Ada Sinar di Sela Para Buruh Laki-laki

65
SENIN 6 FEBRUARI 2017

MAKASSAR—Hari sudah siang  ketika saya di tepi Jalan Ujung Pandang, Kota Makassar dan melihat sekitar sepuluh buruh tampak sedang memplester trotoar. Sepintas suatu pemandangan yang lazim di mata saya, kalau saja tidak ada seorang perempuan mengangkat ember berisi pasir bercampur semen. Kaki perempuan  itu kotor dan kulitnya pecah-pecah lazimnya kaki yang terkena semen dan pasir.
Sinar sedang melakukan pekerjaan plester  pada permukaan trotoar.
Namanya Sinar (27)  merupakan satu-satunya buruh perempuan  di antara laki-laki yang bekerja memperbaiki trotoar jalan itu. 
“Saya tidak malu bekerja seperti ini yang penting halal,” katanya kepada Cendana News sembari terus melakukan pekerjaannya Senin Siang saat berbincang(6/2/2017).
Sinar dan suaminya sudah 5 bulan memperbaiki trotoar Jalan Ujung Pandang. Walaupun suaminya sudah bekerja, Sinar tetap bekerja menjadi buruh demi membantu suaminya. Mereka berdua bahu membahu memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Menjadi buruh  sudah beberapa tahun ini dia lakoni. Pekerjaan mengaduk semen dan mengangkat beban berat sudah biasa dia lakukan. Sinar tidak pernah mengeluh dengan semuanya itu.
Sinar melakukan pekerjaan seperti ini, dikarenakan tidak  memiliki ijazah untuk melamar pekerjaan yang lebih layak. Dengan tenaganya itu dia diberi upah sebesar Rp75 ribu per harinya.
Tak hanya itu karena dia merupakan satu-satunya pekerja perempuan di situ, terkadang dia juga suka diganggu oleh teman seprofesinya. Bagaimana tidak wajah Sinar memang cukup cantik untuk menjadi seorang buruh.
Terlebih lagi penampilannya juga cukup fashionable, tidak seperti buruh kebanyakan yang memakai baju lusuh dan kumal. Namun beruntung suaminya selalu menjaganya, 
Satu-satunya niat yang membuatnya terus bertahan seperti ini, dia ingin mengumpulkan uang untuk ketiga anaknya, agar terus bisa sekolah hingga dia tidak menjadi seperti dirinya dan suaminya. Sinar dan suaminya bekerja dari pagi hingga sore harinya, bahkan menjelang mahgrib. Mereka bekerja setiap hari, tanpa libur hingga proyek perbaikan trotoar selesai.

Selama mereka bekerja dua anak mereka dititipkan di rumah neneknya dan seorang ikut mereka. Sementara anak mereka yang berusia empat tahun ikut mereka di tempat pekerjaan. Ketika bapak dan ibunya bekerja bocah laki-laki itu iseng hilir mudik, namun tak jauh dari orangtua mereka. “Anak ini kalau ditinggal menangis,” cetus Sinar.

Mereka tidak tahu sampai kapan mereka bekerja seperti itu. Pekerjaan seperti mereka bergantung adanya proyek dan belum tentu selalu ada,

Jurnalis: Nurul Rahmatun Ummah/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Nurul Rahmatun Ummah
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.