjualan secara berpindah-pindah di sejumlah lokasi dengan menggunakan sepeda motornya.

“Saya bersama istri sudah mulai berjualan di Yogja sejak sekitar seminggu lalu. Kalau malam saya tidur menempati emper lapak di Pasar Terban, dengan menggelar tikar, ” tutur bapak dua anak itu.

Berbagai macam jenis atau model terompet dijual Mulyanto. Mulai dari terompet dot, terompet bergambar kartun, hingga terompet berbentuk naga. Satu buah terompet rata-rata ia jual Rp10.000 hingga Rp15.000 tergantung dari jenisnya.

Mulyanto mengaku membuat sendiri semua dagangan terompet yang ia bawa. Daerah tempat tinggal Mulyanto, yakni Kelurahan Bulukerto, Wonogiri, selama ini memang dikenal sebagai daerah pengrajin terompet. Pasalnya tak sedikit warga di desanya itu sudah sejak puluhan tahun membuat terompet untuk kemudian dijual di kota-kota besar, saat tahun baru tiba.

“Di desa saya ada puluhan pengrajin terompet. Semua memiliki keterampilan membuat terompet secara turun temurun. Bapak saya sendiri, dulu setiap tahun baru juga selalu membuat dan menjual terompet, ” katanya.

Untuk tahun ini sendiri, Mulyanto mengaku penjualan terompet memang agak sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya. Dalam seminggu berjualan biasanya paling tidak ia telah mampu menjual sekitar 350 terompet, dan akan meningkat drastis pada saat hari terakhir menjelang pergantian tahun.

“Kalau tahun ini agak sepi. Ini saja belum ada separo yang terjual. Mudah-mudahan nanti malam bisa terjual banyak. Tapi kalau pun masih sisa ya dibawa pulang. Untuk dijual tahun baru berikutnya,” pungkasnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...