Ngasimun : Pak Harto Membangun Indonesia sebagai Lumbung Pangan

KAMIS 29 DESEMBER 2016

JAKARTA—Laki-laki berkulit hitam, berperawakan sedang itu terlihat masih bugar di usianya yang sudah menginjak 70 tahun. Ketika menerima Cendana News, karakternya yang ramah, murah senyum mencuat.  Itulah kesan yang akan didapat bila kita bertemu Ngasimum, Ketua RW012, di kediamannya Jatayu Raya, Kampung Duku, Jalan Al-Brakoha, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. 

Ngasimun.

Ngasimun berasal dari  Desa Mangiran, Srandaan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.  Ahli listrik  lulusan Sekolah Tehnik Pertama (STP) Bantul  juga menjadi Ketua Posdaya Soka RW012 Kebayoran Lama Selatan sekaligus contoh penggerak para anggotanya.

Tubuhnya yang tetap bugar, mungkin karena kegemarannya naik sepeda. Menurutnya naik sepeda itu lebih sehat ketimbang naik sepeda motor dan mobil. Ia memiliki keistimewaan dalam menggerakkan warga RW012 maupun anggota Posdaya yakni memiliki mobilitas tinggi untuk turun langsung sampai ke bawah dalam memetakan rencana program yang akan dilakukan ke depannya.

Berikut petikan wawancara Cendana News mengenai bagaimana cara Ngasimun yang sudah memimpin RW012 selama 9 tahun dan membawa Posdaya Soka menjadi salah satu yang terdepan di Jakarta selama 4 tahun belakangan ini.

Apa rahasia Pak Ngasimun sampai bisa sejauh ini?
Giat bekerja, punya visi dan misi yang jelas serta tegas menjalankan setiap program kegiatan

Masa hanya seperti itu?
Saya ini anak petani, jadi terbiasa kerja keras. Saya datang dari Bantul ke Jakarta pada 1965 dengan modal ijazah STP atau Sekolah Tehnik Pertama. Kalau sekarangsetingkat Sekolah Menengah Pertama atau SMP. Jadi memang sudah dari sananya saya terbentuk begini, yaitu giat bekerja.

Apa kejadian yang berkesan saat pertama kali tiba di Jakarta?
Saya datang kesini tiga bulan sebelum pecah peristiwa Gestapu atau Pemberontakan Partai Komunis Indonesia. Saya dilepas oleh bapak saya dengan derai airmata. Namun sesampai disini, kala saya bekerja di sebuah proyek pembangunan gedung di Kejaksaan Negeri di daerah BlokM, meletuslah Gestapu. Saya menangis, sedih ingat bagaimana nasib orangtua saya di kampung. Ditambah lagi saya hampir ditangkap KAMI di BlokM, karena dilihat tampang saya hitam dan seperti orang kampung, saya disangka anggota komunis yang lari dari Yogyakarta ke Jakarta. Yang menyelamatkan saya adalah Pak Tungkir, orang Kejaksaan sekaligus mandor kerja saya saat itu. Tapi ternyata Pak Harto menyelamatkan bangsa ini dengan meredam pemberontakan komunis. Artinya Pak Harto juga menyelamatkan orangtua saya di kampung.

Separah apa Gestapu di Bantul?
Menurut cerita bapak saya, parah sekali. Banyak penangkapan orang-orang komunis oleh tentara. Lalu banyak perangkat pemerintah di sana sekaligus tentara juga jadi anggota komunis. Pokoknya parah mas. Tapi berkat Pak Harto semua bisa terkendali.

Bapak banyak menyebut Pak Harto, memangnya kenapa?
Loh? Pak Harto itu berjasa besar mas. Karena beliau, Indonesia dan khususnya Bantul bisa menjadi lumbung pangan melalui swasembada pangan. Apotik hidup juga berjalan dengan baik di era beliau sebagai Presiden RI. Pak Harto pasti ingat Yogyakarta khususnya Bantul, karena di sana tempat beliau gerilya di jaman perang kemerdekaan.

Kalau begitu memangnya bagaimana sih Pak Harto itu menurut Bapak?
Beliau tentara, jadi pastinya tegas dan berwibawa. Beliau juga paling sayang sama petani. Bersama beliau hati rakyat tentram dan negara aman.

Apa lagi?
Banyak lagi mas. Tapi yang jelas pembangunan berjalan bagus. Nah apa yang dilakukan Pak Harto itu coba saya gunakan juga untuk memimpin RW dan Posdaya selama ini. Saya buat Apotik Hidup, saya kembangkan bercocok tanam, saya turun ke bawah sampai ke warga saya yang paling miskin sekalipun dan tentunya setelah melakukan itu saya pasti akan melakukan sesuatu untuk mensejahterakan warga saya. Saya juga turut melindungi warga saya seperti yang dilakukan Pak Harto terhadap rakyatnya. Rentenir di Pasar Kedip saya sapu bersih melalui Tabur Puja. Ya bukan saya sebenarnya yang lakukan itu, tapi Tabur Puja. Prinsip saya saat itu, selama saya masih memimpin di RW012, tidak boleh ada orang lain yang memerah warga saya. Kalau mau memerah silahkan di tempat lain. Jangan di RW012, tidak boleh!!
Menurut kami  Bapak  sudah bertindak benar serta berada di jalur yang benar pula.
Semoga apa yang saya lakukan selama ini benar dan berguna bagi banyak orang. Apalagi mengelola RW012 yang banyak kegiatan disertai pemasukan uang seperti ini, dari awal saya hati-hati dan menempatkan kejujuran di atas segalanya.

Apa yang dikatakan Ngasimun adalah kejujuran dari seorang anak petani. Kejujuran yang keluar dari mulutnya tentang bagaimana Presiden kedua RI, H.M. Soeharto atau akrab disapa Pak Harto mencintai bangsa ini serta menyayangi petani patut diapresiasi sebagai sebuah kepekaan rakyat akan pemimpinnya. Dengan liputan khusus Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri, sepertinya akan banyak terkuak pendapat jujur rakyat tentang Pak Harto. Semoga bisa menjadi penyeimbang bagi pendapat-pendapat yang berseberangan.

Kiri atas: Ngasimun selalu menyapa warganya walau di tengah jalan. Kanan atas: Ngasimun yang dekat dengan warganya
Kiri bawah: Ngasimun yang gemar bercocok tanam. Kanan bawah: Ngasimun membawa Cendana News ke Bank Sampah

Jurnalis: Miechell Koagouw/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...