Warga Lampung Selatan Tanam Cabe Jamu untuk Bahan Rempah

RABU, 28 DESEMBER 2016

LAMPUNG — Cabe Jawa atau cabe jamu atau long pepper (piper retrofractum) menjadi salah satu tanaman yang nyaris jarang dibudidayakan di wilayah pedesaan di Provinsi Lampung. Penggunaan lahan untuk tanaman pertanian lain mengakibatkan tanaman cabe jamu atau cabe Jawa nyaris punah. Meski demikian dengan nilai ekonomis yang menggiurkan, sebagian masyarakat di Kecamatan Penengahan, Kecamatan Ketapang, masih tetap membudidayakan tanaman merambat berasa pedas tersebut. Selain digunakan sebagai bahan rempah-rempah dan obat herbal, bagi masyarakat Lampung sebagian digunakan sebagai campuran bumbu masak untuk menambah cita rasa pedas pada sayur nangka muda. Selain itu pada pindang ikan serta kuliner yang membutuhkan cita rasa pedas pengganti cabe rawit yang kian melejit harganya.

Proses pemanenan.

Salah satu petani yang masih membudidayakan tanaman cabe Jawa atau cabe jamu di antaranya Rendi (34), warga Desa Sumur, Kecamatan Ketapang. Ia mengaku, masih membudidayakan cabe jamu di lahan yang dimilikinya setelah mengetahui harga di pasaran komoditas rempah tersebut cukup menjanjikan. Laki-laki yang menyukai dunia agrobisnis tersebut bahkan mengaku masih memiliki sekitar 100 batang tanaman merambat dengan pola tanam di sebagian batang pohon coklat, pohon dadap, serta pepohonan lain yang tak terganggu dengan pertumbuhan cabe jamu tersebut.

“Awalnya, beberapa batang memang peninggalan orang tua. Namun, melihat tanaman ini sudah langka, harganya cukup lumayan, saya mencoba membudidayakan dengan teknik stek dan menambah tanaman dari puluhan menjadi ratusan di kebun,” ungkap Rendi saat ditemui Cendana News sedang merawat tanaman cabe jamu miliknya, Rabu (28/12/2016).

Ia juga rajin mencari informasi mengenai pemasaran cabe jamu yang dibudidayakannya sebab permintaan akan cabe jamu atau dikenal dengan cabe Jawa masih terbuka lebar. Buah yang juga digunakan sebagai bumbu masak tersebut memang digunakan sebagai bahan rempah-rempah, bahan obat-obatan, baik di pasar lokal maupun untuk permintaan luar negeri. Keterbatasan lahan dengan jumlah tanaman yang masih sedikit membuat Rendi mengaku masih memenuhi permintaan lokal dengan rata rata 50-100 kilogram untuk beberapa kali panen.

Proses pemisahan dan penjemuran cabe jamu kering dan setengah kering.

Ia mengaku, awalnya melakukan perbanyakan bibit dengan sistem stek, ditanam di poly bag selanjutnya dipindahkan ke kebun. Satu rumpun tanaman cabe jamu yang ditanamnya dalam satu rumpun berumur sekitar 16 bulan hingga 24 bulan dapat menghasilkan sekitar 1-2 kilogram cabe jamu kering sehingga dalam 100 batang dirinya mampu memanen lebih kurang 100 kilogram. Siklus panen yang memakan waktu sekitar 90 hari diakuinya menjadi nilai investasi sekaligus tabungan untuk keperluan sekolah anak-anaknya disamping usahanya menanam padi, kopi, cokelat, serta usaha lain.

Menggiurkannya pengembangan tanaman cabe jamu yang banyak diminta untuk perusahaan jamu dengan sistem penjualan ke pengepul membuatnya terus menambah rumpun tanaman cabe jamu miliknya. Pola penanaman yang benar nyaris menyerupai pola penanaman lada yang merambat dengan jarak tanam 1,5×2 meter atau 2×2 meter membuat lahan seluas 1 hektar bisa diisi dengan 2500-300 batang/rumpun. Bila ditanam intensif dengan luasan lahan sebanyak 1 hektar, maka bisa menghasilkan sekitar 2-3 ton cabe jamu kering/tahun.

“Saat ini saya memang masih memiliki lahan yang ditanami sekitar 100 batang tapi masih berencana membeli tanah kavlingan dan akan saya tanami cabe jamu juga,” ungkapnya.

Ia bahkan berencana mengembangkan pola penanaman cabe jamu seperti tanaman lada yang sudah bisa ditanam di poly bag atau pot. Buah yang dikenal dengan long peper tersebut masih menjadi sumber penghasilan yang cukup menjanjikan bagi Rendi. Beberapa bulan lalu harganya mencapai Rp 50.000 per kilogram namun pada bulan Desember ini bisa mencapai Rp 70.000 per kilogram, nyaris menyamai harga cabe merah.

Peluang dari usaha menanam cabe jamu tersebut setidaknya telah memberinya penghasilan sekitar Rp 70.000 x 30 kilogram atau sekitar Rp 2.100.000 per tiga bulan sekali untuk cabe jamu yang sudah kering. Meski belum menjadi petani dengan menanam cabe jamu skala besar, namun ia berencana untuk serius menekuni agro bisnis yang menjanjikan tersebut dengan mencari bibit cabe jamu dengan usia 6 bulan sudah berbuah.

Tanaman Beragam Petani Bisa Panen Berbagai Komoditas Berkelanjutan
Selain Rendi petani yang masih membudidayakan cabe Jawa tersebut di antaranya sebagian petani di wilayah Desa Merambung, Desa Way Kalam, Kecamatan Penengahan. Sebagian besar kaum perempuan bahkan terlihat sibuk menjemur rempah-rempah dari tanaman merambat tersebut saat musim panen bersamaan dengan panen buah pinang dan melinjo. Sistem penanaman berbagai jenis tanaman atau dikenal multy purpose trees system (MPTS) merupakan salah satu kearifan suku Lampung. Hal tersebut diungkapkan oleh Komar, salah satu warga Rawi, yang juga kerap memberikan bibit tanaman bagi warga Merambung.

“Pola penanaman berbagai tanaman dalam satu kebun sudah dijalankan oleh suku pribumi Lampung karena warga masih belum mengenal pola pertanian sawah dan di pegunungan tidak ada sawah,” ungkap Komar.

Hasilnya sebagian petani bisa melakukan pemanenan berbagai jenis tanaman secara berkelanjutan di antaranya menanam kelapa, menanam cabe Jawa, pinang, cokelat, serta tanaman lain seperti lada dan pala. Tanaman yang memiliki masa panen tidak seragam tersebut memungkinkan petani bisa memanen komoditas tertentu setiap bulan dan hasilnya dijual ke pasar. Setelah memperoleh uang warga membeli beras dan keperluan lain untuk kehidupan sehari hari.

Cabe Jawa yang masih basah dan sudah kering.

Kearifan lokal tersebut sebagian ditiru oleh sebagian masyarakat pendatang di antaranya suku Jawa dan Banten yang juga menerapkan pola penanaman beragam. Selain bersawah, berkebun, petani masih bisa memperoleh hasil lain dengan beternak atau membuat kolam ikan. Sementara sebagian lain masih membudidayakan tanaman rempah seperti lada, pala, kapulaga serta tanaman cabe jamu yang ada di sebagian lereng Gunung Rajabasa.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Lihat juga...