Anak Berkebutuhan Khusus di Ponorogo Juga Bisa Berkarya

KAMIS, 26 JANUARI 2017

PONOROGO – Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) ternyata tidak selalu memerlukan uluran tangan orang lain. Mereka juga bisa melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Bahkan, ada kegaiatan keterampilan yang sengaja ditonjolkan oleh pihak Sekolah Luar Biasa (SLB) guna mengasah kemampuan dan kreativitas para siswa berkebutuhan khusus tersebut.

Yamiati

Salah-satunya di SLB-C Pertiwi, Ponorogo, yang memiliki komposisi belajar 70 persen keterampilan dan 30 persen materi. Hal ini agar mempermudah para guru melihat potensi dan minat dari masing-masing siswa. Hasil karya para siswa pun layak dijual seperti bunga plastik, celengan, bros, tempat tissue, lampu hias, taplak meja sulam dan taplak meja ikat celup.

Salah-satu guru, Yamiati menjelaskan, kemampuan siswa SLB memang sedikit lambat jika dibandingkan anak normal. Sebagai pengajar, tentu dirinya dituntut harus lebih sabar dan telaten saat mengajarkan pelajaran kepada anak-anak. “Karena di SLB kami siswa tuna grahita, kami harus pelan-pelan sekali mengajarnya,” jelasnya, saat ditemui di Alun-alun Ponorogo, Kamis (26/1/2017).

Beragam hasil karya anak SLB-C Ponorogo

Yamiati mencontohkan, untuk membuat kerajinan tangan bunga dari plastik, satu anak hanya mampu membuat satu kelopak, tapi kadang ada pula satu anak mampu membuat satu bunga lengkap dengan tangkai dan kelopaknya. “Kami lebih melihat potensi anak terlebih dahulu, awalnya memang susah, tapi lama-kelamaan anak-anak ini mulai terbiasa dan terlatih,” ujarnya.

Kini, karya siswa SLB-C Pertiwi bisa ikut dalam pameran dan dijual kepada masyarakat. Untuk satu bunga plastik beserta potnya, dijual dengan harga Rp. 15-50.000 tergantung besaran bunga. Untuk tempat tissue dijual seharga Rp. 10.000, taplak meja seharga Rp. 15-20.000 dan celengan Rp. 5-15.000. “Dari hasil penjualan tersebut, keuntungannya dikembalikan lagi kepada pihak sekolah,” cakapnya.

Meenurut Yamiati, awal-mula mengajari para siswanya dalam menekuni bidang keterampilan ini tidak mudah. Anak-anak belajar menyobek kertas dan menusuk-nusuk kertas dengan menggunakan jarum. Hal ini untuk melatih kesabaran dan keberanian sang anak. “Ada juga anak yang takut dengan jarum, jadi kami tidak bisa memaksa, dia diarahkan untuk membuat kerajinan tangan yang tidak perlu menggunakan jarum,” pungkasnya.

Jurnalis : Charolin Pebrianti / Editor : Koko Triarko / Foto : Charolin Pebrianti

Lihat juga...