Sering Kekeringan, Petani di Lampung Senang Terima Bantuan Pompa Air

SABTU, 31 DESEMBER 2016

LAMPUNG — Sebagian besar petani di Lampung Selatan, khususnya di wilayah Kecamatan Penengahan, mengaku kesulitan untuk mengairi lahan sawahnya akibat pasokan air yang terbatas. Hal tersebut dikemukakan oleh salah-satu anggota Kelompok Tani Minang Jaya di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Wagiyo (45), saat ditemui Sabtu (31/12/2016).
Salah-satu penyewaan pompa air di Lampung.
Akibat kesulitan air, Wagiiyo mengaku terpaksa menggunakan mesin sedot, karena lokasi areal persawahannya yang lebih tinggi dari aliran sungai. Pompanisasi air yang terpaksa dilakukan itu juga dialami oleh ratusan petani lain yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) di wilayah setempat. Bantuan dari Kementerian Pertanian yang langsung diserahkan oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, berupa 1 Unit Mesin Pompa Air, diakuinya menjadi bantuan yang tepat untuk petani di wilayah tersebut untuk memenuhi kebutuhan air yang memang seringkali sulit diperoleh.
Wagiyo mengatakan, dengan bantuan alat pompa air tersebut, sebagian sawahnya yang semula kering dipastikan akan teraliri air. Wagiyo dan sebagian besar kelompok tani (Poktan) dan P3A di wilayah tersebut juga mengaku, memang sejak lama telah mendambakan bantuan alat pompa air dibanding alat dan mesin pertanian (alsintan) lain seperti traktor atau transplanter. Ia beralasan, kontur lahan pertanian di wilayah Penengahan yang berada di lereng dan kaki pegunungan dengan sebagian berbatu sangat sulit untuk pengaplikasian penggunaan traktor, sehingga sebagian petani tetap memilih menggunakan bajak manual dengan kerbau dan sapi serta sebagian mencangkul.
Kekeringan melanda sebagian petani di Lampung Selatan. 
“Bantuan dari kementerian pertanian setidaknya bisa mengatasi persoalan yang selama ini kami keluhkan dalam keterbatasan pasokan air, sehingga kami tidak mengalami kegagalan panen,” terang Wagiyo.
Kelompok petani pengguna air di wilayah tersebut yang tergabung dalam satu kelompok tani, memiliki luas lahan sekitar 100 Hektar, tersebar di sejumlah titik. Penggunaan mesin pompa air digunakan secara bergiliran dengan sistem pembagian pada sawah yang terletak pada bagian atas dan pada bagian bawah mengalirkan air setelah proses pengolahan tanah selesai dilakukan. Keterbatasan mesin pompa bahkan membuat sebagian petani juga memanfaatkan persewaaan alat penyedot air di desa setempat dengan mengeluarkan biaya ekstra.
Masa tanam Oktober-Maret 2017 diakui sejumlah petani di Lampung Selatan merupakan masa rendengan, namun akibat belum meratanya hujan sebagian petani masih mengalami keterbatasan pasokan air. Beberapa bendungan di wilayah Penengahan di antaranya Bendungan Sungai Bomati, Sungai Way Asahan, Lubuk Ludai dan Lubuk Sepan, bahkan mengalami penyusutan debit air akibat curah hujan yang masih belum stabil.
Pompa Air bantuan Kementerian Pertanian untuk petani d Lampung.
Satu-satunya cara yang digunakan masyarakat di antaranya memaksimalkan penggunaan mesin pompa untuk mengairi sawah, sejak masa pengolahan hingga masa tanam. Petani yang tidak memiliki biaya bahkan sengaja tidak menanam padi dan memilih menanam komoditas pertanian lain seperti jagung dan kedelai.
“Kalau tidak memiliki biaya untuk operasional terutama dalam pasokan air, biasanya petani lebih memilih menanam palawija yang tak terlalu membutuhkan air dalam jumlah banyak,” ungkap Wagiyo.
Salah-satu petani pengguna alat pemompa air sewa, Wagiran (40), mengaku harus mengeluarkan sekitar Rp. 300.000 untuk menyewa pompa air selama 1 hari untuk luas lahan sekitar 2500 meter persegi. Biaya operasional tersebut terpaksa dikeluarkan untuk menghindari padi yang berumur sekitar 40 hari kekeringan. Bagi pemilik modal yang cukup, sebagian membuat sumur bor untuk digunakan bagi lahan sawahnya, dengan harapan tetap bisa panen meski musim kemarau.
Selain kesulitan air, sebagian petani di Kecamatan Penengahan saat ini juga mengeluh dengan adanya serangan hama jenis wereng yang berakibat batang padi membusuk dan kering, sehingga terpaksa dilakukan penyemprotan dengan pestisida.
Kondisi kekurangan air dan serangan hama tersebut, diakui Wagiran akan menyebabkan produktivitas padi yang ditanam oleh petani di wilayah tersebut menurun. Selain itu, meski sebagian saluran irigasi telah dibangun, namun ketersediaan air yang terbatas membuat saluran irigasi yang ada juga tak teraliri air.
Sebagian petani yang berada di Desa Klaten, justru sebaliknya, meski melimpah sumber pasokan air dari saluran irigasi, namun sengaja tidak mengolah lahan sawahnya. Selain karena sebagian lahan sawah tersebut sudah terkena patok Tol Trans Sumatera, dan sebagian warga sudah menerima uang ganti-rugi lahan, meski proses pembersihan lahan (land clearing) belum dilakukan.
“Kami memang tidak menggarap sawah, meski airnya melimpah, karena kuatir dalam sebulan ke depan sudah akan digusur dan tentunya hanya akan menghabiskan biaya operasional,” ungkap Andi, salah-satu petani di Klaten.
Ia bahkan beralih mengelola lahan pertanian ladang miliknya yang ada di wilayah Klaten untuk menanam jagung di lokasi yang tak terkena patok Tol. Meski demikian, di lahan yang baru ia masih kesulitan memperoleh pasokan air, sehingga terpaksa memanfaatkan sumur bor untuk pengairan lahan pertanian jagung miliknya.

Henk Widi / Editor : Koko Triarko / Foto : Henk Widi

Lihat juga...