hut

Margonda “Metropolis Kecil” di Depok (1) Menengok “Live Music” di Margo City

KAMIS 26 JANUARI 2017
DEPOK—Sekitar pukul sembilan malam, Jumat (20/1) lalu  suasana di salah satu sudut halaman Margo City belum banyak orang yang datang.  Jam 10 malam pertunjuk musik sudah dimulai dihadiri 30-40 penonton . Audisensinya merata baik dari kalangan muda hingga orangtua, termasuk mereka yang datang pasangan.  Mereka menempati tempat duduk yang sudah disediakan panitya di spot PedestrianThe Od House.
Perunjukkan 40 Sabtu (21/1/2017)
Penampil pertama Rizky and  The Friend memainkan lagu instrumental jazz sebagai lagu pembukan. Para penonton yang rata-rata dari komunitas jazz  tampak menikmati lagu itu. Lagu yang dinyanyikan semuanya dalah lagu Barat.   Bagi mereka yang bukan penggemar jazz, lagu itu terasa aneh.  Tetapi  lagu itu cocok bagi mereka yang menolak kemapanan musik kalau mengikuti sejarah musik jazz. Band dengan enam orang personel ini  menyanyikan 4 lagu.
Band Griya sebagai penampil kedua juga memainkan 4 lagu.  Band ini mengusung Jazz fussion juga tak kalah memukau. Griya Band yang berdiri pada 2014 digawangi oleh Ario Prabowo – Drum, Muhammad Rizky Abdullah (Eky) – Electric Bass.Nadya Sella Belansky – Piano, Keyboard, Synth. Faiz Sone – Electric Guitar.  Mereka membawakan sejumlah tembang seperti Griya (lagu sendiri),  Let It Ride (Robert Glasper), Crazy Race (Roy Hargrove),  Together(lagu sendiri),  Lost Direction (lagu sendiri), Moving Forward (lagu sendiri),  Ridagodai (lagu sendiri), serta  Borek (lagu sendiri).
“Ini merupakan penampilan kedua dari Band Griya di Margo City.  Senang  bagi kamu justru  bisa main di Margo Friday Jazz , bisa bertemu teman baru. Di tempat ini  dan bertemu musisi-musisi senior seperti Om Benny likumahuwa,” ujar Muhammad Rizky Abdullah karib dipanggil Eky, bassit Band Griya ketika dihubungi Cendana News.

Kunjungan saya kedua dilakukan pada Sabtu 21 Januari 2017.  Temanya adalah 40 top dan dimulai juga pada pukul 21.00. Karena mengusung lagu pop para penonton jumlahnya mencapai ratusan orang hingga mencapai trotoar.
Pertunjukan musik diadakan di  depan The Old House Cafe digelar hampir setiap hari dengan tema yang berbeda. Hari Senin ada pertunjukan 90’s pada pukul 19.00 di indoor, hari jumat ada pertunjukan Jazz. Rata-rata   pengunjung  antara  lima puluh hingga seratusan orang berkumpul setiap pertunjukkan. Rata-rata pertunjukkan musik baru berakhir menjelang tengah malam.  
“Untuk jazz sudah berlangsung sejak delapan tahun,” ungkap Kang Uge, koordinator komunitas jazz di Margo City ketika dihubungi di tempat terpisah.
Live Music di Margo City, hanya suatu bagian dari kehidupan metropolis di Depok. Menurut pengamat tata kota Yayat Supriatna dari Trisakti, hingga saat ini hanya di Margonda inilah  yang terbangun di Depok. Sayangnya tidak iikuti pembangunan infrastuktur yang lebih memadai, 
Bukan hanya fisik, tetapi juga gaya hidup. Tak heran kawan ini macet karena dipaksa menjadi “Jakarta” Super Kecil (Bersambung)

Jurnalis: Yohannes Krishna Fajar Nugroho/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Yohannes Fajar Nugroho.

Lihat juga...