BKP Lampung Bongkar Kiriman Madu Lewat Bus

71

JUMAT, 17 FEBRUARI 2017
LAMPUNG — Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Bandarlampung wilayah kerja Pelabuhan Bakauheni berhasil mengamankan sebanyak 14 jerigen berisi madu asal Teluk Kuantan Provinsi Riau yang akan dibawa dari Sumatera menuju Pulau Jawa melalui Pelabuhan Bakauheni. Menurut Drh. Azhar, penanggung jawab kantor BKP Lampung wilayah kerja Pelabuhan Bakauheni, komoditas madu hutan tersebut diamankan oleh petugas karantina dalam pemeriksaan rutin di pintu masuk Pelabuhan Bakauheni.

Drh. Azhar, penanggung jawab kantor BKP Lampung wilayah kerja Pelabuhan Bakauheni.

Drh. Azhar mengungkapkan kronologi pengamanan madu tanpa dokumen tersebut terjadi saat petugas melakukan pemeriksaan kendaraan bus penumpang antarkota antarprovinsi (AKAP) PO. HANDOYO dengan nomor polisi AA 1458 DA. Saat diperiksa di bagian bagasi bus penumpang tersebut, petugas berhasil menemukan sebanyak 24 karung berisi madu yang ada di dalam jerigen. Namun saat diperiksa hanya sebagian yang memiliki dokumen karantina sesuai yang dipersyaratkan.

“Saat kita periksa manifes surat pengiriman dan dokumen karantina yang dibawa pengemudi tertera hanya sebanyak 10 karung yang memiliki dokumen. Namun sebanyak 14 jerigen lainnya sama sekali tidak berdokumen,” terang Drh. Azhar yang ditemui Cendana News di kantor BKP Bakauheni Lampung Selatan, Jumat (17/2/2017).

Berdasarkan pemeriksaan madu di dalam jerigen dengan masing-masing berat mencapai 53 kilogram tersebut, total keseluruhan mencapai 750 kilogram dan untuk proses pemeriksaan lebih lanjut puluhan jerigen berisi madu terpaksa diamankan di kantor BKP Bakauheni. Pengiriman madu yang dilakukan pengirim madu resmi, selama ini diakui Drh. Azhar rata-rata menggunakan moda transportasi truk untuk membawa madu dari Pulau Sumatera menuju Pulau Jawa.

Saat dilakukan pemeriksaan terhadap pengemudi bus, ungkap Drh. Azhar, pengemudi mengaku membawa madu tersebut dari wilayah Pekanbaru untuk dibawa ke daerah Solo, Jawa Tengah. Meski sebagian memiliki dokumen, namun pengemudi mengaku sama sekali tidak bisa menunjukkan asal dan pemilik madu tanpa dokumen yang dibawa bersama dengan madu lain yang berdokumen.

Drh. Azhar mengakui, pengemudi sengaja dengan menggunakan modus mengirimkan madu diselipkan ke madu-madu seseorang yang sudah resmi melaporkannya kepada pihak karantina. Ketika diperiksa madu-madu tersebut ternyata lebih jumlahnya dari isi dokumen. Berdasarkan keterangan dari sopir bus bahwa betul madu tersebut memang dititipkan pada madu-madu yang resmi.

“Rencananya madu tersebut akan dibawa ke Solo, namun sebagian yang memiliki dokumen kita perkenankan dikirimkan. Sementara yang tak dilengkapi dokumen kita amankan,” terang Drh. Azhar.

Pengiriman madu tanpa dokumen tersebut, ungkap Drh. Azhar, selain menyalahi prosedur perlalulintasan komoditas hasil hutan dan pertanian juga melanggar Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 Tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.

Bus yang membawa madu tanpa dokumen.

Maraknya pengiriman komoditas pertanian tanpa melaporkan ke petugas karantina dan tanpa melengkapi dokumen lain di antaranya surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) serta membayar biaya penerimaan negara bukan pajak (PNBP), membuat karantina terus melakukan operasi rutin di pintu masuk Pelabuhan Bakauheni.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.