Arwana Golden Red Tanpa Dokumen, Diamankan KI dan KSKP Bakauheni

179
SENIN, 13 FEBRUARI 2017

LAMPUNG—Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu (SKIPM) dan keamanan hasil perikanan kelas I Bandarlampung wilayah kerja Bakauheni, mengamankan sebanyak 6 ekor ikan arwana jenis golden red yang akan dibawa dari Provinsi Riau tujuan Jakarta. Ikan hias berharga tinggi tersebut, diamankan oleh petugas Karantina Ikan (KI) dan kepolisian karena tidak membawa dokumen karantina ikan yang dipersyaratkan untuk media pembawa produk perikanan.

Kepala Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Lampung, Suardi, S.Pi., MP., M.Si.

Menurut Kepala Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Lampung, Suardi, S.Pi., MP., M.Si. menyebutkan, sebanyak 6 ekor ikan arwana jenis golden red (scleropages formosus) asal Pekanbaru tersebut, dibawa mengggunakan 1 box busa warna putih yang di dalamnya berisi sebanyak 1 plastik, 1 ekor ikan arwana. Sementara, satu kardus lain berisi plastik yang di dalamnya berisi ikan arwana dan empat ekor arwana lainnya diletakkan dalam kantong plastik di dalam kardus. Dua ikan arwana jenis golden red tersebut bahkan telah teregistrasi di Cites Registration dengan Nomor.A-M-168, dimiliki oleh Edi Kristianto dan Didik Nugraha.

“Petugas kepolisian sektor kawasan pelabuhan Bakauheni mengamankan dalam razia rutin di pintu masuk Pelabuhan Bakauheni di kendaraan ekspedisi yang akan menyeberang menggunakan kapal. Saat diperiksa di dalamnya ternyata berisi ikan dilindungi jenis arwana. Selanjutnya diserahkan ke Karantina Ikan,” ujar Suardi, saat menerangkan kronologis pengamanan beberapa ekor ikan arwana tersebut kepada Cendana News di kantor Karantina Ikan wilayah kerja Bakauheni, Lampung Selatan,  Rabu (13/2/2017).

Sebanyak 6 ekor ikan tersebut, ungkap Suardi, diamankan dalam kendaraan ekspedisi paket PT Eka Sari Lorena (ESL). Tidak dilengkapi dokumen surat angkutan tumbuhan dan satwa dalam negeri (SATS-DN), Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH ) dari daerah asal serta dokumen karantina ikan yang dipersyaratkan untuk melalulintaskan komoditi perikanan tersebut. Pemeriksaan kelengkapan dan kebenaran isi dokumen terhadap media pembawa, hanya ditemukan resi pengiriman atas nama Bow Chan Tjuang warga Pekanbaru  dengan tujuan Aris Darminto di Kota Cirebon. Penerimanya Didik Nugraha. Sementara pada paket lainnya dengan nama pengirim Bow Chan Tjuang  akan dikirim kepada penerima Edi Kristanto di Sidoarjo Jawa Timur dan tertera nama Didik Nugraha sebagai penerima barang di Ciamis Jawa Barat.

Berdasarkan keterangan Suardi, ikan hias yang masuk jenis predator ini merupakan jenis ikan arwana paling mahal di Indonesia dengan kisaran harga Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta dari mulai ukuran 10 cm hingga 15 cm. Berdasarkan perhitungan tersebut diperkirakan ikan arwana tersebut senilai 9 juta rupiah.

Pengiriman sebanyak 6 ekor ikan arwana jenis golden red yang dilindungi tersebut, menurut Suardi, S.Pi., MP., M.Si menyalahi Undang-undang nomor 16 tahun 1992 tentang Karantina Ikan dan Tumbuhan, Undang-undang Nomor 31 tahun 2004 tentang perikanan, sebagaimana telah diubah dengan undang-undang nomor 45 tahun 2009 serta Peraturan Pemerintah nomor 15 tahun 2002 tentang Karantina Ikan.

Selain itu, pengamanan ikan arwana tersebut secara khusus melanggar pasal 5, 6, 7 Undang-undang nomor 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan karena media pembawa tidak dilaporkan pada petugas karantina di pintu pengeluaran. Selain itu, dalam perlalulintasan media pembawa tersebut tidak dilengkapi dokumen yang dipersyaratkan karantina ikan.

Seusai pemeriksaan, puluhan ekor ikan arwana jenis golden red tersebut, terang Suardi, selanjutnya diamankan di instalasi karantina ikan. Penanganan dilakukan dengan memberi pakan serta pengaturan aliran air dalam aquarium karena ikan hias jenis arwana perlu mendapat perawatan khusus. Sementara ini, menurut Suardi, akan dilakukan koordinasi dengan pemilik dan penanganan lebih lanjut. Sementara, jika telah memiliki keputusan hukum tetap terkait ikan Arwana tersebut, yang tidak bisa melengkapi dokumen sesuai prosedur setelah dikarantina, ikan-ikan arwana tersebut selanjutnya akan diserahterimakan ke Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (PSPL) Serang Banten, Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Petugas yang berhasil menyita ikan arwana tanpa dokumen.

Upaya menekan penyelundupan komoditas perikanan tersebut juga telah dilakukan pihak Karantina Ikan dengan selalu melakukan koordinasi bersama pihak Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheni. Sepanjang tahun 2017 atau kurun dua bulan terakhir ini, terang Suardi, untuk menekan perlalulintasan media pembawa atau produk perikanan tanpa dokumen yang dipersyaratkan, Karantina Ikan Bakauheni dari Januari hingga Februari ini telah mengamankan media pembawa berupa gelembung ikan sebanyak 3 koli. Gelembung ikan atau lupe ikan dengan berat sebanyak 15 kilogram itu dari Palembang Sumatera Selatan. Selain itu, Karantina Ikan Bakauheni juga berhasil mengamankan sebanyak 2 ekor kura- kura jenis kaki gajah (manouria emys emys) asal Palembang yang merupakan jenis satwa yang dibatasi.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Baca Juga
Lihat juga...