Lewat Lampion Kampung Bantaran Kali Code Yogya Jadi Dikenal

RABU, 28 DESEMBER 2016

YOGYAKARTA — Beberapa tahun lalu, kampung Ledok Code, RT 18 RW 04, Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta, hampir selalu sepi. Meski berada di pusat kota Yogya, tak banyak orang mau melirik apalagi mengunjungi kampung padat yang berada di bantaran Kali Code itu. Namun satu tahun terakhir,  kampung Ledok Code begitu dikenal. Tak sedikit orang, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa, berbondong-bondong blusukan ke kampung itu.

Suasana kampung Ledok Code RT 18 RW 04 Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta.

Gagasan kreatif pemuda kampung untuk membuat sebuah acara Festival Lampion satu tahun terakhir, memang telah mampu mengangkat nama kampung Ledok Code. Melalui festival lampion tersebut, warga kampung bantaran kali yang selalu dipandang kumuh itu, seolah ingin membuktikan pandangan orang-orang yang selama ini salah.

“Acara festival lampion ini kita gelar selama beberapa hari setiap menjelang akhir tahun. Ini merupakan penyelenggaraan kali ke dua. Dulu awalnya lampion-lampion ini kita pasang hanya untuk memeriahkan HUT Kota Yogya. Tapi, akhirnya, kita buat menjadi acara festival rutin setiap tahun. Tujuannya tak lain agar orang-orang bisa datang dan melihat secara langsung kampung ini,” ujar Ketua RT 18 Kampung Ledok Code, Sugeng Hermanto, Rabu (28/12/2016).

Sugeng berharap, banyaknya orang yang datang ke kampungnya, paling tidak bisa merubah pandangan negatif selama ini terhadap kampung di kawasan bantaran sungai. Selain itu juga untuk mengenalkan potensi yang dimiliki warga bantaran sungai, yang sebenarnya tidak kalah dengan kampung-kampung lain pada umumnya.

Kampung Ledok Code sendiri khususnya RT 18 RW 04, hanyalah sebuah kampung kecil di bantaran sungai. Terdapat sebanyak 33 kepala keluarga yang menempati sekitar 30 rumah dengan total jumlah penduduk mencali 90 orang. Mayoritas warga kampung ini merupakan pendatang asal luar Yogya yang sudah menetap sejak sekitar tahun 1990-an. Mayoritas warga kampung ini bekerja sebagai buruh harian lepas, seperti pedagang bakso, tukang parkir, dan sebagainya. Sebanyak 95 persen warga kampung ini bahkan terdaftar sebagai warga miskin dan mendapat jaminan Kartu Menuju Sejahtera (KMS).

“Tahun 1996 saat saya pertama kali datang ke kampung ini, memang masyarakat di sini kurang bisa menjaga kebersihan dan ketertiban, sehingga membuat kampung tampak kumuh. Dulu hampir setiap hari selalu ada perkelahian di sini. Namun lambat laun, kini kesadaran warga semakin meningkat. Mereka bahkan mulai tertib dengan tidak lagi membuang sampah di sungai,” ujarnya.

Perkembangan positif warga Ledok Code tersebut memang tak bisa dilepaskan dari peran sejumlah LSM maupun komunitas yang turut membantu dan memberikan pendampingan bagi warga kampung. Salah satunya Komunitas Cemara yang dianggotai sejumlah mahasiswa. Selama ini ikut membimbing warga khususnya anak-anak lewat kegiatan belajar kelompok. Mereka pulalah yang mendorong warga untuk membuat acara festival lampion hingga membuat kampung Ledok Code dikenal seperti saat ini.

“Kampung ini berada di bantaran sungai. Hampir tidak terlihat karena kalah dengan gedung-gedung megah yang dibangun di kanan dan kirinya. Karena itulah kita mendorong warga agar membuat kegiatan positif supaya kampung ini lebih ‘terlihat’. Faktanya kampung ini memang ada. Terlebih hampir semua rumah warga di sini tidak memiliki sertifikat tanah. Sehingga membuat mereka sulit mendapatkan bantuan dari pemerintah,” ujar salah seorang anggota Komunitas Cemara, Anggit Setia Murti.

Meski tak berdampak secara langsung terhadap peningkatan ekonomi, namun upaya yang dilakukan warga kampung Ledok Code itu pun nyatanya pelan-pelan membuahkan hasil. Berkat adanya gagasan penyelenggaraan festival lampion itu, sejumlah bantuan dari pihak-pihak swasta pun mulai masuk ke kampung Ledok Code, setahun belakangan. Bantuan berupa tandon air, sarana MCK dan perbaikan aula pertemuan RT, diterima kampung Ledok Code.

Kampung terasa lebih familiar dengan adanya lampion.

“Tentu senang, karena kampung ini sekarang lebih dikenal dan banyak didatangi orang. Kita sebagai warga pinggiran sungai juga merasa tidak malu lagi. Karena sebenarnya warga kampung pinggiran sungai juga sama seperti warga kampung lainnya, ” ujar salah seorang warga kampung Ledok Code, Sumini.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...