Vihara Dharma Sasana, Jejak Kota Kalianda Lama yang Tetap Kokoh Berdiri

RABU, 28 DESEMBER 2016

LAMPUNG — Sajian bangunan-bangunan lama masih tersaji di kiri kanan sepanjang Jalan Veteran Kalianda Kabupaten Lampung Selatan, yang merupakan salah satu akses menuju wilayah pesisir, diantaranya Kecamatan Kalianda, Kecamatan Rajabasa. Beberapa bangunan sejak pendudukan Belanda dan Jepang bahkan masih berdiri kokoh, diantaranya pasar bawah dengan nuansa toko-toko pecinan serta bangunan bangunan khas masyarakat Lampung yang dengan ciri khas panggung kayu. Selain berfungsi sebagai toko, beberapa bahkan dibiarkan terbengkelai seperti bagian pasar bawah yang sudah tak digunakan karena pasar Kalianda sudah pindah ke pasar Inpres atau pasar atas Kalianda.
Suasana bagian dalam vihara dharma sasana Kalianda
Selain bangunan bangunan yang masih ditempati dikenal dengan kawasan pecinan Kalianda, bangunan yang masih kokoh berdiri sejak masa silam dan bertahan hingga kini salah satunya adalah Vihara Dharma Sasana yang terletak di Jalan Pratu M.Yusuf No 98. Kalianda yang merupakan cabang dari Jalan Veteran. Bangunan tempat ibadah bagi umat Budha ini berjarak sekitar 30 kilometer dari Pelabuhan Bakauheni dan bisa ditempuh dengan perjalanan menggunakan kendaraan pribadi sekitar 45 menit. 
Sebuah jin lu yang merupakan tempat jemaat berdoa sebelum masuk ke vihara sekaligus tempat menancapkan hio diapit oleh dua patung naga dan dua patung singa. Dominasi warna merah dan kuning dengan berbagai ornamen diantaranya patung Dewa, Budha serta lilin lilin menyala akan menjadi pemandangan saat ibadah berlangsung.
Menurut Ketua Vihara Dharma Sasana, Gunawan Salim (57), generasi penerus dari keluarga penjaga vihara, meski tak bisa menyebut angka pasti, vihara tersebut telah lama berdiri. Ia mengungkapkan Vihara Dharma Sasana semula hanyalah bangunan tempat ibadah dengan arsitektur kayu. Bangunan yang menghadap ke arah Barat, menghadap ke laut dan Gunung Krakatau tersebut pernah mengalami kerusakan akibat letusan Krakatau saat masih berupa cetiya (bangunan kecil sebelum menjadi vihara).
“Kakek dan beberapa umat lain yang hidup pada masa itu meneruskan secara lisan karena beberapa foto vihara ini pada masa lalu telah pudar, namun vihara ini pernah rusak dan ditinggalkan mengungsi saat ledakan Krakatau tahun 1883,”ungkap Gunawan Salim.
Selain patokan saat peristiwa ledakan Gunung Krakatau meletus, keberadaan vihara tersebut didirikan bersamaan dengan Vihara Thai Hin Bio yang ada di Jalan Kakap Teluk Betung, Bandarlampung yang sudah berdiri sejak tahun 1850. Ia menegaskan umur yang sama tersebut sesuai tradisi lisan dari sang kakek bahwa pembangunan cetiya pada masa itu merupakan pengembangan dari agama Budha Theravada hingga ke Kalianda. Bahkan hingga kini Gunawan Salim mengakui di pecinan Kalianda masih ada sekitar 100 kepala keluarga (KK) yang masih aktif beribadah di vihara Dharma Sasana Kalianda.
Sambil menunjukkan semua foto vihara yang ada di Pulau Sumatera, ia menyebut bahwa vihara Dharma Sasana merupakan salah satu Vihara paling ujung di Selatan Pulau Sumatera yang tertua, selanjutnya vihara di Panjang dan Teluk Betung. 
Gunawan ketua Vihara Dharma Sasana Kalianda
Sejarah Vihara Dharma Sasana juga tak lepas dari sejarah letusan Krakatau dan perang kemerdekaan saat Penjajahan Belanda hingga penjajahan Jepang. Vihara Dharma Sasana menurut Gunawan bahkan menjadi vihara paling ujung di Sumatera diantara sebanyak 100 vihara lain hingga ke kepulauan Bangka Belitung sehingga menjadi sebuah bagian sejarah perkembangan agama Budha yang ada di wilayah tersebut.
Memiliki nama vihara Tjoe Soe Kong, menurut Gunawan Salim, bangunan vihara Dharma Sasana mengalami renovasi beberapa kali dari mulai semula merupakan cetiya hingga berubah menjadi vihara. Ia mengaku bangunan permanen hingga disebut cetiya tersebut terus mengalami beberapa kali perombakan dan perombakan yang terbesar terjadi pada tahun 1990 dengan merubah bangunan kayu sebagai penopang menjadi bangunan permanen menggunakan batu bata. Meskipun struktur bangunan berubah namun penggunaan kayu kualitas super jenis merbau membuat sebagian besar kayu asli penopang, langit langit vihara tersebut masih kokoh berdiri.
Renovasi terbesar kedua terhadap lanjutnya dilakukan pada tahun 2000 dengan melakukan penambahan ornamen dan juga mengubah lantai vihara menjadi keramik dan beberapa ornamen lain ditambahi. Beberapa patung Budha serta dewa yang ada di vihara tersebut diantaranya sengaja didatangkan dari Tiongkok. Dua buah naga (liong) yang melingkar di tiang beranda menghadap ke Laut Teluk Kalianda dan juga dua buah patung singa (sai) yang juga menghadap ke laut sebagai simbol penjaga.
Keberadaannya yang berhadapan dengan laut membuat vihara tersebut rentan terhadap cuaca buruk yang melanda dan salah satunya sering terkena terjangan angin yang merusaka beberapa bangunan kayu. Sebagian bangunan kayu tersebut pun telah mendapat renovasi. Akibat cuaca buruk bahkan pada tanggal 24 Desember 2016 beberapa bagian vihara sempat rusak dan air hujan tampias ke dalam bangunan. Sebagai langkah untuk menjaga vihara tetap dalam kondisi baik, dengan bantuan donatur Gunawan mengakui pembuatan kanopi dari rangka baja dilakukan dan hingga kini masih dalam tahap penyelesaian.
“Selain sering kehujanan dan tampias hingga ke bagian dalam, penambahan kanopi juga untuk menyambut perayaan tahun baru lunar atau dikenal dengan Imlek pada tanggal 28 Janurai 2017 mendatang,”terang Gunawan.
Ia mengakui jumlah 100 KK umat Budha di wilayah tersebut juga sebagian berdomisili tidak tetap karena sebagian sudah tinggal di Bandarlampung, Jakarta, Palembang dan kota lain. Ia menegaskan keterikatan kekerabatan dengan kota Kalianda banyak terjadi oleh warga yang masih memiliki rumah tua yang sebagian masih dipertahankan keasliannya. Para keluarga yang ada di tempat jauh akan kembali pulang saat perayaan tahun baru Imlek dengan saling bersilaturahhmi dan berkumpul bersama keluarga setelah satu tahun tidak berjumpa.
Perkembangan pecinan di wilayah pasar bawah Kalianda yang hidup berdampingan dengan suku Lampung tersebut merupakan perkembangan saling menguntungkan. Salah satu warga etnis Tionghoa yang masih membuka toko penjualan oleh oleh makanan tradisional berbahan ikan laut di Jalan Veteran, Gunadi yang dikenal dengan A Lung (47) mengaku sebagian besar etnis Cina yang ada di wilayah tersebut berprofesi sebagai pedagang dan secara turun temurun masih berprofesi sebagai pedagang yang membaur dengan suku Lampung di tempat tersebut. Meski masih mempertahankan bangunan bangunan tua yang masih dipertahankan menyatu dengan bangunan bangunan baru  yang berfungsi sebagai hunian atau tempat berdagang.
Beberapa bangunan pecinan bahkan membaur dengan bangunan asli suku Lampung yang masih dipertahankan meski kini sudah tak ditempati. Sebagian bangunan asli tersebut berubah fungsi menjadi hotel seperti Hotel Beringin dan Hotel Way Urang untuk tetap menjaga kelestarian, sementara bagi yang memiliki biaya untuk perbaikan sebagian bangunan tua tetap dipertahankan sebagai kenangan meski tetap dirawat namun tidak ditempati. Sementara bagi yang tidak memiliki biaya sebagian rumah dan bangunan tua di sekitar pasar bawah Kalianda sebagian dibongkar dan berganti dengan bangunan baru. Sebagian mempertahankan bangunan dengan arsitektur lama dengan sentuhan modern sebagai bagian menjaga warisan nenek moyang dan memadukan dengan fungsi sekarang diantaranya sebagai toko dan hunian untuk berjualan.
“Sebagian besar warga Tionghoa di sini ada yang berjualan kuliner makanan tradisional, bahkan banyak yang menekuni bisnis makanan yang menjadi rujukan warga yang bekunjung ke sini,”ungkap A Lung.
Pasar bawah Kalianda yang dominan dengan bangunan pecinan dan penghuni warga Tionghoa
A Lung bahkan mengaku masih sering membuat mpek-mpek, otak-otak serta makanan olahan hasil laut karena lokasi yang berdekatan dengan tempat pelelangan ikan di dermaga Bom Kalianda. Sajian mpek mpek, otak otak serta makanan tradisional tersebut bahkan dihidangkan dengan kue Tutun (kue keranjang) saat perayaan Imlek atau tahun baru China. Selain menjadi bagian sejarah, kawasan pecinan pasar bawah Kalianda dengan bangunan bangunan tua, Vihara, serta toko toko oleh oleh khas masih ramai dikunjungi sebagai pusat oleh oleh. A Lung bahkan mengaku pasar bawah Kalianda tak bisa dilepaskan dari perkembangan kota Kalianda hingga sekarang dan sebagian masih mempertahankan keaslian bangunan yang sudah ada sejak dahulu.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...