Sahabat Kapas: Usia Remaja Sangat Rentan Jadi Korban Kekerasan

JUMAT, 16 DESEMBER 2016

SOLO — Maraknya kasus kekerasan terhadap anak dan remaja akhir-akhir ini, menjadi keprihatinan berbagai kalangan. Salah satunya lembaga Sahabat Kapas, sebuah lembaga yang konsen terhadap pendampingan anak-anak yang berhadapan dengan hukum. Guna meningkatkan pemahaman terhadap remaja terkait kekerasan atau bullying, Sahabat Kapas menggelar sosialisasi kepada siswa di SMK Katolik Santo Mikael Solo. Sosialisasi Antikekerasan di sekolah  itu diikuti sekitar 165 siswa putra kelas XI.

Sosialisasi antikekerasan terhadap remaja dilakukan Sahabat Kapas dengan mengajak berdialog secara humanis.

“Mereka kita ajak untuk identifikasi kekerasan dan bagaimana cara menanggulanginya. Kita gunakan bahasa yang mudah dipahami dan dengan cara permainan,” ucap Koordinator Yayasan Kapas Dian Sasmita, Jumat (16/12/2016).

Sosialisasi untuk menekan kekerasan terhadap anak itu merupakan kali ke delapan, yang  menyasar sekolah di Solo dan sekitarnya.

“Berdasarkan pendampingan kami di Lapas dan Rutan selama ini, anak-anak yang berada di dalam terali besi, dipastikan 99 persen pernah alami kekerasan,” tekan Dian.

Menurutnya, kekerasan yang dialami anak-anak berupa fisik, seksual, maupun verbal.  Maka, sejak awal Sahabat Kapas pun mengadakan edukasi pencegahan sejak dini, yakni anak-anak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.

“Melalui metode pengenalan anatomi tubuh, dimana siswa diajak menggambar bagian tubuh mana yang pernah mengalami kekerasan. Dengan demikian, mereka yang pernah mengelami kekerasan dapat bercerita,” ungkapnya.

Anak hingga usia remaja, menurut Sahabat Kapas, merupakan usia yang sangat rentan mengalami tindak kekerasan. Sebab, di usia ini proses pencarian jati diri dan mudah terpengaruh dengan kondisi lingkungan.

“Sehingga di usia remaja inilah, anak-anak rentan menjadi pelaku bahkan korban dan kekerasan, yang kadang tidak dipahaminya,” tambah Psikolog, Febi Dwi Setianingsih, yang juga anggota Sahabat Kapas.

Di akhir acara, peserta menyusun rekomendasi aksi yang bisa mereka lakukan secara individu untuk mencegah melakukan kekerasaan. Misalnya, belajar menahan diri, lebih mendekatkan diri pada Tuhan, dan tidak coba-coba melakukan bullying.

“Mereka juga berharap bisa menularkan pencegahan kekerasaan ini kepada khalayak lewat poster atau media sosial,” pungkasnya.

Jurnalis: Harun Alrosid / Editor: Satmoko / Foto: Harun Alrosid

Lihat juga...