banner lebaran

Anak Sekolah Lampung Bantu Nelayan Menyortir Ikan

56
RABU 15 FEBRUARI 2017
LAMPUNG—Anak usia sekolah Desa Ketapang Laut, Kecamatan Ketapan Kabupaten Lampung Selatan punya kegiatan mengisi liburan. Mereka membantu para nelayan pemilik jaring yang dikenal dengan jaring 88 di wilayah tersebut. 
Anak anak membantu nelayan saat liburan.
Siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Islamiah Ketapang,seperti  Wahyu (8), Aksai (10), Tia (9), Lani (8) dan beberapa anak usia sekolah yang memiliki orangtua nelayan memanfaatkan waktu liburan dengan mencari tambahan uang jajan di gudang pendaratan ikan nelayan tangkap ikan jenis ikan bilis,layur dan ikan lapan lapan.
Wahyu yang duduk di bangku sekolah kelas 2 MI tersebut mengaku saat hari biasa sekolah dirinya biasa menuju gudang saat para nelayan jaring meminggirkan perahu dan membawa ikan untuk disortir. Sebelum libur Wahyu dan beberapa anak anak seusianya akan membantu menyortir ikan dan melepaskan ikan jenis lapan lapan dan ikan lain yang terkena jaring sebelum dikumpulkan dan disetor kepada para pengepul. 
Setiap hari sepulang sekolah anak anak tersebut mendatangi gudang dengan harapan bisa mendapat upah untuk tambahan uang jajan dengan upah Rp10.000 hingga Rp15.000 perjaring sehingga saat jaring yang diangkat cukup banyak anak anak tersebut bisa memperoleh upah sekitar Rp30.000 perhari.
“Liburan kali ini kami sudah sejak pagi membantu nelayan karena jaring sudah naik sejak pagi daripada main main liburan kami gunakan untuk membantu nelayan menyortir ikan.  Kami mendapat uang jajan,” ungkap Wahyu saat ditemui Cendana News di gudang ikan Desa Ketapang Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan,Rabu (15/2/2017.)
Aktivitas menyortir ikan atau dikenal masyarakat di wilayah tersebut dengan “Ngegibrik“ yang mayoritas bersuku Jawa Serang (Jaseng) ditekuni oleh masyarakat nelayan baik yang ikut melaut maupun tidak melaut bahkan oleh anak anak karena aktifitas ngegibrik pada jaring sepanjang 200 meter yang tersambung sambung hingga 500 meter kerap membutuhkan tenaga kerja cukup banyak.
Wahyu dan Aksai hanyalah satu dari anak anak yang bekerja di gudang gudang pendaratan ikan jenis lapan lapan. Menurut Hendrik (30) salah satu pemilik kapal jenis payang mengaku saat musim sepi ikan jenis lapan lapan dirinya memperoleh ikan tersebut hanya sekitar 2 kuintal akibat kondisi cuaca berangin dan bergelombang sepanjang  Januari hingga Februari ini. Meski demikian ikan jenis lapan lapan yang cukup bernilai  tersebut diakui Hendrik melimpah pada November hingga Desember bahkan dirinya bisa mendapatkan ikan sebanyak 4 kuintal hingga 5 kuintal sekali melaut dari pukul 6 pagi hingga pukul 11 siang.
Harga ikan jenis lapan lapan yang dijual ke salah satu bos bernama Yuliana dijual dengan harga Rp5.000 per kilogram tersebut selanjutnya direbus dan dijemur hingga kering dan dijual ke sejumlah pasar lokal dan pada jenis ikan lapan lapan yang dibersihkan sebagian diekspor ke Jepang.
Sebagian nelayan di wilayah Kecamatan Ketapang sebagian juga berprofesi sebagai nelayan bagan bahkan diantaranya memiliki cold storage (lemari pendingin) ikan sebelum dikirim ke sejumlah tempat pembuatan ikan. Namun karena ikan jenis teri dan ikan lapan lapan hanya muncul dimusim musim tertentu membuat sebagian pemilik cold storage membiarkan mesin pendingin yang ada mangkrak dan tak digunakan. Mangkraknya mesin cold storage tersebut sebagian juga terjadi akibat warga sebagian melakukan pengolahan ikan rebusan dan mengolahnya menjadi ikan asin rebus.
Pada saat musim hasil tangkapan membaik dengan mencapai hasil sekitar 5 kuintal tenaga kerja padat karya yang semula hanya membutuhkan tenaga kerja sekitar 5-8 orang bahkan bisa membutuhkan tenaga kerja hingga 10 orang dan membutuhkan waktu hanya sekitar dua jam.
Hendrik mengungkapkan tenaga kerja anak anak yang membantu proses “ngegibrik” tersebut rata rata bukan permintaan para pemilik jaring melainkan hanya membantu. Namun sebagai bentuk ungkapan syukur para pemilik jaring yang beromzet dari mulai Rp500 ribu hingga Rp2 juta per hari tersebut tetap memberikan upah kepada anak anak tersebut.
“Anak anak ini sebagian anak Yatim daripada bermain lebih baik ikut membantu kami dan upah digunakan untuk jajan saat sekolah dan orangtua mereka tidak melarang untuk bekerja,” terang Hendrik.
Seusai membantu menyortir ikan di jaring milik Hendrik, anak anak tersebut langsung membantu menyortir ikan pemilik jaring lain. Membantu pemilik jaring lain menjadi tambahan upah bagi Wahyu dan kawan kawannya bisa membawa pulang uang sekitar Rp10 ribu dan bisa dipergunakan untuk uang jajan yang bisa dipergunakan untuk sekolah.
Hendrik salah satu pemilik jaring.
Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.