hut

Sejarah Kota Malang (3) Kota Kolonial Berawal dari Loji

JUMAT 13 JANUARI 2017
MALANG—Sejak abad ke-8 jejak-jejak perkotaan di wilayah yang kini bernama kota Malang sebenarnya sudah mulai hadir dengan munculnya pusat pemerintahan kerajaan yang sekaligus kerajaan tertua di Jawa Timur yaitu kerajaan Kanjuruhan. Jejak-jejak perkotaan tersebut kemudian berlanjut dengan munculnya kerajaan Mataram di abad ke-10 dan kerajaan Singasari pada awal abad ke 13 di sub-sub area kota Malang. 
Alun-alun Bunder dan Balai kota Malang
Dengan demikian sebenarnya jejak perkotaan tidak hanya hadir di satu sub area saja tetapi di tiga sub area yakni sub area barat, sub area utara dan sub area timur kota Malang. Baru setelah masuk 1914 yaitu era kolonial, pusat kotanya ditempatkan di sub area tengah.
Picu perkembangan keramaian di wilayah yang sekarang bernama kota Malang bukan bersamaan waktu dengan mulai hadirnya pemerintah kolonial. Karena ketika Belanda memasuki kota Malang tahun1767 dan kemudian mendirikan bentengnya yang pertama di seberang utara Berantas, wilayah yang sekarang bernama kota Malang boleh dikatakan belum merupakan sentra keramaian. Bangunan-bangunan yang bergaya kolonial masih belum ada. 
Bahkan setelah Belanda memasuki Kota Malang, terjadi pertempuran yang berkepanjangan. Sampai kurang lebih setengah dasawarsa, sekitar empat sampai lima  tahun berturut-turut terjadi pertempuran yang panjang antara Belanda yang didukung Mataram waktu itu, melawan kelompok-kelompok penentangnya termasuk penguasa daerah di Kadipaten Malang diantaranya cucu-cucu dari Untung Suropati, Pangeran Mas dan Pangeran Singasari. Pada masa peperangan tersebut penduduk yang  tinggal di wilayah yang sekarang bernama kota Malang  tersebut berkurang drastis karena banyak yang melakukan eksodus. 
“Belanda sendiri pada saat itu belum berani membangun pemukiman di luar benteng. Sampai kurang lebih 60 tahun setelah tahun 1767 yaitu di awal-awal abad 19 Belanda masih juga tinggal di dalam lingkungan benteng saja,” jelas Arkeolog dari Universitas Negeri Malang (UM), M. Dwi Cahyono kepada Cendana News.
Pengembangan Kota
Baru setelah kurang lebih 60 tahun setelah mendirikan bentengnya yang pertama, Belanda mulai mendirikan bangunan-bangunan yang bergaya kolonial tetapi masih terbatas yakni di sekitar Celaket yang tidak jauh dari benteng.  Pemukirman terjauh  hanya di seberang Berantas yaitu di daerah Oro-oro Dowo bagian timur, tidak sampai jauh-jauh dari benteng karena kondisinya belum betul-betul stabil.
Setelah itu baru kemudian Belanda mulai membangun permukiman bergaya kolonial juga di bagian Selatan setelah kemudian mendirikan benteng (lodgelodji  atau loji) yang kedua di Selatan Barat  alun-alun.  Loji yang ada di Selatan itu dimaksudkan untuk mendukung atau menjaga pemukiman Belanda yang mulai dikembangkan di sekitar wilayah tersebut, yaitu di daerah di sekitar Talun, Tongan, Sawahan dan mulai mendekati pusat pemerintahan pribumi. 
“Pada 1800-an pusat pemerintahan pribumi sudah berada di sub area tengah. Yang mula-mula di Tamenggungan, kemudian bergeser ke barat sekitar wilayah pendopo Kabupaten sehingga Belanda juga mendirikan benteng nya di sekitar pusat pemerintahan pribumi,” ungkapnya.
Pusat keramaian dan sentra perekonomian Belanda pada waktu itu berada di  sekitar daerah Klenteng (Boldy). Baru kemudian sentra perekonomian tersebut bercabang dari yang semula aksesnya hanya utara selatan, kemudian bercabang ke arah barat, apalagi setelah berdirinya pemerintah Kabupaten Malang. Sehingga pusat perekonomian berkembang, yang semula berada di timur kemudian meluas ke arah barat. Sejak itu di tahun 1800-an sub area tengah sudah mulai ramai.
“Jadi sekali lagi meskipun Belanda masuk ke Malang pada 1767 tapi bukan berarti keramaian di Malang sejak itu, tidak. Butuh waktu setengah atau satu abad berikutnya untuk berkembang menjadi keramaian  di  wilayah tengah kota Malang,” terang pria yang juga menjadi salah satu dosen di jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial UM. 
Setelah itu sub area tengah mulai ramai, jumlah penduduk meningkat, bukan hanya penduduk pribumi tetapi juga penduduk non pribumi seperti orang-orang Cina dan Arab, Eropa bahkan orang India dan sejak itu Malang mulai menjadi pusat keramaian. Terlebih lagi setelah munculnya perkebunan-perkebunan swasta di wilayah Kabupaten Malang maka secara ekonomi Malang menjadi bekembang dan menjadi sentra perekonomian. 
Setelah dipandang perlu untuk melakukan pemekaran, kemudian Belanda memutuskan untuk memekarkan kabupaten Malang menjadi dua pemeintahan daerah yaitu Kabupaten Malang dan sejak  1914 itu muncul daerah baru yang berstatus kota praja yaitu kota Malang. Meskipun telah resmi menyandang status sebagai kota praja, Kota Malang sendiri belum memiliki Kantor Balaikota.
“Status administratifnya memang muncul lebih awal, tapi kantor balai kotanya belum ada. Jadi antara pembentukan pemerintahan kota dan memiliki bangunan balai kota itu berjarak kurang lebih satu dasawarsa,” katanya.
Di awal-awal kota Malang di bentuk, Karesidenan masih belum direlokasi di Malang tapi masih di Pasuruan. Sehingga yang ditempatkan di Malang hanya Asisten Residen yang pada saat itu kantornya berada di area yang sekarang menjadi Kantor Pos. Tapi baru pada 1926 pusat pemerintahan Karesidenan digeser dari Pasuruan  ke Malang,  
Karena Malang dinilai lebih layak dan berkembang daripada Pasuruan. Sejak saat itu Malang tidak lagi menjadi sub Karesidenan  tetapi menjadi pusat karesidenan yang bernaman Karesidenan Malang, sedangkan Pasuruan menjadi sub Karesidenan Malang. Tapi itu stelah kira-kira satu dasawarsa lebih setelah terbentuknya kota Malang.
“Perkembangan Malang secara pemerintahan membawa dua dampak. Dampak yang pertama yaitu dimekarkannya Kabupaten Malang menjadi dua pemerintahan daerah yaitu Kabupaten dan Kota Malang, dan  dampak  yang kedua adalah dinaikkannya status Malang dari yang semula hanya menjadi Sub Karesidenan Pasuruan, menjadi Karesidenan,” tuturnya.
Kayutangan, Celaket hingga Belimbing: Keramaian Pertama
Pada awalnya, keramaian di kota Malang hanya berada di kanan kiri jalan besar seperti koridor di sepanjang Jalan Kayutangan, Celaket hingga ke Blimbing. Namun pola tesebut oleh pemerintah Belanda dianggap kurang bagus untuk perkembangan perkotaan karena polanya selalu linier sehingga yang ramai hanya di kanan kiri jalan, sedang daerah yang berjarak dari poros itu menjadi kawasan sepi, sehingga dirasa perlu diubah pola perkembangan perkotaannya. Dari yang semula kecenderungan perkembangan perkotaan aksesnya hanya utara selatan, kemudian perlu dimekarkan ke arah timur barat, walupun terbatas. 
Pengembangan ke timur hanya serbatas sampai sungai Brantas saja. Sedangakan perkembangan kearah barat hanya sampai kali Metro. Oleh karena itu sekitar  1917 dan seterusnya mulai ada penataan wilayah kota dengan mengembangkan kota secara bertahap. Rencana penataan kota Malang tersebut kemudian dirancang dan dikembangkan oleh seorang arsitek bernama Thomas Karsten yang dituangkan kedalam delapan tahap yang disebut 8 Bouwplan (master plan rencana perluasan kota). 
“Sejak itu pengembangan wilayah kota Malang menjadi relatif merata di berbagai penjuru. Kalau yang semula keramaian hanya ada di jalan-jalan poros, menjadi berkembang ke berbagai penjuru. Tidak hanya di Koridor Celaket tetapi juga di sebelah timur Celaket juga mulai berkembang. Terutama setelah pembangunan rel dan stasiun kereta api, maka menjadi semakin meningkat lagi secara perekonomian dan mobilitas penduduk,”terangnya.
Pada awal dibangun, Stasiun Kota Baru tidak menghadap ke Barat tetapi ke timur, karena pada saat itu di Timur merupakan sentra pemukiman militer (Rampal). Namun kemudian setelah Alun-alun Bunder (tugu) dan kemudian di bangun gedung Balai Kota, barulah  stasiun direvitalisasi tidak lagi menghadap ke arah timur tetapi ke arah barat tepatnya arah ke alun-alun bunder.  
Kemudian pada tahap ke dua diperluas kearah selatan  tapi selatan timur yaitu ke arah sekitar alun-alun bunder sehingga akhirnya di bouwplan  pertama dan kedua tersambungkan yang akhirnya muncul pusat keramaian baru yaitu  disekitar alun-alun bunder. Pembangunan Balai Kota, Alun-alun Bunder itu sendiri masuk pada bouwplan ke dua.
Ketika membangun bouwplan yang kedua, juga dikembangkan poros baru dibuat sebuah perempatan dari Alun-alun Bunder ke arah barat menyeberang Brantas yang kemudian dibangun jembatan untuk menyeberang. Sampai kemudian muncul perempatan lagi yang memotong koridor Kayutangan sehingga muncullah perempatan terbesar di kota Malang pada saat itu. 
Setelah perempatan tersebut, poros dilanjutkan ditarik terus ke arah barat sampai di ujungnya jalan Semeru. “Tapi sebenarnya poros ini adalah embrio untuk menyiapkan kawasan baru yaitu sebuah kawasan dengan nama gunung-gunung yang dikembangkan pada dua tahap yaitu di Bowplan kelima dan ke tujuh,” ucapnya.
Tahap pertama yang dikembangkan yaitu yang ke arah selatan, dari mulai Gereja Ijen sampai di sekitar perempatan Bareng. Sedangkan tahap keduanya, mulai dari Gereja Ijen ke arah utara. Namun tahap ini tidak langsung kerjakan  tapi disela atau diberhentikan dulu untuk mengembangkan kawasan yang lainnya.
“Sehingga dari delapan tahap bowplan tersebut, hampir diseluruh penjuru kota Malang mulai kawasan  Timur, Barat, Utara hingga Selatan terkembangkan,” ceritanya.
Namun, setelah tahun 1939, kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda dihentikan total secara menyeluruh. Bukan hanya pembangunan di Malang, tetapi di seluruh Indonesia juga di hentikan. Penghentian pembangunan oleh pemerintah Belanda dikarenakan pada tahun 1939 Perang Asia Timur Raya sudah mulai meletus. 
Oleh karena itu tidak berlebihan jika, daerah yang bernama kota Malang menyandang predikat sebagai kota bersejarah atau kota budaya. Karena perjalanan sejarah yang panjang, jejak-jejak budayanya lintas masa dan itu tidak sedikit tetapi kaya dan beragam. Sehingga predikat kota bersejarah, budaya dan peradaban itu tepat untuk disematkan kepada kota Malang, pungkasnya (habis)

M.Dwi Cahyono
Jurnalis: Agus Nurchaliq/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Agus Nurchaliq
Lihat juga...