hut

Tak Ingin Jadi Beban, Nando Bantu Kakek Operasikan Traktor

SELASA, 24 JANUARI 2017

SOLO — Siang itu, di tengah teriknya matahari, ada aktivitas di sebuah lahan pertanian  di sebuah kampung kecil wilayah Karanganyar, Jawa Tengah, yang mencuri perhatian. Seorang petani kecil tengah menggarap sawah dengan mesin traktor. Bocah lelaki yang saat ditemui mengenakan kaos hijau penuh lumpur  dan bertopi itu tampak cekatan mengemudikan traktor roda dua.

Nando. bocah 10 tahun tangkas mengoperasikan traktor.

Sebut saja, namanya Nando. Bocah usia 10 tahun ini mengaku sudah terbiasa dengan mesin penggarap sawah (traktor) yang tengah dioperasikannya. Berbeda dengan kebanyakan anak-anak seusianya, ia lebih memilih berjibaku dengan lumpur ketimbang bermain layang-layang maupun bermain bola. “Ini untuk membantu kakek,” ucap polos bocah dengan nama lengkap Ardhi Nando Maryanto, saat ditemui Cendana News, Selasa (24/1/2017).

Meski hampir setiap hari selalu terjun ke sawah, Nando mengaku tidak melupakan kewajibannya untuk belajar. Setiap pagi, ia masih berangkat ke sekolah untuk mengenyam pendidikan di bangku Kelas IV Sekolah Dasar “Setelah pulang sekolah atau waktu libur, biasanya baru membantu kakek menggarap sawah,” katanya.

Setiap kali membantu kakeknya dengan mengoperasikan traktor,  Nando yang tinggal di Desa Wonolopo, Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar, itu mengaku mendapatkan upah Rp. 50.000. Nando juga mengaku senang,  karena bisa membantu sang kakek. Ia juga mengaku tidak berat saat mengoperasikan  mesin traktor, karena hanya tinggal menggaru (menghaluskan tanah -red) saja. “Uangnya sebagian ditabung, sebagian untuk jajan,” paparnya.

Nando, bergaya dengan traktornya.

Sangking senangnya, mesin traktor yang beratnya 10 kali lipat dari berat badan Nando dibuatnya seperti mainan mobil.  Ia juga tampak ceria dan menikmati aktivitas yang seharusnya dikerjakan orang dewasa tersebut.  Tak khayal, pekerjaan itu membentuk tubuh Nando menjadi  berotot dan kencang. “Senang karena bantu kakek bisa dapat uang sendiri untuk jajan,” akunya.

Sementara itu, salah-satu tetangga Nando, Angga Rohmad Solikhin, mengatakan, pekerjaan berat itu dilakukan Nando karena tidak ingin menjadi beban bagi kakeknya. Pasalnya, sejak usia 5 tahun Nando sudah  yatim, karena ayahnya meninggal dunia.  Tragisnya, ayahnya meninggal saat bekerja menggali sumur bersama adiknya, yang saat itu berusaha menyelamatkan sang ayah. “Sejak itu, ibunya menikah lagi dan sepertinya ayah tirinya agak tidak cocok dengan Nando. Akhirnya, Nando pilih tinggal dan diasuh oleh kakek-neneknya,” jelas Rohmad.  

Menurut Rohmad, Nando dikenal sebagai sosok anak  yang selalu ceria dan pandai bergaul dengan siapa saja. Dengan teman sebayanya, Nando bisa bercanda dan bermain bersama. Demikian pula dengan orang yang lebih tua darinya, Nando juga pandai menyesuaikan. “Tapi  ia tetap seperti anak-anak lainnya yang ingin uang jajan. Karena tinggal dengan kakeknya, ia dapat uang jajan dari membantu kakeknya. Nando tidak pernah minta uang jajan dari ibu maupun ayah tirinya,” pungkasnya.

Jurnalis : Harun Alrosid / Editor : Koko Triarko / Foto : Harun Alrosid

Lihat juga...