Memanusiakan Orang Dengan Gangguan Jiwa, Suster Lucia Mendirikan Panti Dymphna

JUMAT, 30 DESEMBER 2016

MAUMERE — Mendirikan panti khusus perempuan untuk menampung Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODHJ) atau Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) dan merawat mereka tanpa meminta imbalan sepeser pun dari keluarga pasien merupakan sebuah ketidaklaziman. Orang-orang yang terpinggirkan ini diantar orang dari berbagai wilayah di provinsi NTT bahkan dari Jawa, Kalimantan dan Sumatera untuk dirawat hingga sembuh.

Suster Lucia, CIJ, bersama seorang anak cacat yang ditampung bersama para perempuan penghuni Panti Dymphna.

Tugas mulia dilakoni Suster Lucia, CIJ selama 12 tahun tanpa henti bahkan panti yang didirikannya pun harus jatuh bangun berjalan tertatih untuk bisa bertahan hidup demi memanusiakan orang-orang yang terkucilkan.
Saat ditemui Cendana News di panti Dymphna, Jumat (30/12/2016), Suster Lucia banyak berceritera tentang suka dukanya sejak saat mendirikan panti hingga harus pontang-pontang mencari uang membiayai gaji karyawan dan kebutuhan penghuninya.

“Saya mendirikan panti ini karena tergerak oleh belas kasihan, sebab ibadah sejati itu hidup berbelas kasih. Ketika kita beribadah kalau tidak berbelas kasih maka akan sia-sia,” ucapnya.

Menjawab Tantangan
Panti rehabiltasi penyandang cacat Santa Dymphna  milik Yayasan Bina Daya (Yasbida) cabang Sikka ini dibangun 26 Januari 2004 oleh Suster Lucia,CIJ. Dalam perenungan dirinya  melihat yang paling miskin orang yang terkucilkan adalah orang-orang dengan gangguan jiwa.

Dikatakan Sofia Meo, orang dengan gangguan jiwa tidak dimandikan dan bertahun-tahun tidak dikunjungi, dipasung bahkan dianiaya. Saat mereka secara tidak sadar mengeluarkan kata-kata kotor kepada orang normal yang membalasnya lebih sadis.

“Masyarakat masih merasa ketakutan dan menjauhi orang-orang seperti ini. Di pantai ini kami menampung wanita-wanita yang terkurung secara kejiwaan dan biasanya karena masalah keluarga, keturunan, tekanan ekonomi, dan lainnya,” sebutnya.

Hadirnya panti Dymphna, jelas Suster Lucia, berawal saat dirinya memfasilitasi 10 gadis cacat untuk diberikan pelatihan menjahit November 2003 yang didanai Dinas Sosial Kabupaten Sikka. Suatu ketika, beber suster kelahiran Mataloko, Kabupaten Ngada, ke sepuluh gadis cacat ini memintanya agar mereka bisa ditampung di tempatnya. Supaya bisa belajar keterampilan lain selain menjahit. Dirinya menanggapi permintaan mereka dengan mengatakan tidak mempunyai dana guna membangun panti. Awalnya permintaan itu ditanggapi dingin. Kedatangan 10 gadis tadi dengan permintaan yang sama di lain waktu  membuatnya kembali tersentak dan tergerak untuk menjawab tantangan ini.

“Ini adalah peluang, rahmat yang harus ditanggapi dalam aksi yang nyata. Allahlah yang menghendaki semuanya ini lewat anak-anak ini,” sebutnya.

Akhirnya, bersama ke 10 gadis tersebut, Suster Lucia, CIJ meminta bantuan dana di beberapa toko di Maumere dan instansi pemerintah. Selama 3 hari aksi mereka mampu mengetuk hati orang yang mempunyai kepedulian terhadap orang kecil yang ditandai dengan terkumpulnya dana sebesar Rp 462.500.

“Modal awal ini ditambah dengan uang pribadi saya sebesar dua juta rupiah hasil honor saat memberi pelatihan menjahit yang kami pakai untuk mulai membangun panti,” jelasnya.

Selepas peletakan batu pertama, jelang tiga bulan pembangunan panti tak urung selesai. Perjalanan pembangunan mulai tertatih-tatih akibat ketiadaan dana. Setelah mendiskusikan apa yang dihadapi dengan Sinas Sosial Sikka, dana 8 juta rupiah pun dikucurkan. Pembangunan panti pun rampung setelah 6 bulan dikerjakan. Meski jatuh bangun dalam pembangunannya, Suster Lucia tidak berputus asa dan tetap yakin pembangunannya bisa selesai berkat campur tangan Tuhan.

“Santa Dymphna dalam agama Katolik dikenal sebagai santa pelindung penderita penyakit syaraf dan ingatan. Nama ini yang selalu menginspirasi kami untuk terus berkarya,” terangnya.

Terapi Berdoa
Suster Lucia berharap agar siapa saja yang menemukan kaum perempuan yang mengalami gangguan jiwa antarlah ke panti miliknya dan jika keluarga tidak proaktif, siapa saja yang peduli bisa mengantarnya sebab tenaga panti terbatas untuk mencari orang-orang dengan gangguan jiwa. Saat ini panti Dymphna menampung 98 orang dengan gangguan jiwa. Di tempat rehabilitasi ini, penekaannya lebih kepada psiko spiritual sebab kesembuhan mereka lebih kepada penyelenggaraan Tuhan. Semua kegiatan dilakukan hanya dengan berdoa saja.

“Kami memberi  obat kalau memang kondisi pasien sudah sangat parah namun ini hampir tidak pernah kami lakukan,” sebutnya.

Bagi Suster Lucia, tidak bisa ditargetkan berapa lama seorang pasien yang ditampung bisa sembuh, semuanya tergantung dari bagaimana rahmat yang Tuhan anugerahkan kepada setiap pribadi serta dukungan keluarga yang tentunya sangat penting.

Ditambahkan suster yang sangat sabar ini, para penghuni panti setiap hari bangun jam 1 pagi untuk membuat kue yang akan dijual di beberapa kios milik panti di pasar. Uang-uang ini yang nantinya dipakai untuk membiayai kehidupan panti dan juga diberikan ke penghuninya.

“Saya punya kerinduan membangun panti laki-laki dan keinginan itu sangat besar. Tapi siapa yang mau membantu? Soalnya sudah sekitar 25 orang yang diantar ke sini tapi kami terpaksa tolak,” ucapnya sedih. Saat ditanyai apa yang paling berkesan selama merawat orang-orang dengan gangguan jiwa, Suster Lucia katakan, setelah 3 minggu dirawat pasien sudah ada perubahan dan saat mereka tersenyum itu suatu kebahagian baginya.

Namun, katanya penuh haru, untuk bisa bertahan hidup selama 12 tahun saja mereka hanya mengandalkan tangan Tuhan lewat orang-orang yang tergerak membantu meringankan bebannya lewat sumbangan dana. Suster Lucia tegaskan, orang dengan gangguan jiwa pun memiliki hak untuk mendapat perlakuan secara manusiawi. Bahkan, katanya, mereka masih memiliki jiwa sosial bila dibandingkan orang yang waras.

Suster Lucia, CIJ, bersama para perempuan dengan gangguan jiwa penghuni Panti Dymphna.

“Ikan yang jatuh saja mereka pilih dan bagi dengan temannya, kenapa kita yang nota bene sehat dan tidak mengalami gangguan jiwa tidak bisa berbagi dengan sesama kita?” pungkasnya.

Jurnalis: Ebed de Rosary / Editor: Satmoko / Foto: Ebed de Rosary

Lihat juga...