Menikmati Wisata Kelotok Sungai Martapura

JUMAT 30 DESEMBER 2016

BANJARMASIN— Kamiliairdina merengek seraya menggelayut manja di pangkuan ibunya yang duduk di pinggir siring Pierre Tendean, Kota Banjarmasin. Menjelang siang pada Jumat ini, gadis cilik berusia 4 tahun, itu tak sabar menunggu antrean untuk menumpang perahu kelotok. Mereka agaknya antusias mencoba sensasi menyusuri secuil alur Sungai Martapura yang membelah Kota Banjarmasin.

Titik tolak wisata susur Sungai Martapura di Siring Pierre Tendean.

Maklum, mereka pelancong asal Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang kebetulan ingin menghabiskan akhir tahun di Banjarmasin. “Di Banyuwangi enggak ada wisata susur sungai pakai perahu, jadi ingin merasakan naik perahu,” ujar Wahyu Widiyaningsih, si ibu kandung Kamiliairdina saat ditemui Cendana News, Jumat (30/12/2016).

Wahyu mesti menebus tiket karcis senilai Rp5.000 per orang sebelum berwisata naik perahu kelotok. Kalau menolak antre, petugas karcis menawari sewa borongan perahu kelotok di luar tarif resmi dengan banderol Rp100 ribu. “Kemahalan, lebih baik nunggu rombongan lain saja,” ujar Wahyu.

Setengah jam antre, petugas memanggil Wahyu dan kerabatnya giliran menumpang kelotok. Bertolak dari pangkalan kelotok di siring Pierre Tendean, motoris perahu membawa pelancong menyusuri sepanjang siring dengan rute Jembatan Pasar Lama hingga Jembatan Antasari.

Pelancong asyik mengabadikan foto patung bekantan sambil menumpang kelotok.

Di balik deru motor tempel yang meraung dari buritan kelotok, mereka tampak sumringah menyusuri Sungai Martapura. Selain mengintip secuil pusat kota Banjarmasin dari balik dinding siring, wisatawan bisa melihat patung bekantan. Patung ini resmi ditetapkan sebagai ikon Kota Banjarmasin.

Bila Anda ingin mendapatkan sensasi yang lebih menarik, motoris menawari paket wisata rute Siring Pierre Tendean-Pulau Kembang-Pulau Bakut atau Siring Pierre Tendean-Pasar Apung Lokbaintan pergi pulang. Pulau Kembang merupakan area Konservasi kera ekor panjang di tengah Sungai Barito. Sementara Pulau Bakut termasuk area konservasi bekantan di bawah jembatan Sungai Barito, Kecamatan

Alalak, Kabupaten Barito Kuala. Tarif paket wisata rute pertama dibanderol Rp 600 ribu dan 350 ribu untuk rute Siring Pierre Tendean-Pasar Apung Lokbaintan, yang berlaku pada hari Senin-Sabtu setiap pekan.

Adapun bila mengambil rute Siring Pierre Tendean-Pulau Kembang hanya dikenai tarif Rp300 ribu. “Kalau hari Minggu atau hari libur, tarif naik dua kali lipat,” kata Usuldin, seorang motoris kelotok.

Menurut dia, rute-rute itu melewati perkampungan penduduk yang tinggal di sepanjang bantaran sungai. Walhasil, pelancong bakal menikmati sensasi kearifan masyarakat Banjar yang hidup bergantung pada aliran sungai. Rute Siring Pierre Tendean-Pulau Kembang ditempuh 30 menit. Adapun rute siring Pierre Tendean-Pulau Bakut menempuh waktu 1 jam 15 menit. Motoris biasanya menawarkan alternatif wisata paket atau hanya mengambil salah satu rute.

Alternatif lain setelah puas menyusuri Sungai Martapura, Anda bisa menikmati patung bekantan dalam radius 200 meter dari obyek wisata perahu kelotok. Pemerintah Kota Banjarmasin menggratiskan kunjungan di patung bekantan itu.

Budayawan Banjarmasin, Zulfaisal, menyatakan Pemko Banjarmasin sedang gencar menggarap potensi wisata berbasis sungai. Menurut dia, Banjarmasin mesti serius memaksimalkan destinasi wisata menyesuaikan kondisi geografisnya. “Banjarmasin kan terkenal julukan Kota Seribu Sungai,” kata Zulfaisal.

Menjangkau destinasi wisata perahu kelotok Sungai Martapura cukup mudah karena berada tepat di pusat Kota Banjarmasin. Di hari Minggu, area wisata perahu kelotok ini bersalin jadi arena pasar apung dadakan.

Jurnalis: Diananta P. Sumedi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Diananta P. Sumedi

Lihat juga...