Tahlilan Bersama Jelang Tutup Tahun 2016 di Keerom, Papua

MINGGU 1 JANUARI 2017
  
JAYAPURA —Ada yang menarik untuk direnungi, di saat semua orang mempersiapkan perayaan hari tahun baru. Khusus di kampung ini setiap jalur satu hingga delapan menggelar tahlilan doa bersama menyongsong tahun 2017.
Talilan di Papua menjelang pergantian tahun.
Sebagai bentuk kebersamaan menyampingkan perbedaan suk dan ras, tahlilan setiap jalur berlangsung dimasing-masing pos siskamling dan dipimpin ustad dari jalur tersebut. Sebuah perayaan dengan memanjatkan doa kepada sang pencipta akan dipanjangkan umurnya menjalani kehidupan yang telah dilalui dalam tahun 2016.
“Ini tiap tahun kami lakukan, sebagai ungkapan syukur. Selama tahun ini kami aman dari segala macam bencana dan kami juga berdoa kepada setiap warga agar terus mendapatkan rejeki yang berlimpah,” kata Saringan, seorang warga  kepada Cendana News, Sabtu (31/12/2016).
Dikatakannya, tak ada perbedaan suju dan ras dalam kampung ini. “Kita sebagai ciptaan Yang Maha Esa. Kita sesama manusia saling mendoakan dan melindungi. Mau dia petani, pegawai negeri sipil (pns), TNI, Polri maupun swasta, semuanya saling membutuhkan,” katanya.
Dibawah tenda biru, beralaskan terpal warna orange, tanpa perangkat elektronik yang terbalut nuansa sederhana namun penuh makna, satu persatu menceritakan apa saja yang mereka hadapi selama tahun 2016, yang kristen maupun muslim saling berbaur dan bersendau gurau. Suasana menjadi hening sejenak, dilanjutkan lantunan ayat-ayat Al-Quran dari seorang ustad juga diikuti yang hadir ditempat itu.
“Saya sudah seperti keluarga bagi saudara-saudara yang beda suku, ras dan agama. Kami saling menghargai dan menghormati. Saudara muslim berdoa dengan agama mereka, saya juga berdoa dengan agama saya yaitu kristen,” kata Yuranus, warga lainnya.
Senada dengan itu, Anwar Ketua RT jalur IIIC kampung Skanto Arso IV menuturkan digelarnya tahlilan ini juga mengenang saudara, anak, istri, orang tua yang telah dipanggil sang Kholik. “Setiap kampung dalam setahun ini, pasti ada yang lahir dan meninggal. Jadi, kami panjatkan doa kepada mereka yang telah tinggalkan dunia ini, juga kepada anak cucu kita yang tahun ini baru melihat dunia,” kata Anwar.
Tahlilan ini ditutup dengan saling bermaaf-maafan, maka bakso bersama, diakhiri dengan jamuan kue-kue yang ditemani secangkir kopi dan teh panas sambil menunggu waktu pergantian tahun. Penduduk dikampung yang mayoritas kerja sehari-hari sebagai petani dan pedagang menikmati malam tahun baru dengan penuh suka cita dan saling mendoakan akan kelangsungan hidup manusia yang mendiami bumi, terlebih khusus di Kabupaten Keerom, Papua. 
Jurnalis: Indrayadi T Hatta/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Indrayadi T. Hatta
Lihat juga...