hut

Korupsi TV Parlemen dan Laptop di Papua Barat: Sejumlah Tersangka di Sekwan DPRD

RABU, 4 JANUARI 2017

MANOKWARI —  Meski Kejaksaan Negeri Manokwari belum merilis siapa tersangka di balik kasus dugaan korupsi pengadaan TV parlemen dan pengadaan laptop tahun 2015 di kantor Sekretariat Dewan  DPRD Papua Barat, namun dari hasil analisa sementara penyidik Kejaksaan, diperkirakan tersangkanya lebih dari satu orang. Meski sudah mengantongi nama para tersangka, namun Kejaksaan belum bisa mengumumkan ke publik lantaran penyidik belum melakukan gelar perkara.

Kepala Kejaksaan Negeri Manokwari, Agus Joko Santoso SH (tengah), Kasi Pidsus, Erwin Saragih, SH (kanan), dan Kasi Intel, Irvan B, SH (kiri).

“Nanti saat penyidik melakukan ekspos perkara, baru bisa diketahui, siapa saja tersangka di balik dugaan korupsi senilai Rp 1,9 miliar untuk TV parlemen dan laptop senilai Rp 950 juta,” kata Kajari Manokwari, Agus Joko Santoso SH, didampingi Kasi Intel Irvan B SH, Rabu (4/1/2017).

Dijelaskan pula, kasus dugaan korupsi pengadaan TV Parlemen senilai Rp 1,9 miliar dan laptop senilai Rp 950 juta, tetap akan berlanjut hingga ke meja Pengadilan Tipikor Papua Barat. Terkait soal penyitaan barang bukti, Kejaksaan akan melakukan koordinasi misalnya dengan DPRD Papua Barat. Sebelumnya, penyidik Kejaksaan sempat gagal melakukan penyitaan lantaran sejumlah staf maupun anggota DPRD melakukan protes keras atas penyitaan yang dilakukan Kejaksaan pada awal Desember 2016.

Padahal, berdasarkan undang-undang, penyidik memiliki hak penuh untuk melakukan penyitaan dan penggeledahan sebab sudah diatur dalam Pasal 21 Undang-undang Tipikor yang menyatakan setiap orang yang dengan sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka atau terdakwa atau pun para saksi dalam perkara korupsi, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan atau denda paling sedikit Rp 150.000.000 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 600.000.000 (enam ratus juta rupiah).

Jurnalis: Takdir / Editor: Satmoko / Foto: Takdir

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!