Peluang Laba Usaha Keripik Tempe Posdaya Soka Jakarta Selatan

JUMAT, 30 DESEMBER 2016

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Bergabungnya RW012 Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan dengan nama Posdaya Soka di bawah pembinaan Yayasan Damandiri otomatis membuat Posdaya Soka turut memasuki pemberdayaan aspek wirausaha yang dikembangkan Yayasan Damandiri melalui Program Tabur Puja  atau Tabungan Kredit Pundi Sejahtera.

Sudarni Adi

Untuk menggiatkan minat wirausaha terutama jenis usaha mikro dari anggota Posdaya Soka, Tabur Puja memberikan pinjaman kredit usaha dengan kisaran Rp 1.000.000 sampai Rp 3.000.000 dengan kebijakan waktu pengembalian selama 10-12 bulan. Dari pinjaman tersebut, anggota Posdaya Soka diberi kebebasan mengembangkan beragam jenis usaha mikro untuk meningkatkan ekonomi keluarga masing-masing anggotanya.

Perkembangan usaha kuliner berupa cemilan maupun makanan ringan lainnya saat ini banyak dibidik anggota Posdaya untuk berwirausaha. Pertimbangan memilih usaha cemilan atau kuliner sejenis sepertinya terpengaruh juga dari tren masyarakat kebanyakan yang kerap membuka usaha kuliner baik cemilan maupun kuliner utama dalam berwirausaha. Khusus untuk beberapa anggota Posdaya Soka, bisnis cemilan yang dikembangkan adalah keripik tempe, cemilan gurih akar kelapa dan rempeyek. Turut berkembang pula kuliner seperti kue basah aneka ragam rasa dan penyajian.

Khusus untuk keripik tempe, salah seorang pengurus Posdaya Soka bernama Sudarni Adi adalah orang yang mengembangkannya. Ia bekerja sama dengan seorang pengusaha pabrik tempe setempat, yaitu Pabrik Tempe Pak Kaslani untuk pengadaan bahan baku tempe. Bahan baku yang digunakan membuat keripik tempe adalah tempe, tepung beras, bawang putih, ketumbar, garam, dan minyak goreng.

“Saya biasa membuat keripik tempe dibantu oleh Ibu Desih, guru PAUD Posdaya Soka yang kemarin dapat beasiswa dari Baziz Jakarta Selatan. Keripik buatan saya itu diberi label Keripik Tempe Posdaya Soka RW012 Kebayoran Lama Selatan. Pasar bidikan saya masih sebatas acara bazaar, pameran kuliner, acara kampus, hari raya besar seperti Lebaran, Natal, tahun baru, dan beberapa hari raya besar lain. Bulan puasa biasanya paling ramai pemesanan, tapi sejauh ini lumayan juga orderan yang masuk,” terang Sudarni Adi, pengusaha rumahan Keripik Tempe Posdaya Soka kepada Cendana News.

Keripik Tempe Posdaya Soka biasa dikemas dalam plastik tebal berukuran 1 kg dengan label yang dicetak sendiri di rumah untuk mengurangi biaya operasional. Dari 1 kg keripik tempe, menghasilkan 4-5 bungkus kemasan keripik tempe ukuran 1 kg. Harga yang dipatok Sudarni juga sangat bersaing, yaitu Rp 15.000 per bungkus. Khusus untuk bazaar maupun pameran kuliner biasanya Sudarni akan menyatukan dagangannya dengan produk cemilan lain dari anggota Posdaya Soka seperti cemilan akar kelapa dan rempeyek.

“Untuk masuk ke toko-toko atau lebih jauh misalnya ke mini market belum bisa. Mereka pasti meminta kuota cukup besar untuk displai dan juga harga beli mereka di saya tidak masuk. Justru dengan menjalankan sendiri lebih berkembang. Kadang saya juga memasarkannya secara online,” kata Sudarni lagi.

Untuk 1 kg tempe beserta bahan baku lain menghasilkan maksimal 5 bungkus keripik tempe. Jika 5 kg pasti menghasilkan 25 bungkus keripik tempe. Dengan bandrol Rp 15.000 per bungkusnya akan menghasilkan  omset sebesar Rp 375.000. Bayangkan jika usaha ini besar dengan produksi minimal 50-100 bungkus dalam sehari. Yang diperlukan hanyalah ruang pasar serta kesempatan bagi para pelaku industri seperti Sudarni Adi untuk berkembang. Bahkan bukan tidak mungkin tambahan suntikan modal bisa menjadi solusi. Sejauh ini, Yayasan Damandiri melalui Program Simpan Pinjam Tabur Puja sudah melakukan pemberdayaan dalam bentuk permodalan sekaligus bimbingan wirausaha bagi para pengusaha mikro di masing-masing Posdaya binaan Yayasan Damandiri.

 Keripik tempe Posdaya Soka RW012 Kebayoran Lama Selatan,
Jakarta Selatan buatan Sudarni Adi.

“Untuk tambahan modal sepertinya nanti dulu. Saya maksimalkan apa yang sudah saya dapatkan terlebih dahulu. Jika tanggung jawab saya untuk itu sudah selesai, baru saya akan memikirkan pinjaman lebih besar lagi. Saat ini jalani dulu apa adanya sambil melihat dan mempelajari peluang pasar dari keripik tempe yang menurut saya teramat sangat besar di Indonesia, khususnya Jakarta,” pungkasnya.

Jurnalis: Miechell  Koagouw  / Editor: Satmoko / Foto: Miechell  Koagouw

Lihat juga...