Mengisi Bank Sampah Sampai Juling di Posdaya Soka Jakarta Selatan

JUMAT 30 DESEMBER 2016

JAKARTA—Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri—Setiap hari Jumat, bertempat di Posdaya Soka, RW012 Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan dibuka meja Bank Sampah oleh Ibu-Ibu PKK Posdaya Soka dari Jumantik (Jumat Pemberantasan Jentik) dalam sebuah kegiatan gabungan bernama Juling (Jumat Keliling).

Sudarni Adi, Kabid. Ekonomi Tabur Puja Posdaya Soka dan penggiat industri kreatif
Anggota Posdaya akan berkeliling menyambangi warga atau anggota Posdaya lainnya untuk mengumpulkan sampah-sampah rumah tangga berupa gelas plastik air mineral bekas, kaleng minuman bekas, plastik,kardus, kertas sampai buku-buku bekas untuk mengisi Bank Sampah. Buku Tabungan Bank Sampah yang dimiliki warga bisa langsung diisi seraya melakukan kegiatan keliling tersebut. Namun jika ada anggota yang ingin datang langsung ke Posdaya Soka untuk membawa sampah-sampah tersebut juga diperbolehkan.

“Mekanisme pengumpulannya sebenarnya nasabah Bank Sampah datang langsung ke Bank Sampah membawa tabungan sampah beserta buku lalu diterima dan dicatat oleh petugas kami. Tapi tidak semua nasabah memiliki waktu untuk datang, jadi kami kombinasikan dengan menjemput sampah itu melalui sinergi kegiatan Juling atau Jumat Keliling bersamaIbu-ibu Jumantik Posdaya Soka. Akan tetapi warga yang ingin datang menyetorkan langsung sampahnya bisa, karena petugas siap sedia tiap
hari Jumat,” tutur Sudarni Adi yang akrab disapa Darni, Kepala Bidang Ekonomi Tabur Puja, Posdaya Soka kepada Cendana News, kemarin (29/12/2016).

Selain itu, sambil keliling mengisi Bank Sampah, kegiatan Juling juga digunakan Ibu-ibu PKK Posdaya Soka untuk melakukan pemeriksaan jentik nyamuk di masing-masing rumah warga wilayah RW012. Sejauh ini, dapat dipastikan wilayah kerja Posdaya Soka di RW012 terbebas dari jentik nyamuk berkat kegiatan Juling.

Bank Sampah Posdaya Soka yang dijalankan oleh kader-kader Posdaya Soka bersama Ibu-ibu PKK juga mengalami kemajuan pesat. Berawal dari pembentukan Bank Sampah di wilayah RW012 pada 2009, kegiatan ini justru menemukan puncak kesuksesan setelah terbentuknya Posdaya Soka RW012  Kelurahan Kebayoran Lama Selatan sejak 2012 hingga saat ini.

“Posdaya Soka berpendapat, peran Bank Sampah sejatinya adalah bagaimana memberdayakan sekaligus menggali potensi kreativitas masyarakat, bukanlah untuk mengajari masyarakat mencari uang.  Itu dulu yang harus dipahami sebelum masuk lebih jauh menggiatkan Bank Sampah,” kata Darni.

Lebih jauh Darni coba menguraikan, menurutnya jika dilihat dari sisi ekonomi, tidak ada yang bisa dilakukan jika memang masyarakat digiring untuk mengandalkan hasil Bank Sampah. Karena Bank Sampah hanya diambil pengepul dalam periode 6 (enam) bulan sekali. Selain itu, hasilnya juga harus dibagi rata kepada seluruh anggota masyarakat yang ikutmenabung di Bank Sampah.

“Dari yang sudah berjalan selama ini, setiap enam bulan sekali, Bank Sampah Posdaya Soka menghasilkan kurang lebih Rp2.000.000. Jika dibagikan kepada seluruh nasabah berdasarkan buku tabungan Bank Sampah masing-masing mungkin tiap nasabah hanya mendapat bagiannya antara Rp6000 sampai Rp10.000,” tambahnya.

Oleh karena itu, pengurus Bank Sampah mengubah sejumlah uang hasil penjualan sampah-sampah tersebut menjadi perlengkapan rumah tangga seperti sabun mandi, sabun cuci bahkan sembako. Lalu di mana bentuk pemberdayaan dan penggalian potensi kreativitas warga yang disebutkan di atas?

“Melalui kegiatan Bank Sampah ini, anggota kami mrngedukasi untuk aktivitas Kerajinan Daur Ulang. Yakni mendaur ulang atau memproduksi kembali beberapa jenis sampah rumah tangga seperti pembungkus atau sachet bekas kopi, sabun cuci, pewangi pakaian bahkan sampai bungkus permen dan sedotan menjadi industri kreatif yang bisa mendatangkan  penghasilan. Contoh hasil industri daur ulang bisa berupa tempat tissue, taplak meja, tas wanita sampai tas untuk membawa mukena untuk salat,” lanjut Darni lebih terperinci.

Memang demikian seharusnya konsep Bank Sampah. Dan Posdaya Soka berhasil menerjemahkan konsep tersebut secara utuh dalam kegiatannya. Sinergi antara kegiatan Bank Sampah dan Jumantik dalam Juling setiap minggunya sangat terasa dampaknya karena setiap Ibu-ibu PKK bersama anggota Posdaya terus berusaha memproduksi industri kreatif daur ulang untuk didagangkan melalui bazaar, pameran maupun acara-acara sejenis.

“Kami biasa ikut bazaar maupun pameran industri kreatif. Dari kegiatan bazaar internal Yayasan Damandiri melalui Program Tabur Puja sampai kegiatan yang diselenggarakan Kelurahan, Kecamatan dan Kotamadya Jakarta Selatan. Contohnya saat kami ikut bazaar Tabur Puja di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, September 2016, produksi daur ulang kami ludes terjual dengan total omzet kurang lebih Rp2.000.000. Hasil itu kami kembangkan lagi untuk usaha lain seperti kuliner dan lain sebagainya,” paparnya meneruskan.

Pelatihan membuat industri kreatif daur ulang didapat warga RW012 Kelurahan Kebayoran Lama Jakarta Selatan awalnya diberikan oleh PT.Unilever Indonesia dalam Program Green and Clean sejak awal berdirinya Bank Sampah di RW012 pada 2009. Namun sejak 2012, ketika sudah masuk ke dalam lingkaran pemberdayaan Yayasan Damandiri dan terbentuk Posdaya Soka, perkembangan Bank Sampah serta industri kreatif daur ulang semakin diminati warga karena begitu masif diberdayakan oleh Posdaya Soka.

“Jadi untuk kegiatan Juling, ada dua pencapaian yang kami tuju, yaitu tujuan utama adalah kemajuan Bank Sampah serta bagaimana memberdayakan warga untuk industri daur ulang dan pembebasan wilayah kerja Posdaya Soka dari jentik nyamuk. Ada sinergi tiga aspek pemberdayaan Yayasan Damandiri yang terjadi, yakni aspek lingkungan, ekonomi dan kesehatan,” pungkas Darni.

Ruang Penampungan Bank Sampah Posdaya Soka.
Jurnalis: Miechell Koagouw/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Miechell Koagouw
Lihat juga...