Pameran JIFFINA 2017, Ekspor Furnitur dan Kerajinan Diharapkan Lebih dari 60 Negara

RABU, 28 DESEMBER 2016

YOGYAKARTA — Sejumlah pengusaha mebel atau furnitur dan kerajinan se-Jawa Bali yang tergabung dalam forum JIFFINA Jawa-Bali bersiap menggelar pameran internasional furnitur dan kerajinan Jogjakarta International Furniture and Craft Fair Indonesia (JIFFINA) 2017, bertempat di Jogja Expo Center (JEC), 13-16 Maret 2017 mendatang. Pameran furnitur dan kerajinan bertaraf internasional terbesar di daerah ini digelar sebagai upaya  memperkenalkan produk di pasar internasional serta meningkatkan target ekspor dan produksi.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X membuka pameran internasional furnitur dan kerajinan Jogjakarta International Furniture and Craft Fair Indonesia (JIFFINA) 2017.

Dibuka oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, bertempat di Royal Ambarukmo Hotel, Selasa (27/12/2016) malam, JIFFINA 2017 ke dua kalinya ini mengangkat tema Mendongkrak Ekspor Furnitur dan Kerajinan Yogyakarta di Tengah Pasar Global. Lewat ajang ini, ditargetkan lebih dari 300 perusahaan menjadi peserta pameran, dengan target jumlah pengunjung mencapai 4000 calon pembeli yang berasal dari 60 lebih negara.

“Tahun lalu pameran ini mampu menarik sebanyak 449 buyer (pembeli) dari 42 negara. Yakni didominasi Prancis dengan 17 persen, Amerika Serikat 14 persen, Australia 13 persen,  Nederland 11 persen, dan Jerman 10 persen. Tahun ini kita targetkan akan ada sekitar 4000 buyer dari 60 negara. Dengan target transaksi yang sebelumnya sekitar 75 juta US dolar, dapat naik menjadi 300 juta US dolar, ” ujar ketua panitia JIFFINA 2017, Endro Wardoyo.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, menyatakan, industri furnitur dan kerajinan setiap tahun berkembang dengan sangat pesat. Dengan segala potensi yang dimiliki mulai dari ketersediaan dan keunggulan bahan baku, serta ciri khas lokal yang dimiliki, industri mebel dan kerajinan Indonesia dinilai mampu bersaing dan berperan lebih di tingkat global.

Suasana launching JIFFINA  yang berbasis furnitur dan kerajinan diharapkan dapat menjadi penyumbang produk ekspor terbesar ke tiga setelah kulit dan tekstil di DIY.

“Furnitur dan kerajinan kita harapkan dapat menjadi penyumbang produk ekspor terbesar ke tiga setelah kulit dan tekstil di DIY. Dengan ragam industri kerajinan yang ada, DIY juga memiliki potensi sebagai kawasan industri khusus kayu. Karena itu perlu adanya pengembangan kolaborasi antara industri kreatif dan kebudayaan lokal di DIY. Batik yang menjadi tren dunia perlu dimaksimalkan dalam industri furnitur dan kerajinan ini. Terlebih lagi adanya bandara baru tahun 2019. Konektifitas infrakstuktur itu cukup penting dalam meningkatkan ekspor, khususnya di Yogya,” ujarnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...