Kisah Produk Kemplang Khas Lampung Laris di Akhir Tahun

JUMAT 30 DESEMBER 2016

LAMPUNG—Akhir tahun dan mobilitas masyarakat yang akan merayakan pergantian tahun baru dan berakhirnya masa libur menjadi sebuah waktu yang ditunggu produsen kemplang. Sebutan kerupuk yang dibuat dengan cara dibakar tersebut menjadi makanan khas di daerah Lampung yang dijual oleh para pedagang di sepanjang Jalan Lintas Sumatera. 

Proses pengemasan kerupuk kemplang oleh Ratna (celana ungu) yang akan dipasarkan.
Rata rata penjual kerupuk kemplang berbahan dasar ikan, tepung tapioka tersebut membeli dari produsen kemplang yang ada di wilayah Lampung Selatan. Salah satu produsen kemplang  di Desa Klaten Kecamatan Penengahan ditekuni oleh Sulityono dan sang isteri Ratna Yunianti. 
Proses produksi kerupuk kemplang tersebut tak bisa dilepaskan dari proses pembakaran menggunakan arang dan pekerja perempuan yang setiap hari memproduksi sekitar 1-3 bal kerupuk kemplang.
Dibutuhkan Jumlah Arang yang Besar
Kebutuhan akan arang di antaranya arang batok kelapa, arang kayu kopi masih memanfaatkan produksi dari warga pembuat kopra di wilayah setempat. Ratna Yulianti bahkan mengungkapkan kebutuhan akan arang kelapa dan arang kayu selama satu tahun terakhir nyaris mencapai satu ton dengan proses stok dan membeli saat kebutuhan arang berkurang. 
Penggunaan arang masih dipertahankan karena cita rasa kerupuk kemplang yang dihasilkan memiliki rasa yang khas. Selain menjadi penghasilan tambahan bagi pembuat kopra, pembuatan kerupuk kemplang yang menggunakan arang kelapa membuat limbah batok kelapa bisa menjadi produk turunan yang bisa dimanfaatkan.

“Sistem pemesanan kami lakukan setelah stok karung arang kelapa yang kami miliki habis biasanya menyiapkan sekitar 50 karung arang kelapa, sepanjang tahun ini saja sudah menghabiskan arang kelapa hampir satu ton,” ungkap Ratna Yulianti saat ditemui Cendana News dalam proses pembuatan kerupuk kemplang di Desa Klaten Kecamatan Penengahan, Jumat (30/12/2016).

Pembuatan arang untuk pembakaran kemplang.
Produksi kemplang tersebut lanjut Ratna merupakan sebuah mata rantau yang saling berhubungan dan menguntungkan. Bagi pembuat kopra batok batok kelapa yang sudah terbuang dibakar hingga menjadi arang kelapa dengan harga sekitar Rp30.000 per karung atau berisi sekitar 50 kilogram arang. 
Proses pembakaran batok kelapa yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan arang juga menggunakan kayu kopi yang selanjutnya akan ikut menjadi arang yang akan digunakan sebagai bahan untuk membakar kerupuk kemplang. Arang yang dibakar di atas anglo akan mematangkan bahan kerupuk yang semula berdiameter sekitar 5 centimeter menjadi sekitar 20 centimeter yang selanjutnya disimpan pada plastik besar dan plastik kecil.

Permintaan pada masa akhir proses pembakaran kerupuk kemplang menurut Hamdani, salah satu pengrajin kopra yang membuat arang tetap tidak akan membuatnya kehabisan pesanan. Arang arang kelapa sejak sepekan terakhir bahkan diakuinya banyak diminta oleh sejumlah pengepul dengan banyaknya tradisi bakar bakar (barbeque) oleh masyarakat saat malam pergantian tahun (31/12) dan pada saat awal tahun (1/1). 

Perempuan pekerja pembuat kemplang siap menjemur kemplang yang akan dijemur.
 Ia bahkan telah mengirim sekitar 3 ton arang kelapa ke Pulau Jawa dalam pekan ini karena tingginya permintaan selain dijual dengan eceran sebagian juga dijual untuk bahan baku pembuatan kosmetik atau obat obatan. Penggunaan arang batok kelapa semakin meningkat menjelang akhir liburan sekolah, tahun baru karena tradisi merayakan pergantian tahun tersebut masih menjadi sebuah kebiasaan yang dipertahankan dengan berpesta di antaranya membakar ikan, ayam serta daging.

Sementara itu Ratna mengaku proses pembakaran kemplang pada (30/12/2016) menjadi masa pembakaran kerupuk kemplang terakhir sepanjang tahun 2016 ini karena sore hari kerupuk kemplang tersebut sudah akan diambil oleh pedagang pengecer yang akan dijual ke sejumlah toko oleh oleh atau penjualan kemplang secara dadakan di sepanjang pinggir Jalan Lintas Sumatera. Kemplang yang dijual dengan harga eceran Rp7.000,- perbungkus berisi sekitar 10 kemplang dijual oleh Ratna dengan harga Rp5.500 dan diambil oleh penjual meski terkadang saat kondisi banyak pesanan sang suami akan mengantar langsung ke pengecer.

Kerupuk yang dibuat secara tradisional tersebut merupakan buah ketekunan dari para perempuan yang tergabung dalam usaha peningkatan pendapatan keluarga (UP2K) Tim penggerak pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK) Desa Klaten. Puluhan perempuan tersebut dengan telaten bekerja membuat kerupuk kemplang sejak belasan tahun lalu untuk memproduksi ratusan bal kerupuk kemplang yang dijual sebagai oleh oleh.

“Biasanya akhir tahun dan tahun baru warga yang berlibur di Pulau Sumatera akan membawa oleh oleh kemplang yang akan dibeli di toko toko sepanjang jalan dan permintaan meningkat saat akhir tahun,” terang Ratna.

Puluhan pekerja perempuan tersebut bekerja sejak pukul 08:00 pagi saat anak anak sedang sekolah dan pekerjaan rumah tangga sebagai ibu rumah tangga dibereskan. Selain itu industri pembuatan kerupuk yang dimiliki oleh Sulityono dan sang isteri Ratna Yunianti. Industri rumahan dengan pemberdayaan kaum perempuan di Dusun Karanganyar tersebut bahkan terus bertahan dengan pengerjaan dominan dilakukan oleh perempuan.

“Nyaris semua dilakukan oleh perempuan dan hanya mengadon tepung tapioka yang dilakukan oleh suami saya, “ungkap Ratna Yunianti.

Selama hari biasa proses pembuatan kerupuk kemplang diakuinya membutuhkan tenaga kerja perempuan sebanyak 6 orang meliputi pekerjaan merebus, membakar, menjemur hingga proses membungkus kerupuk kemplang yang sudah selesai dibakar. Cuaca panas yang mendukung proses penjemuran membuat proses pengerjaan kerupuk kemplang bisa diselesaikan dalam waktu dua hari dan lebih lama saat musim hujan.

Ratna mengaku sebagian kaum ibu yang membantunya merupakan warga sekitar yang mendapat upah puluhan ribu setiap harinya. Selain digunakan sebagai tabungan untuk kebutuhan harian keluarga sebagian perempuan tersebut sengaja menjadi pekerja di tempat pembuatan kerajinan kemplang karena tidak memiliki pekerjaan sampingan.

Meskipun harus kotor dengan arang, namun ia mengaku saat menjelang akhir masa liburan merupakan momen tingginya permintaan akan kerupuk kemplang sekaligus mencetak uang baginya dengan penghasilan mencapai ratusa ribu perminggu.

“Suami kerja dan di rumah kami tidak memiliki pekerjaan sampingan kalau musim tanam jagung ya jadi buruh tanam dan kalau lagi sepi kami ikut membuat kerupuk kemplang,” ungkap Yuni.

Yuni mengaku jarak yang dekat dengan rumah membuatnya nyaman bekerja meski sebagai seorang ibu, lokasi sekolah bagi sang anak memungkinkannya mengawasi sang anak dan saat pulang sekolah sang anak bisa bermain di lokasi dekat tempat dirinya bekerja. 

Proses pembakaran menggunakan arang kayu.
Proses pekerjaan selama satu hari dengan pembuatan rata rata 50 kilogram bahan tepung tapioka merupakan pekerjaan sehari hari untuk membuat kerupuk kemplang. Permintaan yang banyak menjelang arus liburan tahun baru 2017 bahkan membuat permintaan hingga ratusan ball kerupuk kemplang menjadikan kaum perempuan tersebut sibuk bekerja.

“Suami kerja jadi buruh dan kami juga jadi buruh, hasilnya lumayan ini kan sedang liburan nanti uangnya bisa untuk membeli keperluan anak sekolah di tahun ajaran baru,” ungkap Yuni yang memiliki anak yang duduk di kelas 5 Sekolah Dasar.

Pada minggu kedua ini, Ratna sang pemilik usaha mengaku kebutuhan akan tenaga kerja perempuan mencapai puluhan sebab permintaan kerupuk kentang pada akhir tahun meningkat. Pemesannya adalah penjual oleh oleh di terminal dan pelabuhan. Kondisi tersebut membuat peranan perempuan yang ikut membangtu proses pembuatan kerupuk kemplang tersebut menjadi penyokong usaha rumahan kerupuk kemplang yang juga menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat pedesaan.

Ratna mengungkapkan penggunaan tenaga kaum ibu yang ada di desanya sekaligus upaya melakukan pemberdayaan perempuan terutama saat tidak memiliki pekerjaan sampingan dan selesai masa tanam dan panen di lahan pertanian. Selain bisa menambah penghasilan usaha kerupuk kemplang tersebut ikut menghidupkan perekonomian kaum perempuan di desanya dengan memiliki penghasilan tambahan sebagai seorang ibu, perempuan yang ikut menyokong perekonomian keluarga di samping sang suami yang mencari nafkah. Sebuah hubungan yang saling menguntungkan bagi para pengrajin arang, para perempuan dan pembuat kemplang yang terus mencetak uang melalui kerupuk kemplang yang dibakar.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi

Lihat juga...