Berburu Pakaian Bekas Saban Minggu di Sekitar TPI Alok Maumere

MINGGU, 5 FEBRUARI 2017

MAUMERE –  Pakaian bekas atau warga pulau Flores dan NTT biasa menyebutnya RB singkatan dari rombengan masih diminati masyarakat kelas menengah dan kelas bawah di wilayah ini, termasuk di kabupaten Sikka.

Pembeli memadati pasar dadakan pakaian bekas

Saban hari, los-los pakaian bekas yang merupakan salah satu los aneka sangan bekas pakai yang terbesar di Flores bertempat di pasar Alok Maumere selalu ramai dikunjungi masyarakat yang ingin memiliki pakaian, sepatu, tas dan kasesoris lainnya dengan harga terjangkau.

Setiap hari Minggu, los pakaian bekas seakan berpindah ke jalan Ikan Tongkol di lokasi depan Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Alok Maumere yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari dermaga yang menjadi tempat bersandar kapal-kapal ikan. Terdapat ratusan pedagang yang berjualan di tempat ini.

“Hampir setiap minggu saya selalu datang mencari pakaian dan tas di tempat ini sebab selain harganya murah, kualitasnya pun lumayan bagus  dan masih layak dikenakan,” ujar Fransiska Nona.

Warga Maumere ini saat ditemui Cendana News Minggu (5/2/2017) terlihat asyik membolak-balikan tumpukan pakaian bekas khusus perempuan yang diletakan di tanah yang dialasi terpal biru. Siska sapaannya mengaku mengajak tetangganya saban minggu ke tempat ini usai pulang dari gereja.

“Pulang misa di gereja kami langsung kesini untuk belanja ikan dan sayur sekalian bisa melihat-lihat pakaian bekas dan kalau ada yang cocok kami langsung beli,” sebutnya.

Selain pakaian, sepatu bekas dan mainan anak-anak pun dijual di tempat ini

Hal senada juga disampaikan Donatus Bendi warga Maumere lainnya yang ditemui sedang melihat-lihat celana jens bekas yang digantung di tiang-tiangg kayu di halaman tanah kosong depan TPI Alok. Natus sapaannya mengaku selalu mampir ke tempat ini setiap minggu untuk melihat-lihat pakaian bekas dan siapa tahu ada yang pantas untuk dibeli.

Penjual ikan ini pun mengakui, selain membeli ikan di TPI untuk dijual lagi menggunakan sepeda motor di kampung, dirinya sering membeli baju kaos rombengan sebab harganya terjangkau kantongnya yang memiliki pendapatan 50 sampai 100 ribu sehari.

“Kalau ada uang saya bisa beli tiga hingga empat potong baju kaos untuk dipakai saat berjualan ikan keliling kampung menggunakan motor,” ungkapnya.

Natus mengaku tidak malu membeli pakaian bekas sebab kualitasnya juga masih layak dikenakan dan modelnya pun tidak ketinggalan zaman. Kalau baju kaos biasanya dijual lima hingga 10 ribu rupiah satu potong sementara celana jeans bisa 20 hingga 25 ribu rupiah sepotong.

Nurlela pedagang baju wanita bekas mengatakan, bila berjualan di lokasi ini bisa mengantongi pendapatan 300 hingga 500 ribu rupiah sejak pukul 05.30 sampai 10,00 WITA,

“Kalau disini banyak yang belanja, soalnya mereka biasanya membeli ikan dan sayur sekalian belanja baju. Tapi sekarang yang beli banyak anak—anak remaja perempuan,” terangnya.

Biasanya satu orang perempuan bisa mengeluarkan uang 20 hingga 50 ribu rupiah sekali berbelanja sebab Nurlela menjual baju kaus dan kemeja perempuan seharga 10 ribu rupiah dan ada yang dilego tiga potong 20 ribu rupiah.

“Ada juga yang kami jual lima ribu rupiah untuk satu potong pakaian dan biasanya kalau pakaian anak-anak biasa dijual 20 ribu rupiah untuk tiga potong pakaian,” ungkapnya.

Para pembeli pakaian bekas yang memadati halaman depan TPI Alok Maumee

Disaksikan Cendana News, saat berkunjung ke tempat ini pukul 08.00 WITA, meski dilarang oleh Satpol PP, beberapa pedagang yang menggelar dagangan di dalam areal tanah kosong depan pelabuhan di sebelah selatan tetap menggelar dagangan dan beralasan mereka hanya berjualan seminggu sekali di tempat ini sehingga berharap Satpol PP pun memakluminya.

Jurnalis : Ebed de Rosary / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary

Komentar