“Ngamen Nyeni Tahun Baruan 2017: Unjuk Gigi Musik Sunda

SABTU  31 DESEMBER 2016
BANDUNG—Sebagai salah satu produk kebudayaan, musik tradisional diyakini tetap bisa eksis bertarung di tengah gempuran musik impor. Terlebih apabila sang musisi mau membuka diri pada ornamen musik moderen.
Aksi panggung Buhun Squad di Ngamen Nyeni Tahun Baruan 2017 di Bandung.
Hal tersebut ditegaskan oleh kelompok Buhun Squad, pada pentas “Ngamen Nyeni Tahun Baruan 2017” di Jalan Dr. Ir. Sukarno (Cikapundung Timur), Kota Bandung, Sabtu (31/12/2016). Di tangan mereka, bunyi alat musik tradisional Sunda mampu diolah menjadi sebuah karya yang orisinil.
Kelompok musik ini digawangi oleh Ate (vokal), Antony (kecapi), Abung (celempung goong), Abot (celempung renteng 1), Adit (celempung renteng 2), Sansan (gemyung buhun), Upay (keset awi), Sonny (go’ong tiup/ terompet / toleat), Winda (karinding), imas (juru kawih).
Mereka menyelaraskan musik tradisional dengan genre musik lain, yakni musik ekstrem ala undergrond. Itu bisa dikenali lewat teknik vokal Ate yang memang bergaya growl. Namun identitas Sunda tetap terasa melalui ornamen kecapi, iringan musik bambu ditambah kala Imas melantunkan kawih.
Manajer Buhun Squad, Bah Angin menyampaikan ada misi yang lain daripada sekadar bermusik. Dikatakan, kelompoknya ingin mengangkat identitas Sunda lewat seni musik.
“Kita juga ingin memberikan pesan untuk anak muda, mari kita mencitai budayanya sendiri.Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa mengakat budaya tersebut,” ujar Bah Angin.
Dia mengaku kelompok musiknya ini baru terbentuk sejak enam bulan lalu pada Juni 2016. Sulit kata dia untuk menemukan personel yang satu misi menjaga identitas Budaya Sunda.
Beberapa diantaranya merupakan kaum minoritas yang banyak menghabiskan waktu di jalanan. Dia ingin menghalau pandangan negatif dari masyarakat terhadap anak jalanan.
“Jangan di lihat dari luarnya, walaupun banyak gambar (tato) tapi mereka bisa terjun langsung mengangkat budaya Sunda,” urainya.
Ada keinginan kelompoknya menggarap sebuah album. Sebab bagaimanapun setiap musisi membutuhkan pengakuan lewat karya musik.
“Ada keinginan ke sana, membuat kompilasi mungkin tapi ya masih terbentur biaya,” pungkasnya.

Jurnalis: Rianto Nudiansyah/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Rianto Nudiansyah

Lihat juga...