Pertahankan Nuwou Sesat Menjaga Tradisi Adat Lampung dan Leluhur

KAMIS 29 DESEMBER 2016
LAMPUNG—Sepanjang jalan lama Desa Kekiling Kecamatan Penengahan berjajar rumah rumah dengan arsitektur tradisional Suku Lampung yang khas dengan rumah panggung atau dikenal dengan Nuwou Sesat dan masih menggunakan bahan kayu. Sebagian telah dimodifikasi menjadi bangunan permanen dengan semen yang terlihat pada tangga depan, kayu kayu penopang yang telah diganti dengan batu bata dan besi.  
Nuwou Sesat atau rumah adat Lampung berusia lebih dari 100 tahun di Desa Kekiling Kecamatan Penengahan Lampung Selatan masih dipertahankan.
Sebagian besar warga masih mempertahankan bangunan lama tersebut sesuai bentuk aslinya seperti di Desa Kesugihan Kecamatan Kalianda Lampung Selatan. Maimunah (80) generasi kedua dari keluarga suku asli Lampung yang masih menempati rumah panggung tersebut masih merawat rumah panggung yang diwariskan dari sang ayah sejak pertama kali dibangun pada  1890 silam.

Ornamen ornamen kayu yang terbuat dari kayu merbau masih kokoh berdiri di antaranya tiang tiang setinggi 6 meter sebagai penopang rumah panggung tersebut lengkap dengan dinding kayu pada bagian bawah dan geribik bambu pada bagian atas. Maimunah yang mengaku sebagai generasi kedua bersama sang suami Abdulkarim (80) yang sudah meninggal dunia tetap tinggal di rumah berukuran 9×15 meter tersebut. 

Ia bahkan mengaku meski sudah berusia sekitar 100 tahun namun proses rehab pada rumah tersebut baru dilakukan pada  2016 awal dengan mengganti sebagian dinding kayu yang lapuk, memperbaiki ornamen pada bagian atap dari genteng menjadi asbes meski sebagian besar masih dipertahankan sesuai aslinya.

“Ayah dan suami saya dan anak anak semuanya mewarisi bakat sebagai tukang bangunan sehingga mengenal kualitas kayu yang baik dan awet selama berpuluh puluh tahun yang diambil dari lereng Gunung Rajabasa waktu itu,”ungkap Maimunah yang mengaku berasal dari Desa Babulang Kecamatan Kalianda sebelum menikah dan tinggal di Desa Kekiling Kecamatan Penengahan saat ditemui Cendana News, Kamis siang (29/12/2016).

Rumah panggung yang saat ini berjajar dengan kerabat lainnya total berjumlah tiga buah memiliki bentuk yang seragam dengan kondisi masih asli berupa rumah panggung. Sementara perbaikan pada rumah lain dilakukan dengan mengubah panggung menjadi lantai semen dengan sistem cor serta sebagian pagar yang menggunakan kayu diubah menjadi pagar besi meski bentuk asli rumah panggung di Desa Kekiling tersebut masih menyerupai aslinya. 

Modifikasi bangunan asli dengan menambah semen dan keramik tanpa mengubah bentuk asli rumah adat Lampung.
Pekerjaan sebagai tukang kayu yang ditekuni sang suami dan anak anaknya menurut Maimunah membuat ruah tersebut masih cukup nyaman ditinggali dan kokoh berdiri lengkap dengan kolong di bagian bawah yang juga berfungsi sebagai tempat bersantai. Penanda tahun dengan angka 1890 menurut Maimunah masih tetap ada di salah satu tiang dengan menggunakan angka arab dan tulisan aksara Lampung namun karena tertimpa cat dan mengalami proses renovasi angka tersebut sudah tak terlihat.

Maimunah yang didampingi sang anak menantu Aini Wati (50) menerangkan sang suami bernama Lukman Hakim (58) sebagai generasi ketiga dalam rumah panggung tersebut juga berprofesi sebagai tukang. Aini Wati mengaku perehaban dilakukan oleh sang suami dan dirinya sebagai sang cucu dalam keluarga tersebut untuk mempertahankan keaslian rumah tersebut meskipun ia mengaku sudah memiliki rumah sendiri dengan bangunan zaman sekarang yang semuanya terbuat dari batu bata. Menjaga rumah tersebut tetap asli dengan memperbaiki menurutnya merupakan bentuk bakti kepada orangtua meski dirinya sebagai cucu generasi ketiga sudah memiliki rumah.

“Total tiang penyangga yang ada di rumah ini sebanyak 16 buah di mana di deretan depan masih kokoh berdiri hingga ke kolong sebagai penopang lantai dua namun di bagian belakang tidak bertingkat,”ungkap Aini Wati.

 

Aini Wati (50) generasi ketiga yang menjaga rumah adat dengan peninggalan bokor untuk upacara adat dan keperluan lain.
Ia bahkan mengajak Cendana News naik ke lantai atas yang sebagian masih menggunakan lantai papan didominasi jenis kayu berkelas merbau, meranti serta jenis kayu lainnya. Di dinding dinding juga masih terlihat foto foto sang kakek yang merupakan salah satu perangkat pada zaman kenegerian (kecamatan) pada masa itu dengan masih menggunakan foto hitam putih yang dibingkai rapi. Sementara itu beberapa peninggalan sang kakek dan nenek yang dipertahankan hingga kini dan tersimpan rapi di lemari diantaranya bokor bokor terbuat dari tembaga.

Bokor tersebut merupakan alat untuk upacara adat serta kegiatan harian kaum perempuan asli Lampung yang masih melakukan tradisi “nginang” atau mengunyah sirih dan pinang. Bokor bokor yang sudah tak digunakan tersebut kini disimpan dengan rapi meski dalam upacara upacara adat kebesaran masih dikeluarkan. Lantai dua bangunan lama yang masih dipertahankan menurut Aini Wati masih mempertahankan fungsi beberapa ruangan,  di antaranya beranda yang menghadap jalan raya dan jalan raya tersebut dikenal dengan nama Jalan Raden Inten II yang merupakan akses utama sebelum Jalan Lintas Sumatera dibangun, bagian lain terdiri dari tangga turun yang masih kokoh berdiri dengan jumlah anak tangga sebanyak delapan buah untuk akses menuju beranda yang ditutup dengan sebuah pintu kayu. 

Selanjutnya pada ruang dalam sebuah ruang tengah untuk berkumpul berada di tengah tengah sebagai ruang keluarga yang kini difungsikan untuk menonton televisi dan dua buah kamar di sampingnya. Jendela jendela terbuka yang dibiarkan terbuka sepanjang hari untuk ventilasi terbuat dari kayu juga ditambah beberapa jendela kaca masih merupakan bagian bangunan yang masih dipertahankan kecuali pada bagian plafon serta risplang bangunan.
Nuwou Sesat di Desa Kesugihan Kecamatan Kalianda dengan konstruksi dan bahan bangunan dari bambu dan kayu.
Pada bagian belakang yang dilengkapi tangga berundak dengan modifikasi semen dan penyangga besi menghubungkan ruang bawah yang ditempati sang ibu. Penggunaan fungsi ruang bawah di belakang rumah yang dekat dengan kamar mandi dan dapur menurut Aini menerapkan sisi kepraktisan dimana sang ibu yang sudah berusia lanjut tersebut sudah kesulitan untuk menapaki tangga menuju lantai dua rumah panggung tersebut. 
Sementara pada bagian kolong atau bawah rumah panggung sejak puluhan tahun silam kerap digunakan sebagai tempat menyimpan barang barang atau dikenal sebagai gudang di antaranya gudang kelapa, kayu serta sebagian difungsikan sebagai kandang ternak kerbau. “Kalau sekarang sudah difungsikan sebagai ruang keluarga yang luas karena memasak sudah tidak menggunakan kayu dan kami sudah tidak beternak kerbau,” terang Aini.
Suasana bagian atas rumah panggung yang sudah mengalami renovasi meski mempertahankan bentuk aslinya.
Kayu kayu penopang yang masih asli bahkan menjadi tempat untuk menaruh tanduk rusa yang merupakan hasil perburuan di Gunung Rajabasa. Sementara sebuah ornamen tapis yang merupakan kain khas suku Lampung terpajang di dinding menambah kesan keindahan pada rumah panggung yang sebagian sudah diberi warna hijau dan coklat tersebut sementara pada bagian belakang masih menggunakan geribik dari bambu. Kolong rumah yang luas tersebut bahkan menjadi tempat bermain bagi sekitar 12 cucu yang kerap bermain di Nuwou Sesat tersebut.

Ia menerangkan kini hanya sebagian masyarakat yang mempertahakan rumah panggung atau Nuwou Sesat di Wilayah Penengahan diantaranya masih terdapat di wilayah yang kini disebut Keratuan. Wilayah Keratuan Darah Putih yang merupakan keratuan di mana Pahlawan Nasional Raden Intan II masih memiliki lamban balak di Desa Kuripan sebagian masyarakat bahkan masih mempertahankan nuwou sesat tersebut hingga ke wilayah pesisir Kalianda.

Namun Aini sebagai generasi ketiga yang masih memiliki rumah panggung atau nuwou sesat mengaku sebagian sudah merombak rumah rumah lama menjadi rumah baru dengan arsitektur modern atau jika membangun baru ada yang masih merenovasi rumah lama hanya digunakan sebagai tempat berkumpul keluarga setahun sekali jika ada acara keluarga atau hari raya Idul Fitri. Sebagian bahkan dibiarkan terbengkelai dan ditinggalkan kosong karena pemilik rumah telah tiada dan generasi penerus sudah merantau ke wilayah lain.

Rumah adat Lampung  menurut salah satu tokoh adat Sai Batin,Panglima Alif Jaya pada Kepaksian Skala Berak menerangkan rumah adat tersebut dikenal dengan Nuwou berasal dari Bahasa Lampung yang berarti tempat ibadah seperti masjid, mushola,surau, rang ngaji atau pok ngajei. Selain itu dikenal dengan Lamnahana yang berarti tempat tinggal. Sementara Sesat atau Bantaian adalah bangunan tempat bermusyawarah dan penyimpanan bahan makanan.

Ornamen kain tapis sebagai hiasan pelengkap rumah adat.
Nuwou Sesat  dahulu digunakan sebagai tempat berkumpul untuk bermusyawarah tersebut dalam perkembangan selanjutnya Nuwou Sesat juga disebut Sesat Balai Agung yang juga digunakan sebagai tempat pertemuan adat sekaligus tempat pelaksanaan upacara upacara adat. Namun kini seiring perkembangan zaman lebih banyak digunakan sebagai tempat tinggal atau rumah pada umumnya.

“Banyak yang masih mempertahankan rumah adat sebagai bagian warisan keluarga namun banyak juga yang membangun rumah baru dengan bentuk yang sama meski dengan bahan tak lagi dari kayu karena susah diperoleh,”terang Alif jaya.

Konstruksi Rumah Adat Nuwou Sesat

Secara umum konstruksi rumah adat Lampung atau dikenal Nuwou Sesat memiliki ciri khas berupa rumah panggung seperti pada umumnya rumah pada zaman dahulu. Menurut Panglima Alif Jaya yang juga sebagai pemimpin marga Dantaran, kondisi pada masa silam dimana rumah masih berada di bawah kaki Gunung Rajabasa, jalan setapak serta di kawasan hutan binatang buas seperti harimau, gajah dan binatang liar masih berkeliaran sehingga rumah tradisional masih menggunakan panggung.

Tiang dan Pondasi Penopang

Kayu kayu keras jenis merbau digunakan sebagai bahan utamanya dan tiang tiang keras pilihan akan digunakan sebagai penopang atau pilar pilar. Sementara pada sebagian rumah di Lampung Selatan yang didirikan di pinggir sungai dengan ketersediaan batu kali yang utuh sebagian diguanakan sebagai penopang tiang tiang tersebut agar tak langsung bersentuhan dengan tanah yang biasa disebut umpak. Jumlahnya beragam menyesuaikan besarnya rumah dengan rata rata sebanyak 35 tiang penyangga dan tiang induk sebanyak 20 buah tiang.

Atap

Ujung bubungan atap rumah adat Lampung memusat ke titik tengahbagian paling atas yang terbuat dari kayu bulat. Di atas kayu bulat tersebut diletakkan satu kayu bulat lagi yang berlapis tembaga kemudian di atasnya ada 2 tingkat dari tembaga atau kuningan. Pada bagian paling atas diletakkan perhiasan dari batu sesuai selera pemilik rumah.

Lantai

Nuwou Sesat dominan menggunakan lantai dari bambu yang dibelah belah atau menjadi galar atau khesi. Sementara itu sebagian besar yang memiliki kayu berkelas menggunakan papan sebagai lantai yang berasal dari kayu berbagai jenis diantaranya jati, medang, klutum, bekatteh dan belasa.

Dinding

Dinding rumah yang umumnya digunakan diantaranya dari papan pada bagian bawah dan pada bagian atas dimodifikasi dengan anyaman bambu atau geribik. Dinding kayu yang dibuat dipasang berjajar di setiap rangka rumah dalam posisi berdiri atau menyamping.

Pintu Dan Jendela

Pintu berbentuk setangkup ganda umumnya berbentuk persegi panjang. Sementara jendela berbentuk sama namun dengan ukuran lebih pendek. Setiap jendela dilengkapi dengan teralis dari kayu. Umumnya rumah panggung terdiri dari sebanyak 4 jendela pada bagian depan ruah sedangkan bagian lainnya jumlah jendela menyesuaiakan panjang rumah.

Pembagian Tiap Ruangan

 
Seperti yang ada pada rumah yang didiami Maimunah hingga kini, rumah adat Lampung memiliki beberapa bagian di antaranya:

1. Panggakh : yaitu loteng rumah yang digunakan sebagai tempat penyimapanan barang barang adat, senjata atau benda pusaka. Bagian tangga rumah dikenal dengan nama Jan.

2. Lepau/Bekhanda: merupakan ruangan terbuka luas di depan rumah sebagai serambi yang digunakan sebagai ruang tamu atau tempat himpun (bermusyawarah adat).
3.Lapang Lom: ruang keluarga yang digunakan sebagai tempat berkumpulnya keluarga atau acara acara adat seperti himpun atau bedua.
4. Belik Kebik: merupakan kamar tidur utama untuk kepala keluarga.
5. Tebelayakh: kamar tidur kedua
6. Sekhudu: terletak di bagian belakang rumah terdiri dari beberapa ruangan, misalnya gakhang atau tempat pencuci peralatan dapur atau tempat menyimpan hasil panen.

Selain memiliki ruangan ruangan tersebut setiap sisi Nuwou Sesat dihiasi ornamen ornamen, ukiran dan aksara kuno, beberapa di antaranya:

1. Pil Pusanggiri yang artinya setiap manusia harus mempunyai rasa malu jika hendak melakukan perbuatan yang hina menurut agama dan dapat melukai harga diri.
2. Juluk-Adek yang artinya setiap orang yang telah mendapatkan gelar adat sebaiknya bersikap dan berkepribadian yang sesuai.
3. Nemui-Nyimah yang artinya menjaga tali silaturahmi dengan saling mengunjungi sanak keluarga serta bersikap ramah tamah terhadap tamu.
4. Nengah-Nyampur memiliki makna menjaga hubungan dalam kehidupan bermasyarakat.
5. Sakai-Sambaian merupakan sikap saling tolong menolong dan bergotong royong.
6. Sang Bumi Ruwa Jurai merupakan sebuah rumah tangga yang berasal dari dua garis keturunan masyarakat beradat pepadun dan beradat sai batin meski terdapat dua garis keturunan tetapi tetap bersatu.

Setiap motif khas tersebut memiliki makna sekaligus pesan bagi masyarakat Lampung untuk menjaga kehidupan bermasyarakat dan saling bergotong royong.

Panglima Alif Jaya (kanan) sebagai salah satu tokoh adat marga Sai Batin.
Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Lihat juga...