Bermodalkan Golok dan Pisau, Barang Bekas Jadi Karya Seni

211

MINGGU, 12 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Bagi sebagian orang, barang bekas kerap tidak diperhatikan apalagi dimanfaatkan. Namun bagi Sungkowo Wijaya (34) warga Dusun Parit 5 Desa Berundung Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan ini barang bekas justru menginspirasinya untuk menciptakan karya karya seni yang berguna.

Proses pewarnaan miniatur perahu

Berawal dari kecintaannya pada seni, terutama grafiti. Saat di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) sudah kerap melukis di kamar, dinding bangunan. Selanjutnya saat dirinya bersekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA) bakat seninya semakin menjadi-jadi dengan semakin banyaknya pesanan dari kawan untuk melukis di dinding beberapa lokasi dengan hanya diberi upah sekedarnya.

Bekal jiwa seni tersebut hingga dirinya menikah tahun 2011 tetap dipertahankan dan sempat membuat sang isteri, Titik (22) mengeluhkan pekerjaan yang terkadang tidak dihargai orang. Namun seiring dengan karya seni yang diunggah di jejaring sosial facebook membuat dirinya semakin dikenal mendapat pesanan untuk mengecat dinding di beberapa cafe, toko di wilayah Kecamatan Ketapang dan juga komunitas pecinta kendaraan modifikasi.

“Hasil karya seni saya dalam bidang seni lukis mural dan pewarnaan kendaraan semakin dikenal di jejaring sosial facebook dan ternyata pekerjaan saya memberi penghasilan bagi keluarga,” ungkap Sungkowo Wijaya saat ditemui Cendana News di beranda rumah sekaligus lokasi workshop untuk membuat beragam benda benda seni buatannya, Minggu (12/2/2017).

Diungkapkannya, hasil karyanya dihargai hingga Rp500.000 per bidang dan pernah membawa pulang uang hingga Rp.6 juta dalam tiga hari. Namun hal tersebut tidak membuatnya puas diri, justru memikirkan ide ide cemerlang.

Sebagai desa yang berdekatan dengan dermaga dan pantai membuat dirinya terinspirasi untuk membuat karya seni berupa miniatur perahu. Hasil karyanya mulai diminati dan pesanan mulai berdatang, diantaranya sekolah, instansi serta beberapa peminat karya seni terbuat dari bambu tersebut.

Proses pembuatan karya seni terbuat dari bambu tali tersebut masih menggunakan alat alat sederhana. Bermodalkan Golok dan pisau, bambu yang diperolehnya dari kebun miliknya dan sebagian merupakan bambu bambu sisa pakai disulap menjadi perahu tradisional mini yang banyak digunakan nelayan di wilayah pantai Timur Lampung.

“Selain perahu saya juga membuat miniatur rumah panggung yang merupakan ciri khas warga nelayan di pesisir Timur Lampung. Saya ingin mengangkat kearifan lokal masyarakat nelayan di sini,”terang Sungkowo.

Miniatur perahu yang telah selesai dibuat diakui Sungkowo kini dijual dengan harga berkisar Rp200ribu untuk ukuran kecil hingga Rp500ribu untuk miniatur perahu berukuran besar. Sementara miniatur rumah panggung dijualnya dengan harga Rp750ribu hingga Rp1juta tergantung tingkat kerumitan proses pembuatan.

Beberapa benda seni yang dibuatnya selain miniatur perahu diantaranya lukisan timbul menggunakan triplek yang mulai banyak dipesan oleh kawan kawannya sesuai dengan permintaan.

“Awalnya banyak yang iseng ingin dibuatkan dengan memesan melalui Facebook selanjutnya banyak yang memesan untuk dijadikan pajangan dan souvenir,”ungkap Sungkowo.

Sebagian perahu yang saat ini tengah dibuatnya juga merupakan pesanan dari sebuah instansi yang akan dipergunakan sebagai souvenir dari wilayah Kecamatan Ketapang. Sementara itu penggunaan bahan bekas diantaranya dari kaleng minuman ringan untuk pembuatan miniatur sepeda serta miniatur kendaraan lain.

Sungkowo menjelaskan, saat ini tengah melatih pemuda setempat dalam bidang seni air brush, mulai dari tekhnik pewarnaan hingga sudah bisa membuka galeri. Potensi tersebut saat ini akan diwadahi dalam bentuk paguyuban seni yang bisa meningkatkan perekonomian warga sekitar dengan pembuatan miniatur perahu, lukisan serta karya mural di dinding.

Beberapa pemuda yang mulai dilatih membuat miniatur perahu di Desa Berundung diakui Sungkowo diharapkan akan membentuk karya seni tidak hanya miniatur perahu melainkan karya karya seni lain yang memiliki nilai seni tinggi. Beberapa pemuda bahkan berencana membuat karya seni dari batok kelapa serta bahan bahan bekas lainnya.

Sebagai proses pengambangan seni tersebut dalam waktu dekat bersama pemuda pemuda setempat Sungkowo mengaku telah sepakat untuk membuat galeri seni yang digunakan untuk menjual souvenir karya karya seni tersebut. Selain untuk ruang pamer (display) galeri tersebut juga menjadi tempat menampilkan karya karya seni yang dibuat oleh para pemuda Berundung.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.