Sepanjang 2016, Kasus Penipuan dan Curat Dominasi Kejahatan di DIY

KAMIS, 29 DESEMBER 2016

YOGYAKARTA — Kasus kejahatan berupa penipuan dan kasus pencurian dengan pemberatan menjadi kasus paling menonjol yang terjadi di DIY, sepanjang tahun 2016. Polda DIY mencatat ada sebanyak 1224 kasus penipuan yang terjadi sepanjang setahun terakhir. Sementara kasus pencurian dengan pemberatan tercatat mencapai 721 kasus.

Kapolda DIY, Brigjen Pol Ahmad Dofiri, saat jumpa pers di Mapolda DIY, menjelaskan kasus penipuan dan curat ternyata dominan di wilayah hukum DIY.

Selain itu, kasus yang juga menonjol dan masuk 10 besar kasus kriminalitas untuk wilayah DIY di tahun 2016 antara lain kasus pencurian biasa sebanyak 615 kasus, penggelapan 567 kasus, pencurian sepeda motor dengan 526 kasus, aniaya ringan dengan 369 kasus, serta penyalahgunaan narkoba dengan 457 kasus, termasuk juga tindak pengeroyokan dengan 154 kasus.

“Secara keseluruhan, tindak kriminalitas di DIY menurun 5,53 persen dari sebanyak 6.619 laporan pada tahun 2015 menjadi 6.253 laporan di tahun 2016,” klaim Kapolda DIY, Brigjen Pol Ahmad Dofiri, dalam jumpa pers di Mapolda DIY, Kamis (28/12/2016).

Dalam laporan tahunan tersebut juga disampaikan peningkatan persentase kejahatan paling banyak di tahun 2016 ini adalah kasus penganiayaan berat yang meningkat 85 persen dari 47 kasus tahun 2015 menjadi sebanyak 102 kasus di tahun 2016.

“Memang yang menjadi perhatian serius kita saat ini adalah kasus tawuran yang melibatkan pelajar atau klitih. Terlebih Yogyakarta ini merupakan kota pelajar sekaligus kota wisata. Sehingga ini cukup mengganggu citra Yogyakarta. Karena itulah masalah ini menjadi konsen kita saat ini,” ujarnya.

Berdasarkan catatan Polda DIY, sepanjang tahun 2016 ini ada sedikitnya 43 kasus tawuran pelajar atau klitih. Sebanyak 7 kasus di antaranya melibatkan anak di bawah umur. Sebanyak 7 kasus telah dilimpahkan ke pengadilan. Sementara sisanya masih dalam proses penyelidikan.

“Dibanding tahun sebelumnya kasus klitih atau tawuran pelajar ini memang meningkat. Terlebih melihat masifnya pemberitaan mengenai kasus klitih ini, baik di media sosial, tv maupun surat kabar. Sehingga cukup mengganggu dan menjadi perhatian serius kita,” ujarnya.

Ssmentara itu untuk tingkat kerawanan di daerah sendiri, wilayah kabupaten Sleman tercatat masih menempati urutan pertama terjadinya kasus kejahatan dengan 2001 kasus. Diikuti Polres Yogyakarta dengan 1672 kasus, Polres Bantul 864 kasus, Polres Kulonprogo 414 kasus dan Polres Gunungkidul dengan 329 kasus. Khusus untuk Polda DIY sendiri sepanjang tahun 2016 ini tercatat menerima sebanyak 973 kasus atau laporan dengan sebanyak 607 kasus telah dilimpahkan ke pengadilan.

“Untuk mengantisipasi adanya tindak kasus kejahatan memang sangat dibutuhkan peran serta masyarakat. Karena itu kita harapkan masyarakat lebih peduli dan waspada. Kepedulian masyarakat terhadap lingkungan tempat tinggal menjadi sangat penting. Tiga pilar utama yakni Babinkamtibmas, Babinsa, dan kepala desa. Termasuk jaga warga di Jogja, kita harapkan dapat bersinergi,” pungkasnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto:  Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...