hut

Siti Nurlia, “Bu Muslimah” di Pinggir Kota Makassar

KAMIS 26 JANUARI 2017
MAKASSAR–Menjadi guru seharusnya menjadi panggilan hati nuraninya. Demikian ungkap Siti Nurlia, 38 tahun. Aktivis perempuan yang peduli anak ini sangat mencintai pekerjaannya, skealipun ia menjadi guru di tempat yang tjauh dari layak sekolah, di Yayasan An Nur di kawasan Rakopalling, di pinggir Jalan Tol Reformasi. 
Siti Nurlia.
Untuk menjadi pendidik banyak lika-liku yang dialami perempuan kelahiran Palu 24 September 1979. Anak ke 3 dari 6 bersaudara dari pasangan  Hj. Hadra dan H.Satta hidup berpindah-pindah. Begitu juga sekolahnya mulai dari SD di SD Tarailu hingga Alliyah di Mangkoso. 
Alhadulillah dari hasil tani milik orang tua saya sehingga saya dan saudara-saudara saya dapat melanjutkan ke perguruan tinggi,” ujarnya kepada Cendana News, Kamis (28/1)
Setelah menyelesaikan sekolah Alliyanya, Siti Nurlia melanjutkan kuliahnya di IAIN yang kini telah menjadi UIN Alaudin Makassar. Setelah kuliah ibu Nurlia mengawali karirnya dengan masuk organisasi DDI (Darul Da’wah wal Irsyad) dan juga PMII yang badan otonomnya merupakan NU. setelah selesai menjadi mahasiswa Nurlia menjadi wakil Ketua di BKPM (Badan kordinasi pemberdayaan masyarakat) RI tingkat Kota Makssar. 
Setelah selesai menjabat menjadi di BKPM Nurlia menjadi pengurus di organisasi pemberdayaan anak dan perempuan sekaligus menjadi pemerhati anak. Tidak sampai di situ saja sepak terjang dari Bu Nurlia setelah kepengurusannya di organisasi penberdayaan perempuan dan anak. Dia kemudian mengikuti sejumlah aktivitas mulai dari PAUD, Fatayat, hingga pengurus MUI. Dari Sejumlah organisasi tersebut dan pengalamannya Ini yang kemudian menjadi acuannya untuk lebih jauh bergerak dan sebagai motivasi bagaimana caranya dalam mengurus anak-anak.
Nurlia dan suaminya Drs. Muhamad Iliyas kemudian mendirikan Yayasan An Nur yang tempatnya diambil dari sebagian rumah kediamannya. “Saya miris melihat anak-anak di Makassar  yang sebagian besar menghabiskan waktu dijalan sehingga ia terketuk untuk menjadi pengajar bagi anak-anak yang membutuhkan perhatian,” kata Nurlia. 
Baca:
Sedangkan di mata tetangganya Nurlia bukan cuma seorang pengajar yang baik tapi juga ia seorang tetangga yang baik. Marwiah (62) mengatakan,”Saya bersyukur Bu Nurlia tinggal dilingkungan ini tidak hanya anak kecil yang diajar tapi juga kami yang dewasa banyak pengetahuan agama yang diajarkan.”
Hampir 75 persen anak di Yayasan An-nur hapalan dan pengetahuanya tentang agama sangatlah baik. Dan juga yayasan ini sering mendapat juara dan penghargaan dalam bidang seni. Selain itu juga Nurlia sering menjaga komunikasi dengan para alumninnya yang tinggal di sekitar lembaga pendidikannya.
Saat ini ia sudah di karuniai anak 4 buah pernikahannya dari Drs. Muhamad Iliyas. Yang saat ini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan juga di pesantren sedangkan anak bungsunya masih duduk di kelas 2 SD. Ketika ditanya mengapa ia mau mengorbankan hidupnya untuk anak jalanan, bahkan menyisihkan penghasilannya sendiri. “Tidak menjadi soal hidup dalam kesederhanaan, asalkan hidup bisa bermanfaat bagi orang banyak,” katanya.
Jurnalis: Nurul Rahmatun Ummah/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Nurul Rahmatun Ummah
Jurnalis: Nurul Rahmatun Ummah/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Nurul Rahmatun Ummah
Lihat juga...

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

» www.escortantalyali.com